Notification

×

Iklan

Iklan

Indonesia Mendambakan Perdamaian

Rabu, 27 November 2019 | 04.24.00 WIB
Foto: Penulis
Perdamaian senantiasa didambakan umat manusia. Akan tetapi, sejarah manusia sepanjang zaman justru menunjukkan, betapa umat manusia tidak henti-hentinya berperang antar sesama manusia dan negara. Hingga timbul kesan bahwa, seakan akan peperangan adalah bagian dari kebudayaan manusia, dan tak lagi dapat dibayangkan di- dunia, pada suatu ketika, akan menjadi dunia yang penuh damai dan bebas dari peperangan.

Kenyataan-kenyataan seperti di atas, di dunia hari ini, sekali lagi seakan membenarkan yang mengatakan bahwa, peperangan merupakan budaya manusia, dan selama ada manusia di atas bumi, selama itu pula timbulnya peperangan dari waktu ke waktu, tidak akan dapat di elakkan.

Sejarah perkembangan evolusi manusia, menyebabkan evolusi nilai dan budaya manusia, yang berkembang dari manusia pencari dan pengumpul makanan, kemudian menjadi pemburu lalu menjadi petani, kemudian berkembanglah berbagai kegiatan manusia yang kita kenal hari ini untuk menghidupi eksistensi manusia. Sepanjang perjalanan sejarah yang jauh itu, peperangan tidak pernah absen dari evolusi hidup umat manusia.

Sejarah purba menunjukkan peperangan yang terus menerus silih berganti. Sejarah Yunani penuh dengan peperangan. Kisah peperangan di Troya merupakan sebuah kisah perang yang klasik. Apa yang dinamakan Pax Romana lebih banyak ditandai oleh peperangan daripada perdamaian, karena kaisar-kaisar Roma tidak henti-hentinya meluaskan wilayah kerajaan Roma ke segenap penjuru mata angin.

Bangsa Tar-tar berkuda, yang menyerbu ke barat dari wilayah Mongolia, memperlihatkan budaya perang yang amat sangat dahsyatnya. Peperangan antara yunani dan Persia telah melahirkan tulisan-tulisan yang juga sudah menjadi klasik.

Teknologi peperangan juga ikut berkembang menyertai terus berlangsunya budaya perang manusia. Alat persenjataan yang di pakai manusia bertambah dahsyat dan mengerikan.

Tidak lagi cukup Bom yang yang dapat d ilontarkan dari pesawat udara untuk memusnahkan kota dan desa, tidak cukup peluru dan mesiu untuk senapan dan meriam atau periuk api. Namun, telah dikembangkan pula senjata gas beracun, senjata kimia, malahan juga senjata biologis, seperti virus penyakit, dan lain lain. Dan perkembangan teknologi senjata yang paling dahsyat dan mengerikan manusia tentulah tidak lain dari Bom nuklir.

Lebih lanjut, jika budaya perang ini tidak dapat dihapuskan oleh manusia sendiri dari dirinya dan masyarakat, maka janganlah terkejut, seandainya suatu pagi kita bangun dan mendengar telah pecah perang nuklir dan perang bintang, dan segala yang hidup di dunia tinggal menunggu saat kematian.

Negara indonesia adalah negara Pancasila, yang menurut sila pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Karena itu, setiap kali menyelesaikan konflik-konflik, masyarakat dan bangsa ini perlu mengedepankan penghormatan dan cinta terhadap sesama ciptaan sang Khalik. Sebagai bangsa yang menyebut dirinya bangsa yang beragama, kita punya kewajiban untuk mengutamakan nilai nilai cinta kasih, keadilan, dan kebenaran yang adalah inti ajaran semua agama mengenai kehendak Tuhan yang maha esa itu.

Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa perdamaian tidak turun dari langit begitu saja. Perdamaian harus diciptakan. Terciptanya perdamaian selalu memerlukan proses panjang dan bahkan serta menyita energi yang luar biasa, dan terkadang waktu tempuhnya lebih lama dari konflik dan kekerasan yang telah berlangsung.

Dalam mendorong perdamaian dibutuhkan juga kesabaran dan daya tahan yang tinggi, ibarat pelari marathon yang harus terus mempertahankan stamina dalam jarak dan waktu yang cukup panjang, demikianlah para pihak harus bersikap terhadap proses perdamaian.

Keadilan tidak bisa ada tanpa perdamaian, sebaliknya perdamaian tidak mungkin hadir tanpa ada keadilan. Maka yang satu tidak bisa ada tanpa ada yang lain, tetapi satu dengan yang lain justru saling mengandaikan secara timbal balik.

Perdamaian merupakan suatu nilai dasariah umat manusia, karena damai memungkinkan suatu kualitas hidup yang sungguh sungguh bagus. Damai berarti suatu keadaan aman dan tenteram, bahagia dan menyenagkan, suatu keadaan tanpa musuh, bebas dari ketakutan, kesedihan dan kecemasan.

Bebas dari ancaman dan paksaan dari pihak manapun, segala kebutuhan terpenuhi. Dalam damai manusia bebas mengekspresikan diri untuk kemuliaan dirinya sendiri maupun kehidupan manusia pada umumnya. Prinsip bahwa, "Jika kamu mau berdamai dengan orang lain, maka kamu harus berdamai dengan dirimu sendiri dulu”.

Penulis: Fitratul Akbar (Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang).
×
Berita Terbaru Update