Notification

×

Iklan

Iklan

Dikotomi Santri, Abangan dan Priyayi: Prilaku Politiik Elite

Senin, 16 April 2018 | 22.48.00 WIB


Prabowo dan Jokowi (foto: Sebarr.com)

Glifford Geertz seorang peneliti Amerika yang kali pertama membedakan prilaku santri, abangan dan priyayi sebagai tindakan fenomenologis yang secara artifisial bisa diindikasi dari berbagai perspektif. Tulisan ringan ini hanya mencoba mencandra dari konten dan prilaku politik elite mutaakhir terutama pasca kekalahan Prabowo pada Pilpres 2013 dan menjelang pertarungan 2019.
Naiknya Jokowi sebagai Presiden seakan menyimpan gerobak persoalan yang terus membesar. Ironisnya justru membawa kita kembali masuk pada politik ideologis dan aliran yang beberapa semester setelah reformasi dianggap mengempis. Tapi kemudian kembali naik dengan varian baru yang lebih kecil tapi beringas. Aliran kelompok Islam dan kelompok nasionalis berhadapan.
Saya pernah berpikir bahwa politik aliran sudah selesai, ternyata salah. Politik aliran makin mengeras dengan berbagai varian kecil tapi beringas. Kelompok-kelompok kecil yang bersuara lantang. Islam menjadi lahan subur bagi tumbuhnya berbagai manhaj yang melahirkan berbagai konflik dan selisih. Politik simbol menjadikan Islam ideologis menguat meski banyak dilawan. Belum lagi ideologi politik yang diimpor dari Timor Tengah semakin menambah masalah.
*^^*
Meminjam teori Geertz dapat saya pilah beberapa prilaku politik dan budaya politik. Beberapa indikasi dari tiga prilaku aliran dapat dicandra dengan baberapa hal.
Kaum santri cenderung memahami norma secara artifisial, leterljik, hitam putih, benar salah, baik dan buruk. Ideologi tulen dan lugas melihat ketidakbenaran, namun dalam beberapa hal malah cenderung tidak percaya diri, sebuah kondisi realitas santri pada umumnya, terbukti dengan seringnya mencari justifikasi untuk sesuatu yang dianggap benar. Gagasan dan idenya sulit direalisasi karena tidak realistis, lebih dominan das sein ketimbang das solen, cenderung eksklusif, karenanya sering sendirian.
Kaum abangan cenderung melawan kemapanan, tidak akomodatif, ide dan gagasan yang dibangun dekat dengan kepentingan akar rumput, misalnya tentang budaya atau lingkungan sebagai simbol perlawanan, anti borju dan berkeras mewujudkan egaliterianisme, menghapus kelas sosial beragama, lugas apa adanya, populis tapi tetap marjinal. Dalam beberapa kasus kaum abangan dan santri sering mengambil posisi berhadapan dan kerap konflik dalam arti sesungguhnya,
Terakhir kaum priyayi, komunitas paling oportunis dan licik, memanfaatkan situasi untuk mensubordinasi kemapanan. Menyukai yang simbolik untuk mengirim sebuah pesan, Menggunakan kekuatan kaum santri dan abangan sebagai pilar penyangga. Ada saatnya mendekat pada kaum abangan dan kapan mendekat pada kaum santri. Lebih lentur memahami realitas dan kerap di depan.
*^^^*
Dalam beberapa kasus kaum priyayi lebih bisa lama bertahan berkuasa ketimbang dua kaum sebelumnya, karena bisa bertumpu pada dua kaki sekaligus. Cenderung menghindari konflik dan terlihat tidak tegas bersikap, hanya karena ingin terlihat tetap elegant di tengah. Meski pada dasarnya sama saja alias "podho wae".
Cak Nur (Nurcholis Madjid) dan Johan Efendy dua tokoh cendekiawan muslim tahun 90 an sudah pernah menyeduh tiga kekuatan ini menjadi satu konsep besar bernama Islam berke-Indonesiaan dengan tidak menempatkan ketiganya saling berlawanan, tapi rupanya gagal di perjalanan. Islam Yes Partai Islam No adalah satu cara untuk meredam politik Islam ideologis yang cenderung reaktif saat itu.
Kasus kaum santri (Gus Dur) dan abangan (Jokowi) naik tahta sebagai Presiden, sekaligus berbagai konflik yang menyertai adalah ilustrasi lugas bagaimana keduanya (santri-abangan) tetap berebut hegemoni. Perlawanan terhadap Jokowi hakikatnya adalah perlawanan kaum santri yang tersaingi. Dan saatnya nanti ketika kaum santri yang bertahta kaum abangan juga akan melawan dengan segala cara.
Konflik politik aliran inilah yang kita takutkan sebab masing-masing akan makin menguat. Ideologi nasionalis dan abangan juga makin mengental seiring gigihnya idelogi aliran Islam yang juga keras.
Pada akhirnya kaum
priyayi dibutuhkan hadir menjadi solusi dan tentu saja berbeda ketika yang naik tahta adalah kaum priyayi (Soekarno dan Soeharto) yang relatif bisa bertahan lebih lama.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
×
Berita Terbaru Update