Notification

×

Iklan

Iklan

Soal SBMPTN 2019 Tingkatkan Peringkat Indonesia atau Justru Persulit Siswa?

Jumat, 30 November 2018 | 09.21.00 WIB
Foto : Dhita Dwi Anggraini Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Oleh : Dhita Dwi Anggraini

Soal HOTS SBMPTN 2019 Kebijakan High Order Thinking Skill (HOTS) pada soal SBMPTN tahun 2019 akan meningkatkan peringkat Indonesia atau justru malah akan mempersulit siswa itu sendiri?

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) melakukan perubahan dalam proses penerimaan mahasiswa baru Perguruan Tinggi Negeri (PTN) pada tahun 2019, khususnya untuk Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN).

Perubahan tersebut terkait pengembangan model dan proses seleksi yang berstandar nasional dan mengacu pada prinsip adil, transparan, fleksibel, efisien, akuntabel serta sesuai perkembangan teknologi informasi di era digital.

Oleh karena itu, proses Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2019 akan diselenggarakan oleh institusi bernama Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT).

Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi, Mohamad Nasir, dalam konferensi pers Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2019 di Jakarta, Senin (22/10/2018) menyatakan terdapat sejumlah ketentuan baru yang berbeda dari tahun sebelumnya.

Salah satu ketentuan baru itu terletak pada pelaksanaan SBMPTN 2019, pada pelaksanaannya hanya ada satu metode tes yaitu Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Metode Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC) ditiadakan dan UTBK berbasis Android sementara belum diterapkan.

Lebih lanjut, Menteri Nasir menambahkan bahwa materi tes yang dikembangkan dalam UTBK 2019 adalah Tes Potensial Skolastik (TPS) dan Tes Kompetensi Akademik (TKA). Untuk TKA sendiri nantinya akan ada ujian Sosial Humaniora (Soshum) serta Sains dan Teknologi (Saintek). Tes TKA ini akan mengukur kompetensi pengetahuan calon mahasiswa pada materi yang diajarkan di sekolah saat mengikuti program studi yang dipilih.

Rencananya, soal-soal SBMPTN 2019 akan menggunakan soal High Order Thinking Skill (HOTS) atau soal dengan kemampuan analisa tinggi.

Kemendikbud menerapkan HOTS pastinya dengan harapan agar siswa dapat mengasah kemampuan mereka dalam hal menganalisis, namun pada kenyataannya, harapan tersebut berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Beberapa siswa justru malah merasa kesulitan dengan adanya soal HOTS itu.

Hal itu juga disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim. Menurut Dia, mayoritas sekolah di Indonesia masih belum optimal mengenalkan dan melatih siswanya dengan soal bernalar tinggi atau HOTS, dan cara pandang pemerintah yang ingin meningkatkan peringkat Indonesia dengan mengandalkan soal HOTS hanya bersifat parsial dan tidak utuh.

"Soal HOTS ini yang memberatkan sebenarnya. Persis pascapersitiwa soal HOTS dalam UNBK 2018, belum ada perubahan yang signifikan terhadap pembelajaran berbasis HOTS di kelas oleh guru," kata Satriwan, Kamis (25/10/2018).

Satriawan menambahkan, ia juga mengkhawatirkan para siswa nanti akan kembali mengeluh seperti pelaksanaan UNBK 2018 kemarin. Sebab pembelajaran di kelas sangat jauh dari nuansa berpikir dengan penalaran tinggi alias HOTS.

Menurut saya, penerapan soal HOTS ini memang mempunyai beberapa kekurangan dan kelebihan. Kalau dilihat dari sisi kelebihannya, ya saya setuju dengan maksud Pemerintah yang mana ingin siswa itu sendiri berpikir out of the box alias berpikir lebih keras dari biasanya.

Dengan berpikir tingkat tinggi seperti itu, maka diharapkan nantinya siswa akan lebih pandai dan lebih kreatif, yang dimana nantinya akan membuat peringkat Indonesia meningkat di kancah dunia dalam hal pendidikan.

Namun mari kita lihat kembali pada kenyataannya, justru soal HOTS lah yang memberatkan siswa. Mereka merasa kesulitan dalam mengerjakan soal-soal yang tingkat tinggi seperti itu, mengapa demikian? Ya, itu disebabkan karena mereka belum terbiasa dengan soal-soal berbasis HOTS.

Maka dari itu, seharusnya Kemendikbud membantu para guru agar memberi pelatihan soal-soal HOTS kepada siswa agar siswa terbiasa dan akan mempermudah siswa dalam mengerjakan soal SBMPTN.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan mutu pendidikan, bukan hanya sekedar menaikkan tingkat kesulitan soal menggunakan konsep HOTS, melainkan secara menyeluruh mulai dari kurikulum. Misalnya dengan mengurangi materi dan memperbanyak refleksi dan proses belajar berbasis proyek.

Akan tetapi, perubahan tersebut harus berlaku dalam sistem perekrutan dan pengembangan profesionalitas guru. Kunci dari persoalan ini ada pada para pendidik, ungkap Satriawan. "Sayangnya pelatihan guru agar siap melaksanakan metode HOTS belum berjalan secara optimal,". Karena percuma saja jika kita menaruh harapan besar, namun masih belum ada upaya perubahan.


dhita/indikatorntb.com
×
Berita Terbaru Update