Notification

×

Iklan

Iklan

Pertentangan Hasrat dan Norma Agama Dalam Novel Kambing dan Hujan

Rabu, 06 Juni 2018 | 17.41.00 WIB
Foto : Penulis
Indikatorntb.com - Novel kambing dan hujan merupakan novel roman, akan tetapi didalamnya menceritakan mengenai hubungan asmara dua remaja yang terhalang oleh perbedaan norma agama keluarganya. Novel ini tidak hanya mengambarkan kisah cinta yang menyenangkan yang dialami para tokohnya, melainkan mengisahkan mengenai perjuang melintasi jarak dan kultural yang rasanya hamper mustahil dapat dilalui.

Novel Kambing dan Hujan merupakan novel karangan Mahfudz Ikhwan, novel ini meraih kategori Pemenang 1 Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014.

Membaca novel Kambing dan Hujan karya Mahfudz Ikhwan pembaca dihadapkan pada realitas sosial religiusitas yang terjadi pada lingkungan masyarakat. Di mana perbedaan norma agama sangat berpengaruh pada kehidupan mereka.

Mahfudz Ikhwan dalam menuliskan novel Kambing dan Hujan menggunakan alur maju mundur. Beberapa kejadian digambarkan menceritakan kejadian yang dialami pada masa lalu ayah Mif dan Fauziah, kemudian bergerak pada peristiwa yang dialami Mif dan Fauziah pada masa berikutnya. Setting yang digunakan juga sangat beragam, karena tokoh dari novel ini menuntut ilmu di kota besar.

Fauziah melanjutkan kuliah disebuah Universitas yang berada di Surabaya, sedangkan Mif melanjutkan kuliah di Yogyakarta.
Aspek menonjol yang terjadi pada novel ini ialah yang dialami oleh tokoh Is dan Moek. Is (Iskandar) yang pada saat dewasanya ia menjadi pemuka atau tokoh agama dari masjid utara (pemuka dari islam modern), sedangkan Moek (Fauzan) ia adalah pemuka agama dari masjid selatan yaitu islam tradisonal.

Ketika mereka masih kecil, mereka bersahabat. Akan tetapi, setelah lulus SR mereka terpisah Moek melanjutkan menuntut ilmu disebuah pondok pesantren, karena Moek putra seorang yang cukup berada. Sedangkan Is tidak bisa melanjutkan kejenjang selanjutnya karena faktor ekonomi. Is hanya belajar mengaji di desanya dan mengembala kambing sehari-harinya. Di desa Centong ada seorang guru mengaji yang sangat dihormati dan ditaati oleh muridnya salah satunya Is, guru mengaji itu bernama Cak Ali.

Datangnya Cak Ali ini lah yang dianggap sebagai awal mula muncul islam modern di desa Centong. Di desa centong Cak Ali mengajarkan agama dan mengaji pada remaja Centong, akan tetapi setelah beberapa lama masyarakat centong merasakan adanya keanehan pada ajaran yang diajarkan oleh Cak Ali. Ada beberapa ajaran yang dianggap masyarakat sekitar tidak sesui dengan tradisi yang mereka jalankan selama ini. Hal inilah yang membuat para tokoh sesepuh agama desa Centong menjadi geram menghadapi mereka.

Kejadian yang terakhir yang dilami ialah ketika mereka bersama-sama menjalankan sholat jum’at di masjid desa Centong. Akan tetapi dalam satu masjid itu ada perbedaan dalam tata cara melaksanakan sholat jum’at. Hal ini yang membuat sesepuh desa menjadi semakin tidak suka dengan kejadian ini. Akhirnya sesepuh agama desa Centong mengabil tindakan tegas dengan tidak memperbolehkan golongan islam modern untuk ikut melaksanakan kegiatan (sholat) atau datang ke masjid desa Centong.

Inilah awal mula perpecahan di desa itu dan awal mula kesalah pahaman yang dialami hubungan persahabatan ini. Karena kedua sahabat ini memiliki perbeda keyakinan. Moek yang telah lama menuntut ilmu di pondok pesantren akhirnya dijemput pulang oleh orang tuanya, dengan maksud ingin menjadikan Moek salah satu ustadz di masjid selatan serta untuk dinikahkan dengan seorang gadis yang dicintai oleh sahabatnya Is. Gadis itu bernama Hidayatun. Dari beberapa kejian itulah akhirnya kesalah fahaman terjadi dalam hubungan persahabatan mereka. Sehingga persahabatan itu terputus. Is semakin membenci Moek.

Sejak tahun itu dalam satu desa terdapat dua masjid, masjid pertama masjid selatan golongan orang NU sedangkan masjid kedua golongan orang Muhammadiyah. Sejak saat itulah dalam satu desa terdapat 2 hari raya yang berbeda. Setelah berpuluh-puluh tahun kesalah pahaman itu tak kunjung terselesaikan. Hingga mereka sama-sama memiliki keluarga. Is memiliki anak yang bernama Mif sedangkan Moek memiliki anak bernama Fauziah.

Tak disangka karena Mif dan Fauziah ketika remaja memiliki perasaan saling menyukai satu sama lain. Perasaan itu berawal sejak pertemuan pertama mereka di bus antar kota, dan berlanjut sampai Fauziah lulus kuliah. Setelah Fauziah lulus kuliah mereka berencana untuk melangsungkan pernikahan. Seagama tidak membuat hubungan mereka berjalan mulus, justru sebaliknya, jurang perpisahan membentang diantara mereka pertentangan antara hasrat dan norma agama menjadikan mereka harus memperjuangkan keinginannya.

Berhari-hari mereka berusaha meminta restu pada keluarga, namun tak ada jawaban yang mereka dapatkan. Justru ketidak pastian dan rasa penasaran terus menghantui mereka. Rasa dilema terus menyelimuti hari-hari mereka, antara harus terus berjuang atau menyerah pada perbedaan.

Setelah proses panjang mereka lalui, akhirnya mereka mendapatkan sebuah fakta baru yang mereka ketahui tentang masalalu ayah mereka. Permasalahan yang selama ini belum terselesaikan dan belum terungkap yang masih mereka pendam. Mif dan Fauziah tidak menyerah pada kejadian tersebut. Mereka terus berjuang untuk mendapatkan restu keluarga dan membuat ayah mereka berdamai. Banyak usaha yang mereka lalukan untuk mendamaikan keluarganya.

Setelah melalui proses beberapa lama akhirnya Pak Iskandar dan Pak Fauzan memikirkan untuk menyelesaikan permasalahan yang sudah terjadi, dan mencari jalan keluar atas permintaan anak-anaknya untuk menikah. Mereka berdamai demi mewujudkan keinginan anaknya. Perdamaian kedua sahabat ini sebelumnya dianggap hanyalah sebagai suatu omong kosong yang tidak dapat diwujudkan, namun karena usaha yang dilakukan oleh Mif dan Fauziah akhirnya keduanya mendapatkan restu kedua orang tuanya.

Pada akhirnya jurang perpisahan yang membentang diantara hubungan mereka dapat diselesaikan dan dapat menemukan jalan yang terbaik, karena pada awalnya hubungan antara Mif dan Fauziah menjelma tegang antara hasrat dan norma agama. Ketika cinta harus diperjuangkan melintasi jarak kultural yang rasanya hampir mustahil mereka lalui, akhirnya mereka dapat mewujudkan keinginan mereka untuk menikah, meskipun perbedaan ideologi agama yang mereka anut tetap ada.

Melalui novel ini kita dapat mengambil pelajaran berharga. pelajaran itu tercermin saat Fauzia dan Mif membangun rumah tangga. Pada sholat shubuh pertama yang merekA lakukan, mereka berjamaah akan tetapi karna ada sedikit perbedaan pada tata cara sholat mereka yaitu orang NU ketika sholat shubuh menggunakan do’a qunut sedangkan orang Muhammadiyah tidak, maka disitulah mereka harus mengambil keputusan bagaimana mereka melalukan sholat dengan perbedaan yang ada.

Akhirnya mereka menemukan jalan keluar dengan melaksanakan sholat shubuh tidak menggunakan do’a qunut akan tetapi setelah sholat mereka berdzikir bersama dan suaranya dikeraskan. Dari peristiwa ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa perbedaan yang ada harus kita hadapi, bukan menjadikan perbedaan sebagai pemicu perpecahan.

Penulis : Kiki Nurlaily (Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia 2016).
×
Berita Terbaru Update