Notification

×

Iklan

Iklan

Pengaruh Modernisasi Terhadap Perubahan Pola Pikir Masyarakat

Jumat, 30 November 2018 | 09.34.00 WIB
Foto : Firlana Izaty mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Oleh : Firlana Izaty

“Daerah yang dulu dikenal sebagai kota Seribu Sungai ini, seolah kemudian gagap memasuki era modern, yang sebenarnya tidak berhasil mereka rumuskan. Masyarakat Banjar, terutama yang berdiam disepanjang sungai, tiba-tiba tidak lagi menjadikan sungai sebagai kiblat hidup. Seluruh rumah justru menjadikan sungai sebagai halaman belakang, di mana segala sampah dibuang. Muncullah kesan halaman belakang sebagai sesuatu yang jorok dan kotor.” (Putu Fajar Arcana)

Modernisasi mungkin merupakan persoalan menarik, persoalan yang merupakan gejala umum di dunia ini. Banyak masyarakat di dunia yang terkait pada jaringan modernisasi, baik yang baru memasukinya, maupun yang sedang meneruskan tradisi modernisasi.

Era modern ini tidak sepenuhnya tentang hal-hal yang buruk dan tidak baik. Banyak yang bisa kita lakukan di era modern ini. Dampak baik dan buruk dari perkembangan zaman dapat dilihat serta dirasakan tergantung bagaimana sikap yang kita ambil dalam menyikapi perkembangan itu.

Seperti halnya novel “Jendela Seribu Sungai” karya Miranda dan Avesina yang di dalamnya menceritakan tentang kehidupan masyarakat yang berbeda suku, ras, dan budaya. Novel ini bercerita tentang kehidupan yang terjadi pada masyarakat Banjarmasin dan Dayak yang mulai berubah di era modern.

Masyarakat Dayak yang cenderung menolak moderniasi terutama dalam hal pendidikan dan kesehatan. Alasan mereka menolak karena mereka khawatir melawan kearifan lokal yang diwariskan leluhur mereka secara turun temurun.

Berbeda halnya dengan kehidupan yang terjadi pada masyarakat Banjar. Masyarakat yang dulunya menjadikan sungai sebagai kiblat hidupnya kemudian berubah dengan adanya jalan raya. Pada masyarakat Banjar juga diceritakan adanya perang saudara yang kemudian pecah menjadi dua bagian.

Dua bagian itu dikenal dengan masyarakat Banjar Antasan Timur dan Antasan Barat. Masyarakat Antasan Timur digambarkan sebagai kawasan dengan kekumuhan, kemiskinan dan lain sebagainya, sedangkan pada Antasan Barat merupakan kawasan dengan kemewahan, kepandaian, kekayaan dan juga kesombongan.

“Di jalan Antasan Barat, kami bisa bermain dengan damai, kendaraan hanya sesekali berlalu-lalang. Selebihnya sepi, seperti hutan terjebak di tengah perdaban Yunani yang megah. Annak-anak Antasan Barat lebih senang menghabiskan waktu dalam rumah mereka yang berpendingin, menonton televise yang layarnya seukuran lemari, bermain playsation portable, atau belajar dengan guru yang didatangkan khusus”. (Miranda & Avesina, 2018: 65).

Perbedaan yang terjadi antara dua kubu masyarakat Banjar nampak sekali. Perbedaan itu dapat dilihat dari gaya hidup, pola pikir, keadaan sekeliling rumah dan masih banyak lagi. Masyarakat Banjar Antasan Barat yang terkenal lebih modern dibanding dengan masyarakat Antasan Timur. Bahkan dikalangan masyarakat ini seperti sudah lupa dengan kehidupan sebelum datangnya era modernisasi.

Masyarakat Antasan Barat banyak menghabiskan waktunya dengan bekerja dan berdiam di dalam rumah dan jarang untuk saling bertegur sapa dengan masyarakat lainnya. Anak-anak Antasan Barat banyak mengahabiskan waktunya di rumah. Mereka melakukan kegiatan seperti melihat televisi, bermain playsation portable bahkan ada yang mendatangkan guru khusus untuk anaknya.

Berbeda dengan masyarakat Antasan Timur yang merupakan kebalikan dari Antasan Barat. Pada masyarakat Antasan Timur tidak sepenuhnya menolak atau tidak mengikuti perkembangan era modern. Hanya saja pada masyarakat ini cenderung lebih nyaman kepada kehidupan mereka sebelumnya.

Mereka tidak menolak adanya perkembangan modern namun mereka juga tidak meninggalkan kegiatan yang ada sebelumnya. Dibandingkan dengan Antasan Timur yang dikelilingi dengan kemewahan dan kesombongan. Pada masyarakat ini lebih kepada masyarakat yang damai, rukun, namun juga dikenal dengan kemiskinan. Miskin di sini miskin jika dibandingkan dengan kehidupan masyarakat Antasan Barat.

Jika pada Antasan Barat anak-anak mereka banyak mengahbiskan waktunya dengan bermain di rumah, berbeda dengan anak-anak di Antasan Timur, mereka banyak bermain di luar rumah yaitu di sungai dengan memanfaatkan alat bermain yang ada, seperti helai daun, kembang dan lain sebagainya. Perbedaan antara Antasan Timur dan Barat juga dapat dilihat dari bagaimana mereka memanfaatkan kemajuan teknologi di era modern.

Masayarakat Antasan Barat banyak menggunakan alat-alat yang canggih serta mudah dipakai, berbeda dengan masyarakat Antasan Timur yang masih menggunakan alat-alat tradisional seperti jukung dan lain-lain.

Perbedaan pola pikir dari masyarakat Antasan Timur dan Barat dapat juga disatukan. Seperti ketika ada acara besar dan penting. Acara besar yang tentunya sangat bersejarah bagi dua masyarakat itu. Acara besar yang dilakukan setiap tahun sekali dan tidak tanggung-tanggung. Acara ini selalu digelar dengan sangat meriah, yaitu acara perayaan hari jadi kota Banjarmasin.

Acara bersejarah ini dapat menyatukan perbedaan antara masyarakat Antasan Timur dan Barat. Dalam memeriahkan acara ini pemerintah menyatukan dua kebiasaan yang berbeda dari kedua masyarak itu dalam satu tempat.

Pada mayarakat Dayak pula yang terkenal sebagai masyarakat yang sangat anti dengan modernisasi. Alasan yang mereka katakana karena mereka khawatir melawan kearifan lokal yang diwariskan leluhur mereka secara turun menurun.

Masyarakat Dayak banyak menghabiskan waktu kesehariannya dengan bekerja mengitari hutan dan gunung-gunung. Mereka banyak memanfaatkan tumbuhan-tumbuhan dalam mengobati penyakit dan lebih percaya dengan pembacaan mantra kepada orang sakit dari pada berobat ke rumah sakit ataupun puskesmas. Mereka lebih senang melakukan hal-hal yang berhubungan langsung dengan alam.

Hubungan kekeluargaan dengan masyarakat lainnya sangat kental di kalangan masyarakat Dayak ini. Mereka sering mengadakan perkumpulan besar dalam kehidupan kesehariannya. Misalnya sering mengadakan upacara serta ritual. Menolak modernesasi bukan berarti menolak untuk belajar.

Pada masyarakat Dayak juga terdapat sekolah sebagai tempat anak-anak mereka belajar. Namun sekolah tersebut tidak seperti sekolah-sekolah sebagaimana biasanya. Sekolah milik masyarakat Dayak dibangun dengan bangunan yang sederhana dan menggunakan alat-alat belajar yang sederhana pula.

Perkembangan zaman tidak semestinya mengubah keadaan yang lebih dulu ada. Perkembangan zaman juga tidak semestinya menjadikan kita takut akan terhapusnya nilai-nilai serta kearifan lokal yang ada.

Dengan banyaknya perkembangan teknologi dan informasi di era modernisasi ini seharusnya menjadikan kita lebih baik. Berpikir untuk maju dengan mengembangkan nilai-nilai yang ada dengan hal-hal baru. kita dituntut dapat memanfaatkan serta mengembangkannya menjadi lebih baik dan dengan sebaik mungkin.

firlana/indikatorntb.com
×
Berita Terbaru Update