Notification

×

Iklan

Iklan

Mengenal Lebih Dekat Sosok Adam Malik

Sabtu, 21 September 2019 | 15.24.00 WIB
Foto: Adam Malik
Adam Malik lahir pada tanggal 05 Juli 1978, di Desa Rupe, Kecamatan Langgudu (dulu Kecamatan Wawo), Kabupaten Bima. Ia merupakan putra ke 3 dari 5 bersaudara yang terlahir dari pasangan Abdul Malik dengan Siti Aisyah (Almarhumah).

Adam ditinggal pergi oleh sang Ibu yang menghadap ke hadirat Allah SWT dalam usia 6 tahun. Kala itu Adam masih duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar (SD). Duka pilu tentunya menyelimuti masa kanak-kanaknya, karena kehilangan kasih sayang sang Ibu dalam usia yang masih relative kecil yang tentunya masih sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua. Namun Adam kecil bersama kedua orang kakak beserta dua orang adiknya tetap tegar hingga bisa tumbuh dewasa menjadi orang yang terpandang.

Selama beberapa tahun Adam bersama kakak dan adiknya hanya bisa merasakan kasih sayang sang Ayah, hingga Ayahnya menikah lagi dengan Ibu Siti Sa’adiah. Dari hasil pernikahan kedua Ayahnya, Adam mendapat empat orang adik lagi.

Adam gemar berolahrga, ia pernah menjadi salah satu pemain bola di club Persatuan Sepak Bola Bima (Persebi). kesehariannya tampak sederhana, tidak banyak bicara dan pekerja keras. Ia memiliki rasa kepedulian dan jiwa sosial yang tinggi. Berangkat dari rasa peduli dan jiwa social yang melekat pada dirinya, sehingga pada tahun 2013 Ia putuskan untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Korea selatan.

Motivasi dasarnya berhijrah ke Korea adalah untuk mencari modal usaha agar bisa berbagi kepada sesama, khusunya yang membutuhkan. Sebelum ke Korea, Adam dipercayakan sebagai pelatih sepak bola Gelombang/Putra Rupe Desa Rupe.

saat ia mengantarkan anak didiknya untuk berlaga di Kecamatan tetangga, ia diperhadapkan dengan sedikit masalah, yakni kesulitan untuk mendapatkan angkutan transportasi yang mengantarkan anak didiknya menuju lapangan pertandingan. Meski akhirnya angkutan transportasi yang dibutuhkan tim sepak bola Gelombang/Putra Rupe Desa Rupe kala itu didapatkan juga setelah kerja keras tim, namun output pertandingannya tidak maksimal.

Kenapa? Karena psikologis tim kala itu yang secara tidak sengaja mendengar perbincangan pemilik mobil, terganggu. Akibatnya, anak didiknya dikalahkan oleh tim pemula yang sama sekali tidak pernah diperhitungkan oleh siapa pun bila dibandingkan dengan anak asuhnya Adam yang sudah diakui ketangguhannya oleh tim-tim Kecamatan lainnya. Semua penonton merasa terkejut melihat kekalahan yang sama sekali tidak masuk akal tersebut, namun bagi sang pelatih (Adam) tidak kaget, karena berdasarkan pengalamannya, ketika kondisi psikis terganggu dan suasana hati kurang baik, maka akan berimbas pada hilangnya kekuatan keseimbangan bagi siapapun yang sedang berkompetisi.

Berangkat dari pengalaman pahit tersebut, sehingga Adam berpikir keras dan membahas persoalan tersebut dengan orang-orang dekatnya, sehingga akhirnya ia putuskan untuk mencari modal usaha ke negara seberang (Korea).

Sepulang dari Korea pada tahun 2016, ia membeli truck untuk usaha jasa angkutan transportasi. Truck tersebut selain digunakan untuk usaha dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga, ia juga memanfaatkan untuk beramal, yakni membantu warga yang membutuhkan, seperti mengangkut gratis kayu bakar bagi warga yang memiliki hajatan pernikahan, do’a selamatan dan kegiatan social lainnya.

Ketika ada warga yang wafat, saat Adam tidak berhalangan, ia selalu hadir pada keluarga yang berkabung untuk membantu meringankan bebannya dengan menawarkan jasa angkutan untuk muatan gratis batu yang dibutuhkan untuk pemakaman, demikian juga dengan kayu penyanggah kuburan.

Seiring dengan berjalannya waktu, Adam berpikir bahwa angkutan transportasi berupa truck kurang praktis untuk mengangkut batu dan kayu, sehingga ia putuskan untuk menggantikannya dengan dumptruck yang lebih praktis untuk bongkar muat angkutan barang.

Sejumlah orang begitu sulit membaca jalan pikirannya, kehidupan yang begitu pelik seperti saat ini ternyata masih ada orang berjiwa sosial yang ikhlas membantu meringankan beban sesama secara gratis. Bahkan tidak jarang orang-orang dekatnya mengingatkan Adam agar bisa mengembangkan usahanya dengan tidak terus-terusan membantu secara ikhlas, tanpa bayaran.

Dan acapkali orang-orang dekatnya Adam merasa tersinggung ketika ada sejumlah oknum yang salah artikan tentang keikhlasannya Adam. Orang-orang dekatnya yang tidak terima dengan wacana miring yang sengaja dimainkan oleh oknum yang berkepentingan dan tidak bertanggung jawab tersebut, selalu membantah dengan memunculkan kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan oleh Adam.

Lalu bagaimana tanggapan Adam menyikapi hal tersebut? Adam malah kurang respek dengan reaksi orang-orang dekatnya, ia mengingatkan agar apa yang pernah ia lakukan itu tidak perlu disebarluaskan. “Tidak usah ditanggapi, cukup Allah yang tahu. Apapun yang kita lakukan tidak perlu orang lain tahu, takutnya nanti malah akan menjadi riya,” ujar Adam, singkat.

Penulis: Ihsan Manta Jaya
×
Berita Terbaru Update