Notification

×

Iklan

Iklan

Naluri Pemimpin Pudar karena Kepentingan

Sabtu, 19 Januari 2019 | 11.30.00 WIB
Foto ilustrasi
Penulis : Defisofian Arwon A.Majid

Sifat pemimpin akan memberi pengaruh terhadap keberlangsungan masyarakat dan bangsanya, karena seorang pemimpin adalah nahkoda dalam kapal yang akan mengarungi lautan luas. Ketika seorang nakhoda teliti dan ulet dalam mengendalikan kapalya, maka seluruh penumpangnya akan selamat sampai pada tujuan yang diinginkan, namun apabila seorang nakhoda bersifat semena-mena dan tidak sepenuh hati dalam menakhodai kapalnya, maka akan berakibat fatal terhadap kapal dan para penumpangnya. Demikian halnya apabila kita berbicara pemimpin, langkah dan kebijakan yang ditempuh akan memberi efek terhadap bangsa yang dipimpinnya, tergantung arah dan tujuan yang diemban.


Pemimpin adalah seorang yang dipercayai mampu oleh kelompok dan rakyatnya, sesuai dengan amanah untuk mencapai tujuan bersama. Kendala masa kini iyalah banyaknya para pemimpin yang tidak lagi terkontrol dalam menentukan sikap. Ketika kita mendengar sebutan pemimpin, maka anggapan yang hadir dalam pikiran kita adalah orang yang ditugaskan oleh rakyat untuk merangkai sedemikian rencana serta melaksanakanya untuk kemajuan dan kesejahteraan. Telah banyak kita temui orang-orang yang diamanahkan sebagai pemimpin dalam suatu daerah hanya hadir membawa misi partai, misi kelompok dan bahkan untuk mencapai mimpinya sendiri.


Berbicara kepentingan, ada banyak macam kepentingan, kepentingan kelompok, kepentingan individu dan kepentingan umum dan yang kita bicarakan pada kesempatan ini adalah kepentingan yang diluar dari kepentingan terhadap rakyat. Mestinya ketika menjadi seorang pemimpin bagi rakyat, tidak lagi membawa tujuan partai politik, tidak juga untuk kepentingan sekelompok orang, melainkan menata keadaan masyarakat, baik dari segi ekonomi, infrastruktur, kesehatan, dll.


Menjadi seorang yang bisa memimpin suatu daerah yang besar dan masyarakat yang luas, bukanlah persoalan yang mudah, dan yang hanya mampu mencapainya iyalah orang-orang cerdas, mapan, dan berpemikiran yang luas, sehingga sulit dicara adanya orang bodoh yang memimpin suatu daerah yang besar. Akan tetapi menjadi pertanyaan yang besar dalam pikiran kita penyebab tidak produktifnya seseorang yang sedang memimpin.


Indikasi utama kita adalah kesibukan akan kepentingan tertentu mengakibatkan seorang pemimpin lalai dalam menjalankan amanahnya sebagai tokoh sentral perubahan tatanan masyarakat. Pemimpin adalah orang yang memiliki power tinggi, maka sangat mudah bagi sebagaian orang tergoda terhadap kapasitas yang dimilikinya, akibatnya penyelewengan serta penyalagunaan jabatan sangatlah mudah tercipta.


Sangat sulit dijelaskan ketika seorang pemimpin kewalahan dalam mengelola masyarakatnya, sebab untuk berpikir menjadi pemimpin sudah barang pasti banyak rancangan dan gagasan yang tertata secara runtut sehingga berani untuk tampil menawarkan diri menjadi seorang pemimpin. Lalu dimanakah ide-ide dan gagasan itu hilang? hal yang konyol apabila tidak kondusif lagi dengan zaman, oleh sebab itu keberadaan para pemimpin pada bangsa ini sudah terlalu jauh berlari di luar dari rel kerakyatan. Masa kini, bukan hanya pola kesadaran rakyat yang perlu ditumbuhkan, akan tetapi sifat para pemimpin bangsa ini yang perlu dididik secara bersih.


Rakyat yang maju karena pemimpinnya bersih, bangsa yang kuat karena pemimpinnya perduli terhadap nasib rakyat.


(Defisofian Arwon A.Majid/indikatorntb.com)


×
Berita Terbaru Update