Notification

×

Iklan

Iklan

Orang Bima di Mata Gojek: Nggak Ada Kerjaan Lain Selain Sekolah

Sabtu, 29 Juni 2019 | 18.18.00 WIB
Ikustrasi (Selular.id)
Indikatorntb.com - Saya berangkat dari Terminal Dara Bima hari Jumat tanggal 28 Juni 2019 sekitar pukul 18.25 WITA, tujuan Kota Malang tapi mampir di Kota Mataram, jenguk sepupu yang akan dioperasi di RSUD Provinsi NTB. Saya sampai di Kota Mataram hari Sabtu, tanggal 29 Juni 2019 sekitar pukul 10.11 WITA.

Sebelum beranjak menuju RSUD Provinsi NTB untuk menjenguk sepupu yang akan dioperasi, saya menyempatkan diri untuk menikmati kopi susu suguhan pedagang di sekitar Terminal Mandalika.

Usai menikmati kopi susu di Terminal Mandalika, saya pun memesan Gojek untuk mengantarkan saya ke RSUD Provinsi NTB.

"Tunggu di luar terminal, ya. Gojek nggak bisa masuk," kata Gojek itu via pesan.

Sekitar 6 menit saya menunggu, akhirnya seorang berjaket Gojek bernama Aripin sampai di tempat tujuan. Beliau menjemput saya tepat di Jl. Ps. Bertais No. B8 menuju RSUD Provinsi NTB. Saya pun langsung naik.

"Maaf, saya tidak bisa jemput di dalam, mereka suka main keroyokan," kata Pak Aripin kepada saya saat membeberkan alasan mengapa ia menyuruh saya menunggu di luar terminal.

"Oh iya, Pak. Tidak apa," jawab saya.

Di tengah perjalanan yang lumayan macet, Pak Aripin mulai mengajak saya untuk mengobrol.

"Ngapain ke RSUD Provinsi NTB?" tanya Pak Aripin.

"Ada sepupu yang mau operasi, Pak," jawab saya.

Lebih lanjut Pak Aripin menanyakan profesi saya. Di mana saya kuliah, sudah lulus apa belum, selesai lulus mau kerja apa, dan lain-lain. Namun, ketika ia mendengar semua itu, ia pun langsung menanyakan asal saya.

"Saya asli Bima, Pak," jawab saya.

Sembari menunggu lampu hijau, ia pun mulai menceritakan kesannya terhadap orang Bima. Menurutnya, orang Bima adalah salah satu kelompok masyarakat yang cerdas dan rata-rata sukses. Orang Bima rajin-rajin dalam menuntut ilmu, rajin sekolah. Bahkan, berdasarkan pengalaman kerjanya di beberapa kota, ia hampir bertemu dengan orang Bima yang sekolah dan sukses-sukses.

"Orang Bima itu di mana-mana sukses, rajin-rajin sekolah menuntut ilmu," kata Pak Aripin sambil menarik gas atas perintah lampu hijau yang ia tunggu tadi.

"Saya ke mana-mana ada saja orang Bima yang sekolah dan rata-rata mereka sukses. Saya ke Jakarta ada orang Bima, Mataram, ke Makassar, Jawa, dan lain-lain. Saya sampai bilang, ini orang Bima nggak ada kerjaan lain selain sekolah," cerita Pak Aripin sebelum sampai di RSUD Provinsi NTB.

Saya pun serius menyimak, mendengarkan sambil mengangguk seraya mengiyakan apa yang ia ceritakan. Sepertinya Pak Aripin benar-benar kagum kepada orang Bima. Kagum dengan semangat orang Bima yang rajin sekolah hingga merantau ke negeri orang. Kagum dengan orang Bima yang rata-rata sukses di negeri orang.

Dalam hati sebenarnya saya ingin menjawab, bahwa orang Bima kebanyakan sukses di negeri orang tapi gagal di negeri sendiri. Saya pun kagum dengan Pak Aripin, ketika cara dia melihat dan menilai orang Bima bukan berdasarkan issue dari mulut ke mulut. Tapi ia rasakan dan alami sendiri.

Hingga tiba di depan pintu masuk RSUD NTB, Pak Aripin sebenarnya masih ingin bercerita. Namun, tujuan kami telah sampai. Kami harus menghentikan cerita itu karena harus berpisah. Saya menjenguk sepupu di RSUD Provinsi NTB, sementara Pak Aripin harus kembali ke jalan-jalan mencari satu atau dua penumpang.

Hampir dua tahun bekerja sebagai driver gojek, pak Aripin tetap semangat mencari rupiah. Ai tetap bersyukur. Kota Mataram menjadi tumpuan harapan, semoga mendapatkan penumpang yang baik hatinya.

Penulis: Furkan
×
Berita Terbaru Update