Notification

×

Iklan

Iklan

Konflik Papua dan Pendewasaan Bangsa

Senin, 26 Agustus 2019 | 13.37.00 WIB
Foto: Penulis mengenakan jilbab
Papua kembali menjadi perbincangan karena aksi pengamanan mahasiswa Papua yang ada di Surabaya dan Malang, Indonesia. Aksi yang sayangnya berujung pada aksi demontrasi besar-besaran di sejumlah titik di Indonesia. Dan mirisnya aksi demonstarasi ini berujung rusuh di Monowokari dan Sorong, Provinsi Papua Barat. Isu diskriminasi muncul, menimbulkan pertentangan sosial.

Provokasi muncul dari individu, organisasi dan media yang licik mencoba memisahkan masyarakat Indonesia menjadi dua yakni West Papuan dan Indonesian. Namun konflik itu rupanya bukan memecah belah, malah memperkuat persatuan bangsa dan medewasakan Indonesia.

Apa yang terjadi?
Insiden ini bermula dari ratusan massa beratribut ormas FPI dan Pemuda Pancasila yang mendatangi asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Kedatangan ormas ini dipicu beredarnya foto bendera merah putih yang diduga dibuang ke selokan oleh
mahasiswa Papua.

Dari kejadian tersebut berbuntut pada situasi di Manokwari yang memanas. Aksi juga disertai pembakaran gedung DPR dan MRP Papua Barat. Selain Manokwari, aksi juga digelar di sejumlah kota seperti Jayapura, Bandung, Medan, Makassar dan sejumlah daerah lainnya. Tentu saja hal ini menuai respon yang beragam, apakah kasus ini murni sebuah pelanggrana HAM terhadap mahasiswa yang notabene mengalami persekusi ataukah hal ini merupakan propaganda oleh oknum yang ingin memecah belah masyarakat Indonesia.

Tulisan ini mencoba memberikan sebuah refleksi bagi publik. Apakah kejadian tersebut adalah kejahatan kemanusiaan ataukah setingan pihak yang memiliki kepentingan, dan selanjutnya apa yang harus masyarakat Indonesia lakukan.
Melihat Masalah dengan jernih
Belum selesai aksi protes tidak terima oleh masyarakat Papua atas tindakan tidak menyenangkan yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, permasalahan baru muncul. Kasus yang menyulut emosi masyarakat Papua ini dilatarbelakangi oleh beredarnya video aparat yang mengeluarkan julukan untuk orang Papua sebagai monyet.

Sebutan yang diafiliasikan kepada hewan ini sangat disayangkan bukan saja oleh warga Papua tetapi masyarakat Indonesia.
Aksi protes pun datang dari berbagai kalangan, menyangkan tindakan yang tidak terpuji tersebut yang diduga dilakukan oleh oknum yang sengaja menyebar konten tersebut melalui media sosial. Beberapa tokoh pun angkat bicara, salah satunya datang dari Ketua Lembaga Masyarakat Adat Provinsi Papua Lenis Kogoya meminta aparat penegak hukum menangkap provokator maupun aktor intelektual yang mengakibatkan kerusuhan antara mahasiswa Papua dengan warga.

Menurut Lenis polisi harus membongkar motif mereka membuat kerusuhan.
Lenis juga menghimbau kepada masyarakat untuk tidak terpancing emosi dan memaafkan pihak-pihak yang diduga telah menyampaikan kalimat yang tidak sepantasnya itu. Bagi Lenis kejadian ini adalah upaya adu domba oleh oknum yang sengaja mendesign konflik ini sedari awal.

Jika diingat kembali apa yang terjadi di Surabaya dan Malang hanyalah sebuah kesalahpahaman. Namun oleh oknum tertentu hal ini dimamfaatkan untuk memicu kerusuhan yang lebih besar, dengan menyebar hoak di media sosial. Mereka menggiring opini publik seolah terjadi pelanggaran HAM bagi warga Papua. Konflik kepentingan ini pun berhasil memicu amarah sejumlah.

Pesan Damai dari Penjuru Negeri Untuk Papua
Tak bisa dipungkiri, konflik yang terjadi di Papua saat ini telah melukai hati banyak orang. Bukan hanya warga Papua, tapi mereka yang memang punya kepedulian dan ikatan persaudaraan dengan warga Papua, bahkan semua masyarakat Indonesia yang menjadikan warga Papua sebagai saudara sebangsa.
Hal ini terbukti banyaknya pesan positif yang beredar di media sosial, yang memberikan klarafikasi bahwa apa yang terjadi pada warga Papua juga telah menyakiti hati mereka yang bukan orang Papua. Bagi masyarakat Indonesia, warga Papua tidak ada bedanya dengan warga Indonesia lainnya, sama-sama memiliki hak yang sama. Dan masyarakat sangat menyangkan pihak yang membuat konflik ini menjadi rumit dan menyebarkan kebencian di tengah masyarakat.
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengeluarkan pernyataan, meminta maaf kepada warga Papua atas apa yang terjadi. Bagi Joko Widodo sebagai saudara sebangsa harusnya masyarakat bisa berbesar hati untuk saling memaafkan.

Selain itu, Jokowi menjamin kehormatan dan kesejahteraan warga Papua dan Papua Barat.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansah, juga meminta maaf kepada warga Papua, jika ada tindakan Pemda yang menyakiti warga Papua yang ada di Jawa Timur. Ada Gubernur Sulawesi Selatan dan Jawa Barat yang menyerukan kebaikan untuk tetap mengedapankan persaudaraan.
Selain itu, Gubernur Papua Lukas Enembe menjadi pengah atas konflik ini. Lukas Enembe pun menenui ribuan pendemo dan menyampaikan kepada semua pihak untuk meredam emosi, dan mengedepankan sikap memaafkan. Bagi Lukas mengedapankan perdamaian adalah pilihan yang tepat.

Terkahir, apa yang terjadi di Papua harusnya menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk terus mendewasakan diri dalam menerima perbedaan. Semua pihaknya harusnya mengedapankan dialog bukan pertentangan. Karena, perbedaan jenis rambut, warna kulit, suku dan agama bukanlah penghalang untuk membangun komunikasi dan konfirmasi. Perdamaian dan persaudaraan lebih penting dari apapun.

Artikel ini pertama kali di publikasikan oleh nokeninsight.com dalam bahas Inggris.

Penulis: Annalia Bahar
×
Berita Terbaru Update