Notification

×

Iklan

Iklan

HAM dan Keadilan di Alam Demokrasi, Apakah Hanya Ilusi?

Rabu, 23 Desember 2020 | 16.09.00 WIB

 

Foto: Penulis

Nyaris hampir satu bulan sudah kasus penembakan yang mengakibatkan terbunuhnya 6 orang laskar anggota FPI belum menemui titik terang. Banyak yang menyayangkan tindakan yang dilakukan aparat keamanan tersebut, sebab mereka katanya sebagai pelindung masyarakat, namun malah main hakim sendiri bertindak brutal pada rakyat. Berbagai elemen masyarakat terus bersuara menuntut keadilan atas kasus yang tak manusiawi tersebut.


Seperti dilansir  dari detikcom, sejumlah massa dari ormas Islam di Medan menggelar demonstrasi mengecam tewasnya enam orang Laskar FPI. Mereka menuntut Komnas HAM mengusut tuntas kasus ini. Demo digelar di depan Masjid Raya Medan, Jalan SM Raja, Peserta aksi berdiri memegang spanduk yang berisi tuntutan agar tewasnya enam orang tersebut diusut (16/12/2020).


Aksi serupa juga terjadi di daerah lain, seperti yang dilansir dari SuaraJogja.id , Forum Ukhuwah Islamiyyah atau FUI Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar aksi unjuk rasa di Titik Nol Kilometer. Aksi ini menyoroti sikap pemerintah yang tidak adil terkait sejumlah hal termasuk tewasnya 6 laskar FPI. FUI DIY mengadakan aksi dalam rangka mewujudkan kecintaan kita terhadap agama dan negara. Dengan tuntutan terhadap pemerintah untuk bertindak secara adil dan melaksanakan perlindungan terhadap HAM seluruh warganya (18/12/2020).


Ya, peristiwa ini sungguh sangat mencederai apa yang selama ini dikampanyekan oleh dunia internasional tentang HAM, demokrasi, dan keadilan. Kasus demi kasus kemanusiaan sering menuntut keadilan namun tak kunjung selesai. Kita tidak lupa dengan kasus aktivis Munir, matinya ratusan petugas KPPS, kasus Novel Baswedan atau yang lainnya. Sungguh sangat terlihat dan terpampang nyata bahwa mencari keadilan begitu sulit dalam era demokrasi.


HAM hanya Ilusi

Omong kosong HAM! ini adalah slogan realistis dalam ideologi kapitalisme. HAM hanya dipakai bagi kepentingan penguasa dan kaki tangannya namun tidak untuk menegakkan keadilan. Tak ada keadilan bagi umat yang tak sejalan dengan apa yang diterapkan rezim dalam sistem kapitalis demokrasi.


Berlarut-larutnya kasus kemanusiaan dan tak pernah menemui keadilan apalagi bagi umat Muslim adalah fakta nyata HAM hanya alat bagi kapitalis demokrasi untuk melanggengkan kekuasaannya. Sekarang dengan sederet fakta tersebut, harusnya semakin membuat mengerti bahwa HAM sama sekali tidak berarti apa-apa terhadap umat Islam. Lihatlah ketika keadilan dituntut di negeri ini yang menerapkan demokrasi, belum lagi kasus HAM yang sama juga terjadi pada Muslim Rohingya, muslim Uighur dan muslim India dibantai diusir, dilecehkan, tak mendapat keadilan.


Bahkan, lebih jauh, kalau mau melihat masa imperialisme alias penjajahan sebagai tragedi HAM terburuk di dunia, maka mengapa negara-negara Eropa yang pernah menjajah negeri-negeri Timur yang sebagian besar dihuni penduduk beragama Islam, termasuk Indonesia, merasa suci dan tidak berdosa atas penjajahan yang mereka lakukan. Bukankah itu adalah pelanggaran HAM berat yang pernah terjadi dalam pentas sejarah dunia?


Terbukti, umat Islam selalu menjadi objek dari segala konsep yang digodok oleh Barat, dimana umat Islam harus tunduk dan patuh. Tetapi, ketika umat Islam dianiaya, dibantai, dilucuti hak-hak asasinya, HAM sama sekali tidak berpihak.


Tetapi lain halnya jika ini menimpa kaum di luar umat Muslim yang lain dan umat muslim pelaku melakukan perlawanan, maka dunia serta merta akan berteriak bahwa Muslim melanggar HAM, Muslim teroris, Muslim radikal, Muslim garis keras dan narasi negatif lainnya. Dan lagi-lagi kaum Muslimin yang selama ini justru menjadi korban kebiadaban para pemangku kepentingan yang membenci umat Islam dengan menggunakan HAM sebagai alat kepentingan barat terhadap umat Islam.


Diseluruh dunia saat ini, memang tidak pernah ada penguasa yang benar-benar adil terhadap muslim, termasuk di negeri muslim seperti Indonesia. Muslim, dalam kondisi yang lemah pun masih ditakuti akan kembali bangkit.

Sehingga, sekecil apa pun potensinya, akan dimusnahkan.


Maka layakkah ide HAM, demokrasi masih dipertahankan?


Islam Menjaga dan Melindungi Nyawa Manusia


Dalam tulisan Arief B. Iskandar (Khadim Ma'had Wakaf Darun Nahdhah al-Islamiyah), mengatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang memberikan penghargaan amat tinggi pada darah dan jiwa manusia. Allah SWT menetapkan pembunuhan satu nyawa tak berdosa sama dengan menghilangkan nyawa seluruh umat manusia. Allah SWT berfirman:

“Siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia (TQS al-Maidah [5]: 32).


Allah SWT pun mengancam orang yang menghilangkan nyawa seorang Mukmin dengan ancaman yang sangat keras.

”Siapa saja yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, balasannya ialah Neraka Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepada dia, mengutuk dia dan menyediakan bagi dia azab yang besar” (TQS an-Nisa`[4]: 93).


Begitu cintanya pada jiwa seorang Mukmin, Allah SWT mengancam akan mengazab semua penghuni dan langit seandainya bersekutu dalam membunuh seorang Muslim. Rasul saw bersabda: “ Andai penduduk langit dan penduduk bumi berkumpul membunuh seorang Muslim, sungguh Allah akan membanting wajah mereka dan melemparkan mereka ke dalam neraka” (HR ath-Thabrani).


Dalam hadist lain Rasul saw. juga bersabda: “Kehancuran dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan pembunuhan seorang Muslim” (HR an-Nasa’i).

Riwayat lain, kata Ibnu Abbas ra., saat memandang Ka’bah, Nabi saw pun bersabda, “Selamat datang, wahai Ka’bah. Betapa agungnya engkau dan betapa agung kehormatanmu.


Akan tetapi, seorang Mukmin lebih agung di sisi Allah daripada engkau. ”(HR al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).


Adakah agama yang begitu memuliakan dan menjaga nyawa seorang hamba melebihi ajaran Islam? Tidak ada!

Karena itulah, sepanjang sejarah penerapan syariah Islam, tak ada darah seorang Muslim pun ditumpahkan, melainkan akan diberikan pembelaan yang besar dari umat dan Daulah Islam. Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya menceritakan, ketika ada seorang pedagang Muslim yang dibunuh beramai-ramai oleh kaum Yahudi Bani Qainuqa, karena membela kehormatan seorang Muslimah yang disingkap pakaiannya oleh pedagang Yahudi, Rasulullah saw. segera mengirim para Sahabat untuk memerangi mereka dan mengusir mereka dari Madinah setelah mengepung perkampungan mereka selama 15 malam (Sirah Ibnu Hisyam).


Rasulullah Saw, selaku imam kaum Muslim, semasa menjadi kepala Negara Islam Madinah, telah melindungi setiap tetes darah kaum Muslim. Demikian pula masa Khulafaur-Rasyidin dan para khalifah setelah mereka. Mereka terus melindungi umat dari setiap ancaman dan gangguan. Dengan begitu umat dapat hidup tenang dimana pun mereka berada karena ada yang menjadi pelindung bagi mereka.


Islam Menjamin Hak Asasi


Padahal sejarah peradaban Islam saat muslim berjaya dalam naungan Khilafah Islamiyah, semua pemeluk agama ahlul kitab ataupun musyrik akan mendapatkan perlindungan dan tak akan dizalimi. Saat Khilafah Utsmaniyah menguasai hampir 2/3 dunia, dengan keragaman komunitas agama dan etnis, semua dilindungi.


Di sinilah harusnya dunia menelaah sejarah secara fair bagaimana dulu saat kekhilafahan menguasai Konstantinopel, Sultan Muhammad Al-Fatih memberikan kebebasan kepada orang-orang Nasrani untuk melaksanakan semua acara ritual keagamaan mereka dan memiliki pemimpin keagamaan yang mengatur urusan agama mereka.


Fakta sejarah keemasan Islam dalam kekhilafahan yang tidak kalah heroik dan mahsyurnya saat Sultan Bayazid II yang menolong Yahudi di Andalusia dari mahkamah inkuisisi Spanyol. Jelas Islam tidak mungkin bertindak brutal, karena Allah SWT melarang kezaliman dan Rasulullah SAW juga memerintahkan setiap Muslim berlaku adil pada Nonmuslim.


Menempatkan mereka secara beradab, karena Islam adalah agama paling sempurna dan akan terlihat kesempurnaannya jika Khilafah yang menjadi pelaksananya.


Beginilah pengaturan Islam terhadap warga nonmuslim dalam kepemimpinan Islam Khilafah, begitu indah dan damainya. Tidakkah kita menginginkannya? Sudah saatnya kita akhiri derita umat ini dengan kembali pada tata aturan Islam dalam mengelola kehidupan ini, In syaa Allah Islam dan syariahnya akan membawa rahmat dan keberkahan.


Dalam sistem khilafah Islamiyah membunuh seorang mukmin tanpa haq balasannya adalah neraka jahannam kekal di dalamnya. Negara bukan musuh rakyatnya namun bertanggung jawab untuk mengurusi kehidupan mereka. Senjata akan dihadapkan kepada musuh dalam jihad bukan untuk anggar kehebatan melawan rakyat sendiri. Karena sistem Islam mengimani akhirat sedang sistem sekuler mencampakkan akhirat.

 

Wallahu alam bis showab.


Penulis: Nelly, M.Pd (Akademisi dan Pemerhati Masalah Sosial Masyarakat)


×
Berita Terbaru Update