Notification

×

Iklan

Iklan

Pohon-Pohon Kapas

Kamis, 26 November 2020 | 11.59.00 WIB

 

Foto: Ilustrasi (Hoka-Hoka Bento)

Namanya Rumi, umurnya 24 tahun, jenis kelaminnya perempuan, dan agamanya adalah pohon-pohon kapas, ia akan mati besok lusa. Hari itu ia datang kepadaku, memberiku kapas-kapas putih dari utara, memohon ia kepadaku untuk datang ke tempat teduhnya tepat sehari setelah ia meninggal dunia. Ia meminta kepadaku untuk memainkan biola di atas kuburnya.


Setiap hari, ketika matahari sewarna kepiting rebus. Pohon-pohon kapas itu bernyanyi kepada Rumi lalu menebarkan kapas-kapas putih menuju perkampungan. Rumi teduh dalam pangkuannya, lalu Rumi merapal doa-doa yang penuh dengan pengharapan, menentramkan, seperti air yang membilas kebencian. 


Biasanya, ketika purnama sempurna dengan cahaya putih seperti tulang, aku duduk di bawah pohon-pohon kapas ditemani serigala tua yang sedang menghabiskan sisa-sia umurnya. Ia selalu menjilati pipiku ketika melihat Rumi bergelantungan dari ranting ke ranting sembari memakan biji-biji kapas yang kering kehitam-hitaman. Suatu kali, aku pernah menyapa Rumi, tetapi Rumi tidak menghiraukan, ia sedang beribadah kepada pohon-pohon kapas dengan cara-cara yang tidak pernah kulihat sebelumnya. 


Sepertinya Rumi sedang membaca mantra, entah apa. Tetapi ketika mulutnya berhenti mengecap, lalu angin datang mengecupi setiap rerimbun pepohonan. Pohon-pohon kapas itu menghamparkan kapas-kapas putih di bawah bulan purnama, indah. Tidak bisa kuceritakan dengan kata-kata. 


Rumi tersenyum lagi kepadaku, ia memilin kapas-kapas putih itu hingga menyerupai spiral, lalu ia duduk di atasnya kemudian kapas itu membawanya terbang. Rumi seperti elang, ia membumbung di angkasa dengan jubah yang terbuat dari kapas menjuntai ke atas tanah. Serigala tua yang bersamaku itu berkaca-kaca, ia juga terkejut dengan kepergian Rumi ke angkasa. Malam itu aku mengerti, Rumi bukanlah manusia biasa.


Rumi membentangkan kedua lengannya di udara lalu jentik-jentik jemari mungilnya meremas setiap angin yang berlalu lalang. Ia sedang mengendalikan angin, mengatur ke mana arah angin itu dilepaskan. Sehingga angin yang telah dikendalikan dengan jemarinya itu mampu mengirimkan kapas-kapas putih ke tujuan yang telah ditetapkan. 


Kapas-kapas putih berputar di angkasa, sama sekali tidak menyisakan serpihan yang berjatuhan ke atas kepala. Kapas-kapas putih itu terus berputar lalu setelahnya menyebar seperti kawanan merpati, mengambang di angkasa, dan mengikuti mata angin ke setiap penjuru.


Rumi turun dari angkasa dengan pemandangan bulan purnama yang bundar memercikkan cahaya di belakang punggungnya. Ia mendatangiku dengan sebuah tongkat di tangan kanan dan sebuah kitab di tangan kiri. Ia tersenyum, giginya berkilau laksana puam. Tepian tubuhnya bercahaya seperti bulan purnama. Ia adalah kesempurnaan. 


Aku pun mengambil langkah mundur, begitu juga dengan serigala tua. Aku dan srigala itu terpesona sehingga aku tak tahu lagi bahwa seharusnya malam itu adalah malam kesedihanku. Tiba-tiba, Rumi mendekat dan aku kehabisan kata-kata. Ia bertanya, “siapakah namamu?” Katanya lirih. 


Namaku adalah Rama, umurku 24 tahun, jenis kelaminku laki-laki, dan aku adalah warga negara dunia. Biasanya setiap senja aku berjalan di sepanjang jalan kenangan lalu menempa setiap air mata yang jatuh dari setiap mata-mata. Malam ini, aku tidak sengaja singgah berlama-lama di bawah pohon kapas putih dengan membawa kaleng-kaleng sarden yang berisi air mata. 


Rumi menjulurkan tangannya dari dalam jubah. Ia meminta sebotol kaleng sarden yang berisi air mata. Kuberi sebotol air mata yang paling kecil yang berwarna merah. Lalu berkata aku kepadanya. “Rumi, air mata itu adalah air mata kesedihan”

Raut mukanya berubah. Rumi bersedih, tetapi ia menikmati kesedihan itu. Ia bertanya heran, “bagaimana cara mendapatkan kesedihan?” Aku bingung, aku tidak menjawab, aku menggeleng, kucari alasan yang kira-kira tepat untuk menemukan kesedihan. Tapi sia-sia, ternyata aku tolol.


Kelesik dedaunan merambat di atas tanah, langkah kaki Rumi semakin mendekat hingga ujung-ujung jubahnya menyentuh jemari kakiku. 


Srigala tua pun tersenyum, sepertinya ia menikmati kedatangan Rumi yang membawa aroma harum seperti aroma bunga melati. Lagi, Rumi mengulurkan tangannya dari dalam jubah, ia meminta botol-botol sarden yang berisi air mata. 


“Terima kasih, telah datang memberiku tiga botol kesedihan dan kuharap kau datang lagi nanti dengan kesedihan-kesedihan yang lainnya.”

Kutanya padanya, “Rumi, mengapa kau ingin sekali meminum air mata dari boto-botol sarden itu?” Rumi tersenyum lalu ia menawarkan tangannya padaku, ia tarik lembut tubuhku menuju kapas yang berbentuk spiral tadi. Kemudian kapas itu membawa aku dan Rumi terbang ke angkasa. Kami menuju bulan purnama, aku bersebelahan dengan Rumi sementara serigala tua melihat dari kejauhan, ia mengaum-ngaum, tidak terima ditinggal begitu saja.

“Lihatlah!” kata Rumi.


Dua belas detik setelah Rumi merapal mantra, lalu angin pun datang seperti kawanan domba-domba yang tersesat, ia membimbing angin-angin itu lalu meletakkan butiran-butiran kapas di ujung kepalanya. Rumi melambaikan tangannya dengan isyarat yang tak dimengerti oleh mata, lalu angin-angin itu tenang, berjalan ke setiap sudut perkampungan. “Makanlah!” Katanya. 


Rumi memberiku sebutir kapas putih. Tiba-tiba saja dalam sekejam mata aku mendapati diriku telah menyatu dengan perasaan senang yang tak terbayangkan. Barangkali, kapas itu membawa kegembiraan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Sejurus kemudian, aku mengambil sebuah biola dari dalam jubah hitamku, kumainkan biola itu di angkasa dengan latar bulan purnama sempurna yang menghadirkan siluet dua sejoli yang saling mengagumi. Iya, malam itu aku mengaguminya. 


Kekaguman ini memberikan kehangatan, memberikan keindahan pada suara biola yang tak bisa kubayangkan. Suaranya merdu, lamat-lamat mengiringi kesedihan dan kesenangan yang bertemu di suatu perbatasan antara suara iman, angkasa dan pepohonan.


Besok aku berjanji kepadanya untuk menemukan air mata di sepanjang jalan ibu kota. Begitu senang ia di kala senja itu, ia menggandeng tanganku sembari berloncatan riang, sementara jubah putihnya beterbangan menerbangkan kapas-kapas putih ke udara, kedua betisnya yang indah itu terlihat mungil dengan sepasang sepatu yang terbuat dari daun-daun kapas. 


Aku dan Rumi berjalan di sepanjang lorong ibu kota. Aku mendapati banyak orang yang menangis tersedu. “Mengapa kau menangis?” Kata Rumi.

Lalu aku berjalan sedikit lagi ke pinggiran pusat ibu kota, kemudian aku menemukan beribu-ribu sungai yang airnya bersumber dari beribu-ribu air mata. Di sana, aku menyaksikan orang-orang pinggiran ibu kota mengambil air mata di sungai dengan botol-botol kecil yang terbuat dari kaleng sarden. Setelah itu mereka meminumnya dengan kesedihan yang tak pernah kulihat sebelumnya. 


Sementara sisa-sisa air mata di dalam botol sarden itu kemudian dijadikan obat sakit kepala dan dijual di sudut-sudut lampu merah.

"Ayo ayo bapak ibu semuanya. Silakan dibeli obat sakit kepala paling manjur di dunia. Obatnya hanya lima ribu rupiah saja! Obatnya manjur. Cukup dua kali minum, sakit di kepala anda dijamin langsung menghilang."

Rumi membeli sisa-sisa air mata di dalam botol sarden itu, perutnya sudah penuh dengan air mata kesedihan. Lalu langkah kakinya tiba-tiba berhenti di jantung kota. 


Gedung-gedung di belakangnya terasa melayang-layang di udara, suara beton saling menggesek memantulkan cahaya yang mendidih. Oh, jubah kapasnya mau lepas. Butir-butir kapas mengelupas dari tubuhnya, aku kebingungan. Ada apa dengan Rumi? Aku berpikir keras, tapi aku tolol. Kudatangi saja Rumi sebelum jubahnya benar-benar jatuh ke atas tanah. Kupeluk dia dengan jubah hitamku. Rumi menggeliat, ia demam. Katanya sakit kepala. Lalu aku membeli sebotol obat sakit kepala, tetapi tetap saja. Rumi semakin merintih. Ia kesakitan, katanya kepalanya seperti ditusuk-tusuk. Lalu kubawa dia pulang.


Ia berdoa kepada pohon-pohon kapas. Lalu angin-angin berdatangan, pohon-pohon kapas menyanyikan tembang untuknya. Seperti di negeri dongeng, suara-suara tembang itu sungguh menentramkan seperti sedang membilas kesedihan dari akarnya. Rumi sudah bisa membuka mata, demamnya hilang, tetapi bola matanya semakin keruh. Pupilnya menjadi gelap seperti malam. Ia meringkuk dipeluk oleh reranting yang mulai mengering. Rumi telah jatuh ke dalam kesedihan yang begitu dalam. Air mata orang-orang ibu kota telah membuat Rumi menjadi rangka tinggal kepala.


Hari itu, Rumi datang kepadaku dengan jalan yang terbata-bata. Kapas putih yang selama ini menjadi jubah kebesarannya telah terkelupas hingga tak tersisa, sementara kulit yang membalut betis indahnya itu kian kericut seperti mayat. Rumi bilang, ia sudah tak tahan menanggung kesedihan orang-orang ibu kota. 


Esok lusa, ia ingin mati sendiri sebelum kesedihannya itu menggerogotinya dari dalam. Ia memberiku kapas putih penghabisan, memohon ia kepadaku untuk datang ke rumahnya tepat sehari setelah ia meninggal dunia, ia meminta kepadaku untuk memainkan biola di atas kuburnya dan lirih ia berbisik “Kelak kau akan ketahui, bahwa pohon-pohon kapas akan menghilang di dunia, digusur oleh jalan, oleh pabrik, dan oleh pusat perbelajaan yang megah”. 


Penulis: Muhammad Rifa’ie

×
Berita Terbaru Update