Notification

×

Iklan

Iklan

Wajah Buram BUM Desa, Bukti Kegagalan Pemdes Sangiang?

Sabtu, 29 Juni 2019 | 18.43.00 WIB
Foto: Usai berdialog dalam program Indikator Sangiang Club, para narasumber baik dari unsur pemdes, Bum desa, BPD, pemuda dan komunitas indikator bima malakukan foto bersama.
Indikatorntb.com - Komunitas Indikator Bima (KIB) menganggap bahwa, buramnya wajah BUM Desa Sangiang merupakan cerminan kegagalan Pemerintah Desa Sangiang dalam membangun desa.

Hal itu disampaikan oleh Furkan, Ketua Umum Komunitas Indikator Bima dalam program Indikator Sangiang Club (sebuah acara diskusi) yang dilaksanakan pada hari Selasa 18 Juni 2019 lalu.

"Ternyata yang buram itu bukan wajah BUM Desa, tapi wajah Pemerintah Desa Sangiang," Ungkapnya.

Menurut Furkan, BUM Desa Sangiang telah gagal memanfaatkan dan mengelolah potensi yang ada di Desa Sangiang. Mulai dari potensi perikanan, peternakan, pertanian, sumber daya manusia dan potensi kerjainan tangan masyarakat.

"Menurut saya BUM Desa Sangiang telah gagal dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Nelayan, petani, peternak dan pengrajin tenun kita tidak pernah diberdayakan untuk peningkatan ekonomi desa. Buktinya sederhana, tidak ada satupun program untuk mereka," Tegasnya.

"Kegagalan BUM Desa adalah kegagalan Pemerintah Desa Sangiang," Tambahnya.

BUM Desa Sangiang baru resmi dibentuk pada tahun 2017 lalu, tepatnya dua tahun setelah dana akses modal untuk BUM Desa pertama kali dianggarkan, yaitu pada tahun 2015.

Akses Modal BUM Desa Sangiang

Melalui Anggaran Dana Desa, Pemerintah desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima telah memberikan akses modal kepada Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) sebesar 40 juta rupiah. Bahkan penganggaran tersebut dilakukan sebelum BUM Desa Sangiang dibentuk.

Foto: Sulaiman (kemeja biru) selaku direktur BUM Desa Sangiang saat berdialog bersama pemdes, BPD dan pemuda Sangiang dalam program Indikator Sangiang Club.

Akses modal tersebut dianggarkan secara bertahap, yaitu pada tahun 2015 sebesar 20 juta rupiah dan anggaran pada tahun 2016 sebesar 20 juta rupiah. Namun yang diterima oleh BUM Desa hanya 35 juta rupiah saja.

"Yang kita terima totalnya 35 juta rupiah," Kata Sulaiman Direktur BUM Desa Sangiang kepada Indikator NTB News.

Anggaran itu diharapkan mampu dijadikan sebagai modal awal untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) melalui unit-unit usaha yang dikelolah oleh BUM Desa. Namun, hingga tahun 2019 ini, BUM Desa Sangiang tidak mampu meningkatkan Pendapatan Asli Desa Sangiang sebagaimana yang diharapkan.

Unit-Unit Usaha BUM Desa Sangiang

BUM Desa Sangiang dalam mengelola akses modal yang diberikan oleh Pemerintah Desa Sangiang berhasil membentuk dua unit usaha sekaligus, Yaitu unit usaha Simpan Pinjam dan Bisnis jual beli beras. Kedua unit usaha tersebut dikelolah dan di kembangkan selama hampir 2 tahun.

Dari total akses modal yang diterima oleh BUM Desa Sangiang, yaitu 35 juta rupiah, pengurus menggunakannya hanya untuk dua unit usaha saja dan membeli ATK. Untuk unit usaha simpan pinjam, Rp.17.000.000 (peminjam 17 orang, masing-masing 1 juta rupiah) sedangkan modal untuk jual beli beras, Rp. 10.400.000, sisanya untuk beli ATK.

"Sisanya buat beli ATK berupa leptop dan printer," Ungkap Sulaiman.

Keuntungan BUM Desa

Nyatanya, hasil pengelolaan dan pengembangan dua unit usaha tidak berdampak positif terhadap PAD Sangiang. Pasalnya, dalam kurun waktu hampir 2 tahun berjalan, BUM Desa Sangiang hanya mampu meraup untung sekitar 3 juta rupiah kebih. Detail keuntungan yang didapat yaitu, 1 juta rupiah lebih sedikit dari unit usaha simpan pinjam dan 2 juta lebih sedikit dari unit usaha jual beli beras.

"Total keuntungan kita selama ini sebesar 3 juta lebih," Kata Sulaiman.

Pengurus BUM Desa Tidak Kreatif dan Inovatif

Kehadiran BUM Desa Sangiang diharapkan menjadi jantung perekonomian masyarakat desa. Tentunya masyarakat desa Sangiang berharap BUM Desa Sangiang memiliki kreatifitas dan inovasi dalam meningkatkan perekonomian desa. Namun, harapan itu pupus ditengah jalan, ketika BUM Desa Sangiang memutuskan hanya membentuk dua unit usaha saja, yaitu unit usaha simpan pinjam dan jual beli beras.

Padahal, masih banyak potensi desa yang bisa dimanfaatkan dan sangat perlu untuk dikembangkan. Mulai dari pengolahan ikan hasil tangkapan para nelayan, membantu para peternak dengan memberikan akses jual beli ternak, membabtu para pengrajin sarung tenun lalu hasilnya dijual atau diolah, membantu menjual hasil pertanian masyarakat dan mengembangkan spot-spot wisata yang ada di desa Sangiang, bahkan mengelolah aset milik desa.

Masyarakat sangat berharap pemerintah desa Sangiang melalui BUM Desa mampu mengelolah sumber daya-sumber daya tersebut, namun tidak pernah ada kata untuk itu, alias tidak ada program atau unit usaha yang dibentuk oleh BUM Desa untuk mengelolah sumber daya itu.

Padahal, jika potensi-potensi itu mampu dikelolah dengn baik, maka tidak menutup kemungkinan, BUM Desa Sangiang akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar, membantu meningkatkan PAD, meningkatkan perekononian masyarakat, bahkan BUM Desa Sangiang bisa membuka lapangan pekerjaan atau mengurangi pengangguran.

Laporan Keuangan dan Perkembangan BUM Desa

Menurut keterangan sekertaris Desa Sangiang, Nasrullah, S.Hut, BUM Desa Sangiang tidak pernah menyampaikan laporan keuangan maupun laporan perkembangan dari BUM Desa Sangiang. Pemerintah Desa Sangiang mengaku tidak punya arsip terkait laporan BUM Desa. Namun, anehnya laporan keuangan BUM Desa Sangiang sudah diterima oleh Inspektorat.

"Kami secara kelembagaan tidak pernah menerima laporan dari BUM Desa, dengar-dengar laporan itu sudah ditangan Inspektorat," Ungkapnya dalam forum Indikator Sangiang Club.

Foto: Nasrullah, S.Hut (Baju putih) saat berdialog dalam program Indikator Sangiang Club.

Karena tidak pernah menerima laporan dari BUM Desa Sangiang, baik laporan keuangan maupun laporan perkembangan BUM Desa. Dalam forum diskusi terbuka itu, Sekertaris desa Sangiang meminta BUM Desa Sangiang segera memberikan laporan itu kepada pemdes.

Pembekuan BUM Desa Sangiang

Melihat pengelolaan unit usaha yang tidak jelas dan terjadi tumoang tindih, Pemerintah desa Sangiang akhirnya meminta kepada BUM Desa Sangiang untuk menghentikan seluruh kegiatan pengelolaan unit usaha.

"Cuman disuruh dihentikan," Kata Sulaiman kepada Indikator NTB.

Kinerja Pemdes Dalam Membina dan Menasehati BUM Desa

Pemerintah desa Sangiang dianggap tidak memiliki perhatian khusus bahkan terkesan tidak perduli terhadap perkembangan BUM Desa Sangiang, padahal keberadaan dan kehadiran BUM Desa Sangiang sangat diharapkan sebagai jantung perekonomian masyarakat desa.

Bahkan pemerintah desa menghentikan kegiatan usaha yang dilakukan oleh BUM Desa karena dianggap gagal mengembangkan usaha. Padahal pemdes merupakan pemilik usaha yang harusnya punya inovasi dan kreativitas dalam hal menasehati dan membina BUM Desa.

Menurut pengakuan Sulaiman, pemerintah desa Sangiang atau kepala Desa A. Rasid tidak pernah memanggil BUM Desa Sangiang, baik itu untuk berkoordinasi maupun pembinaan atau sekedar menanyakan perkembangan BUM Desa.

"Untuk yang baru ini belum ada. Soalnya anggaran 50 juta itu juga belum cair," imbuh Sulaiman.

Rencana Penambahan Modal BUM Desa Tahun 2019

Pada tahun anggaran 2019 ini, pemerintah Desa Sangiang menambah akses modal untuk BUM Desa Sangiang dari 20 juta rupiah menjadi 50 juta rupiah. Selain itu, BUM Desa Sangiang akan menerima bantuan modal dari pemerintah Provinsi NTB sebesar 100 juta rupiah. Jika di total dengan anggaran sebelumnya, maka akses modal BUM Desa Sangiang menjadi 188 juta rupiah. 35 juta rupiah + keuntungan 3 juta lebih, ditambah anggaran dari desa 50 juta rupiah, kemudian bantuan dari pemprov NTB 100 juta.

Pertanyaanya, dengan modal sebesar itu, unit usaha apa saja yang akan dikelolah oleh BUM Desa Sangiang kedepan?

Reporter: Furkan
Editor: Subhan

×
Berita Terbaru Update