Notification

×

Iklan

Iklan

Cerita Pilu Rika: Kelaparan, Terlantar dan Tidur di Emperan

Minggu, 07 Juli 2019 | 09.14.00 WIB
Foto: Rika ditemani oleh ayahnya saat makan nasi bungkus di kontrakan.
Indikatorntb.com - Sejak dinyatakan hilang pada hari Rabu 12 Juni 2019 lalu, Rika ternyata hidup seorang diri, terlantar tak tau jalan pulang, tidur di emperan-emperan rumah dan halaman masjid, bahkan kelaparan hingga harus mencari sisa makanan di tong sampah.

Selama itu Rika diduga hilang ingatan, setengah sadar seolah dihipnotis, bahkan ia tidak tau siapa dirinya sendiri. Namun, ia tetap melaksanakan shalat 5 waktu di setiap masjid yang ia temui. Terkahir ia shalat di Masjid Tarogong Kaler, Garut-Jawa Barat hingga akhirnya ditemukan oleh pamannya Syahrul.

"Saya sudah berjanji, tidak akan pulang ke Bima tanpa Rika," Ujar Syahrul selaku paman Rika kepada Indikator NTB News.

Semua itu berawal ketika Rika Satriawati (22) mahasiswa program studi biologi, FMIPA, Universitas Padjadjaran, Bandung asal Desa Rupe, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima dinyatakan hilang. Bayangkan saja selama 25 hari terhitung sejak tanggal 12 Juni 2019 sampai dengan tanggal 05 Juli 2019, Rika menghilang.

Pihak keluarga dan seluruh kerabat kwatir dan terus berdoa untuk Rika, hampir semua pihak terlibat dalam proses pencarian Rika. Baik itu pihak kampus Universitas Padjadjaran, pihak kepolisian Jatinangor terutama pihak keluarga. Saat itu keluarga hampir menyerah, setelah pencarian dilakukan di beberapa daerah, seperti di Bandung, Sumedang dan terakhir daerah Garut-Jawa Barat.

Syahrul menemukan Rika tepat di halaman masjid Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Saat itu Rika sedang berjalan keluar dari masjid. Awalnya Rika sama sekali tidak mengenal Syahrul, sampai akhirnya Syahrul memeluk Rika sembari menangis. Persaan Syahrul campur aduk antara terharu dan bahagia.

"Saya mencari Rika hampir di setiap Masjid, alun-alun Kota Garut, disawah-sawah, perempatan jalan bahkan sampai tempat perempuan malam saya kunjungi, tapi nggak pernah ketemu. Sampai akhrinya saya menemukan dia di Masjid," Ungkap Syahrul.

"Awalnya Rika tidak mengenal saya, tapi setelah saya memeluk dia dan saya menangis, Rika pun meneteskan air mata," lanjutnya.

Setelah itu Syahrul kemudian membawa Rika pulang ke kontrakan untuk bertemu dengan ayahnya bapak Marwan. Menurut keterangan Syahrul, bahkan sampai di kontrakan Rika terlihat seperti orang yang pelupa atau setengah sadar. Namun setelah bertemu dengan ayahnya, Rika mulai ingat semuanya. Rika menangis dan menceritakan semua yang dia ingat.

Rika menceritakan apa saja yang ia alami selama berada di Garut. Ia terlantar sendirian, tidur di emperan masjid atau tokoh. Bahkan untuk menyambung hidup, Rika terpaksa mengambil sisa makanan di tong sampah. Bahkan Rika pernah ditabrak oleh motor yang membuat Rika memiliki luka lebam. Rika merasakan dan mengalami masa-masa sulit itu sendirian.

"Dia baru ingat setelah bertemu dengan ayahnya, bahkan saat itu dia baru ingat namanya, dan bahkan baru tahu Handponenya tidak ada. Rika terlantar sendirian, tiduran di emperan masjid dan tokoh bahkan untuk bertahan hidup dia mengambil sisa makanan di tong sampah," Tutur Syahrul kepada Indikator NTB.

Marwan selaku ayah Rika menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak, atas doa dan dukungannya selama proses pencarian Rika. Menurutnya, semua berkat doa dan dukungan dari semua pihak. Baik itu dari pihak kampus maupun pihak kepolisian, terutama pihak keluarga dan masyarakat Bima.

×
Berita Terbaru Update