Notification

×

Iklan

Iklan

Tolak Komunisme, Campakkan Kapitalisme

Jumat, 10 Juli 2020 | 16.37.00 WIB
Foto: Penulis
Penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) terus berlanjut diberbagai daerah. Aksi umat di tengah wabah pandemi yang masih ekstrim tidak menghalangi mereka untuk turun ke jalan menyampaikan aspirasi dengan 1 tujuan demi kebaikan negeri tercinta ini.

Seperti yang terjadi baru-baru ini dilansir dari laman berita Republika.online, dari Surabaya, Jawa Timur, ribuan massa aksi yang merupakan gabungan dari Ormas Islam, lembaga keislaman, majelis taklim, hingga organisasi pesantren menggelar aksi penolakan RUU HIP di depan Gedung DPRD Jatim, Surabaya, Selasa (7/7).

Adapun tuntutan dalam aksi itu diantaranya mereka meminta agar RUU HIP tidak saja ditunda pembahasannya, melainkan dihapuskan dari program legislasi nasional (prolegnas). Massa aksi juga meminta aktor intelektual yang ada di balik perancangan RUU tersebut diproses hukum.

Massa aksi juga meminta dibentuk tim pencari fakta independen, untuk mencari aktor yang ada di belakang perancangan RUU HIP, Selasa (7/7).

Aksi serupa juga terjadi seperti dilansir dalam laman Cirebon Pikiran Rakyat.com, ribuan orang terlihat memenuhi lapangan Ahmad Yani untuk menjadi peserta aksi 'Apel Siaga Ganyang Komunis Jabodetabek' di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada Minggu, 05 Juli 2020 lalu.

Dalam prosesnya massa aksi datang satu per satu hingga memenuhi lapangan Ahmad Yani. Kegiatan aksi ini diikuti sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam seperti Front Pembela Islam (FPI), PA 212, hingga Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama.

Adanya berbagai aksi umat menolak komunis hingga resolusi jihad qital adalah wujud semangat memperjuangkan al Haq (Islam) dengan jiwa raga hingga nyawa. Inilah bukti kecintaan umat Islam terhadap negeri ini, sebab RUU HIP yang telah di bahas di DPR itu sangat berbahaya bagi keutuhan negeri ini.

Ya, bahaya dari kemunculan kembali paham dan ideologi komunisme memang harus ditolak dan tidak boleh dibiarkan. Sebab ideologi tersebut sangat bertentangan dengan Islam dan sejarahnya yang sangat kelam, merusak dalam mengelola negara mesti tidak boleh terulang lagi.

Maka seluruh komponen harus bersuara dan mengerahkan segenap kemampuannya untuk menolak komunisme di negeri ini.
Namun semestinya yang harus disadari juga oleh umat, tidak cukup hanya komunisme yang dipersoalkan dan di tolak.

Sebab di negeri ini semenjak merdeka telah bercokol dan sudah diadopsi ideologi rusak sebagai sistem aturan negara. Yang akibat dari penerapan ideologi ini negara Indonesia menjadi sekuler, jauh dari tuntunan syariah dan kerusakan yang ditimbulkan begitu amat dahsyat.

Ideologi kapitalisme demokrasi sekuler inilah sistem yang sangat berbahaya hingga mengancam kehancuran dan keterpurukkan negeri ini di segala bidang.

Akibat sistem kapitalis ini semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara nyaris roboh. Sebut saja sistem pendidikan yang tidak mampu menghasilkan generasi harapan bangsa, bidang ekonomi ambruk terlihat negeri miskin, berutang dan jauh dari sejahtera. Padahal bangsa ini dikaruniakan Allah dengan SDA super melimpah ruah.

Aspek sosial, betapa kehidupan sosial masyarakat jauh dari kedamaian dan kenyaman hidup. Lihat saja kriminalitas merajalela, kasus asusila, kenakalan remaja, kehidupan yang individual dan tidak harmoni antar anak bangsa.

Maka mestinya seluruh umat melanjutkan perjuangan dengan menolak dan mencampakkan terhadap semua pemikiran dan sistem yang bertentangan dengan Islam.

Untuk selanjutnya memperjuangkan tegaknya sistem Islam (khilafah), sebab sistem inilah yang merupakan sistem aturan Ilahi. Aturan yang sempurna, pernah terbukti dan teruji selama belasan abad lamanya menaungi dunia.

Sistem inilah yang telah dicontohkan Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh para khalifah setelah beliau. Sistem Islam kaaffah yang diterapkan dalam bernegara, telah memberi rahmat, kesejahteraan dan kedamaian bagi seluruh alam.

Maka, sebagai negeri mayoritas muslim sudah saatnya untuk kembali pada sistem aturan Allah dengan menerapkan Islam secara sempurna. Segera mencampakkan kapitalisme dari negeri ini.

Seyogiayanya seluruh umat dan seluruh komponen jangan sampai terbelokkan pada sikap pragmatis memperjuangkan Pancasila dan melalaikan kewajiban memperjuangkan tegaknya sistem syariah dalam bernegara.

Inilah saatnya untuk bersinergi bersama dalam memperbaiki bangsa dan negara. Demi kebaikan dan keberkahan hidup baik muslim dan non muslim.

Wallahu 'alam biss shawab.

Penulsi: Nelly, M.Pd (Pemerhati  Problem Keumatan, Pegiat Opini Medsos).
×
Berita Terbaru Update