Notification

×

Iklan

Iklan

Anggota DPRD yang Kritik dan Minta Beasiswa NTB Gemilang Dihentikan Perlu Dikuliahkan ke Luar Negeri

Kamis, 25 Februari 2021 | 13.01.00 WIB
Foto: Penulis


Indikatorntb.com - Najamudin Moestafa salah satu Anggota DPRD Provinsi NTB mengkritik dan meminta Beasiswa NTB dihentikan. Ahmad Humaidi: "Pak Najam Perlu dikuliahkan ke Luar Negeri".


Saya membaca Radar Lombok Edisi Rabu, 24 Februari 2021 tentang kritikan yang katanya cukup pedas dan keras oleh salah satu anggota DPRD Provinsi NTB dari partai PAN terhadap program beasiswa NTB. 


Sebagaimana diketahui program beasiswa NTB fokus mengirim anak-anak terbaik NTB untuk melanjutkan study S1,S2, dan S3 di Luar Negeri. 


Pertama, saya mengapresiasi kritikan dan masukan pak Najam ke pelaksanaan Program beasiswa NTB. Beliau perlu diapresiasi karena melaksanakan tugas menyampaikan pendapat dan pengawasan. Akan tetapi saya juga merasa perlu memberikan sedikit pendapat terhadap kritikan yang terhormat bapak Najamuddin Moestafa. Supaya publik tidak hanya mendengar satu suara yang kemudian dianggap benar lalu digoreng. 


Kritikan Pak Najamudin yang di tujukan kepada Program Beasiswa NTB sebenarnya tidak cukup pedas apalagi keras. Tapi hanya menunjukkan pola pikir yang kurang luas, alias sempit dan Pragmatis. 


Pak Najam sebagai anggota DPRD yang terhormat seharusnya menunjukkan kualitas berpikir yang lebih holistic, sustainable dan tentu menggambarkan kualitas berpikir yang seharusnya dimiliki oleh anggota DPR yang mana mereka (Anggota DPR) memiliki peran vital dalam penyelenggaraan negara yaitu Peran Legislasi, Anggaran dan Pengawasan. 


Pak Najam seharusnya Jangan tunjukkan kepada kami bahwa DPR adalah orang-orang dengan kualitas berpikir minimalis. Pak Najam Pasti sudah membaca buku “Habibi Muda”. di buku tersebut kurang lebih pak Habibi bersuara, bahwa rendahnya SDM, lemahnya skill  yang diikuti sedikitnya lapangan pekerjaan akan membuat anak bangsa berlomba menyerbu politik, berlomba menjadi tim sukses dan mencalonkan diri menjadi anggota DPR. 


Mereka menganggap bekerja di politik tidak perlu otak yang pinter-pinter dan skill yang baik. Tapi hanya butuh kemampuan bicara dan uang. Al hasil jabatan-jabatan politik di isi oleh orang-orang tidak berkualias dengan skill yang mengharukan. 


Perlu pak Najam tahu bahwa Program beasiswa NTB adalah program yang ingin mencetak anak-anak NTB menjadi the next Habibi. Tidak perlu secerdas Habibi, setidaknya mereka kembali ke Tanah air dengan pola pikir yang maju dan membawa skill yang dibutuhkan negara kita. 


Andaipun ada anak-anak NTB alumni beasiswa yang bekerja di luar NTB, maka itu adalah kabar positif pak Najam. Sekali lagi please, jangan berpikir minimalis. Anak NTB adalah anak Indonesia, mereka mengabdi di manapun selama di tanah pertiwi maka mereka bermanfaat bagi Indonesia. mereka membanggakan NTB. Ketika mereka berprestasi di luar maka mereka akan maembawa nama NTB. Kualitas anak-anak NTB akan diakui dan digandrungi. 


Kami berharap NTB mengirim anak-anaknya ke luar daerah bukan sebagai pekerja kasar lagi, tetapi sebagai pekerja intelektual. Dengan segala hormat bagi para pekerja kasar NTB di luar daerah dan Luar negeri, kami berharap ini bisa dikurangi atau mungkin suatu saat bisa dihentikan. Kirim anak-anak NTB yang memiliki skill dan intelektualitas maksimal. 


Program beasiswa NTB adalah program yang hasilnya tidak bisa dirasakan secara instan sebagaimana yang diminta oleh pak najam yaitu mengevaluasi manfaatnya hari ini. Pak Najam perlu tahu bahwa investasi didunia pendidikan tidak sama seperti belanja beli nasi bungkus yang langsung bisa merasakan kenyangnya saat itu juga. 


Please pak Najam tunjukan kami cara instan yang efektif untuk meningkatkan kualitas SDM selain dari dunia Pendidikan. Kuliah keluar negeri bukan untuk gaya-gayaan,  tanpa meganderestimate pendidikan kita di dalam negeri, tapi sebagai manusia yang mengamini kejujuran maka kita harus jujur bahwa kualitas pendidikan negeri kita masih belum maksimal. Oleh karena itu kita perlu belajar dari Negara-negara yang memiliki kualitas pendidikan lebih baik untuk meningkatkan pendidikan kita. 


Saya justru mempertanyakan Kunjungan Instan para DPR ke Luar negeri ngapain saja, kok seperti tidak terdengar manfaatnya? 


Pak Najam yth. Jangan ajarkan kami berpola pikir instan dan pragmatis, Pikiran pak Najam harus dihentikan karena bisa merusak semangat anak-anak NTB. Sepertinya pak Najam perlu kuliah keluar negeri deh. 


Permasalahan pendidikan tidak semata tentang anggaran dan biaya pendidikan pak, tapi yang jauh lebih penting adalah pola pikir yang optimis dan maju. Silahkan bapak turun ke pelosok-pelosok, minimal di dapil bapak, mereka yang putus sekolah tidak hanya dari keluarga miskin tapi banyak dari keluarga mampu. 


Mereka berpikir instan tentang pendidikan seperti bapak, mereka berpikir setelah selesai sekolah mereka akan automatis berubah jadi lebih sejahtera dan yang miskin jadi kaya, dan seterusnya. 


Dalam pendidikan tidak bisa instan seperti itu. Sebaliknya tidak terhitung anak-anak bangsa yang bisa melanjutkan pendidikan tinggi dari kalangan bawah atau miskin, itu karena mereka memiliki pola pikir yang tepat.


Pendidikan adalah salah satu instrument utama yang bisa merubah taraf hidup manusia tapi sekali lagi tidak bisa instan. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para pedagang dan pengusaha, Hasil pendidikan tidak seperti anda membeli kerupuk diwarung. Harusnya pak najam memberi masukan, ikut berpikir bagaiamana supaya beasiswa NTB bisa menyentuh anak-anak sekolah SD-SMP untuk diberi kesempatan sekolah ke luar negeri. Tidak hanya untuk tingkat perguruan tinggi. 


Saya mengapresiasi permintaan pak Najam yang ingin mengaudit LPP. Itu harus dilakukan, tapi saya juga minta BPK mengaudit DPR secara rutin, kami rakyat mau tau kemana bapak gunakan Dana aspirasi atau dana pembangunan daerah pemilihan. 


BPK Harus berani menelisik hubungan para Dewan ini dengan para Kontraktor, saya khawatir ada permainan tikus di sana. Karena kami rakyat tidak cukup sering mendengar apalagi merasakan manfaatnya. Kalau sudah ada tolong beri pencerahan kemana uangnya pak DEWAN yang terhormat?. Jangan wakili kami pakai mobil dan hidup enak saja. Tapi wakilkan suara kami, sampaikan hajat hidup kami.


Penulis: Ahmad Humaidi (Mahasiswa UPSI Malaysia semester 3) salah satu penerima manfaat beasiswa NTB Gemilang.

×
Berita Terbaru Update