Notification

×

Iklan

Iklan

Dinamika politik 2019 dan Omset Penjual Kaos.

Rabu, 18 April 2018 | 22.46.00 WIB
Foto : kaos #2019 ganti presiden
Indikatorntb.com - Politik 2019 menjadi begitu dinamis ketika muncul kaos yang bertuliskan #2019 Ganti Presiden. Dinamika politik Indonesia menjadi sangat menguntungkan penjual kaos. Apalagi ada rumor menghadirkan kaos yang bertuliskan #2019 tetap Jokowi atau #Jokowi 2 periode. Sebagai kaos tandingan (Jiah kaos tandingan).
Dengan demikian, saya menjadi sangat curiga bahwa yang memainkan isu politik sehingga memanas, jangan-jangan para penjual kaos. Sangat miris sekali, jika tensi politik dimainkan oleh penjual kaos yang mencari keuntungan sepihak. Hebatnya lagi rumor tulisan dalam kaos ini menjadi viral dan ramai dibicarakan. Bahkan merusak psikis bapak Presiden Jokowi. Tak pernah saya melihat pak Jokowi se-sentimentil itu, seolah naik pitam gara-gara isu kaos. Sampai-sampai mengeraskan mukanya seolah marah dan bergelora, walaupun banyak yang menilai tidak pantas. Jokowi itu ternyata takut sama kaos dan menjadi tidak nyaman akibat tukang kaos. Tukang kaos Indonesia memang keren, mampu mendesain sebuah dramatikal politik yang sangat menguntungkan secara finansial. Dan omsetnya meningkat dari 100% sampai 200% dari biasanya. Dan bodohnya lagi, para politikus terpancing emosinya akibat kaos yang bernuansa fiksi kata Rocky Gerung. Bahkan Presiden menjadi kelompok yang takut dengan fiksi, sehingga menimbulkan Marah-marah yang fiktif. (Ini bukan nyiyir ya, silahkan chek sendiri muka Jokowi bagaimana). Soal kaos Jokowi seharusnya tidak usah berlebihan, cukup senyum itu sudah menunjukkan jawaban yang mematikan. Jokowi harus banyak belajar dari gaya dan bahasa politik Soeharto yang sangat elitis, senyum dan mengangguknya sangat membahayakan. Jokowi juga harus banyak belajar bagaimana pola pencitraan yang elitis seperti Susilo Bambang Yudhoyono, biar nggak semua isu dijawab sendiri. Jadinya blunder terus, kan kelihatan kapasitasnya rendah. Jokowi memang hanya ingin eksis, padahal dia mengangkat Johan budi sebagai Jubir Presiden tapi Kadang-kadang dipotong fungsinya.

Selain itu Jokowi juga harus belajar dari Soekarno soal ketegasan dan cara berpidato yang baik. Sehingga orang mendengarkan dengan baik-baik juga rumpun kata-katanya, tidak malah menjadi bahan ejekkan dan tertawaan. Dan setidaknya juga harus belajar dari Cak Lontong bagaimana melucu secara profesional, sehingga masyarakat ikhlas untuk tertawa. Bukan melucu yang garing di atas kediktatoran, semua orang dipaksa tertawa seolah bahagia padahal akal sehat mengharuskan untuk marah dan menuntut. Bahkan tertawa di atas kelucuan tingkah presiden yang aneh dijadikan sebagai ukuran atau indikator hitungan BPS dalam menentukan tingkat kesejahteraan dan kebahagian rakyat Indonesia secara nasional.
Saking anehnya, Presiden mengomentari film dilan 1990 yang sudah ditonton menjadi bias dan nihil makna. Bahkan kalau dikaitkan dengan bahasa Indonesia yang baik-baik dan benar, angka relatifnya adalah 20, dan penilaiannya E = sangat buruk. Itu artinya Jokowi tidak lulus. Jokowi sedang kurang sehat mungkin ketika rangkaian peristiwa tersebut dia tanggap dan komentari. Sehingga Jokowi kurang jelas dan cengengesan dalam berbicara. 2019 menolak Jokowi.
Gubuk peradaban, 17
Penulis : Syamsurijal Al-Gholwasy
×
Berita Terbaru Update