Notification

×

Iklan

Iklan

HIP: Undang-Undang Lebih Kejam Dari Undangan Mantan

Kamis, 02 Juli 2020 | 09.57.00 WIB
Foto: BBC
Selangkanganku bukan milik negara--asap ini menghalangi ketampananku--maaf perjalanan Anda terganggu karena ada perbaikan reformasi--Tuhan tidak tidur tapi Pemerintah yang ketiduran--reformasi digigit tikus

Narasi demo khas mileneal. Cerdas Bernas dan lucu--maka jangan keburu memberi stigma ini-itu--dan tak ada hubungannya dengan bendera tauhid atau bangkitnya PKI atau seteru antara HTI dan PDIP yang terus memanas. Atau Pancasila yang diperas peras menjadi Tri-Sila dan Eka Sila. Atau berebut tanggal lahirnja Pancasila apakah 1 Juni atau 18 Agustus.

Atau beberapa kelompok yang mendadak mengaku menjadi penafsir tunggal Pancasila. Seperti dua tiga bayi kembar yang berebut tetek ibunya. Kita memang sedang dalam suasana chaldis akut. Kekanak kanakan. Sensi dan caper.

Ini pyur ekspresi kebebasan individu. Mileneal sedang memberi warning pada generasi di atasnya--tentang perubahan yang mereka inginkan. Mungkin saja kita sudah dianggap expaid tak layak pakai saatnya diganti.

Karena mereka lebih berani dari saya dengan menjadikan hak kebebasan individu sebagai platform gerakan. Gerakan saya dulu masih berjuang untuk hak-hak sosial tapi sekarang lebih berani. Ini revolusi kebebasan tapi tidak makar pada negara--ini Gerakan generasi mileneal yang hak dan kebebasan individunya terancam---

Politik tak butuh pembuktian tapi pembenaran kata Aidit suatu ketika dipanggung yang riuh penuh intrik.
Klaim Habib Rizieq tentang puluhan juta massa aksi bela Islam di Monas saya tak bergeming meski saya ada di dalamnya--tapi gerakan mahasiswa jangan pernah di abaikan meski bersepuluh.

Indoenesia merdeka diproklamasikan mahasiswa dan pelajar--rubuhnya rezim orla karena gerakan mahasiswa, Soeharto lengser juga karena gerakan mahasiswa masih kurang cukupkah bukti itu.

Gerakan mahasiswa tidak bisa ditipu apalagi ditunggangi--itu kata kuncinya. Mereka begerak sesuai hati nurani dan idealitas yang mereka pegangi--mahasiswa bergerak tanpa bayaran atau Iming Iming jabatan kekuasaan. Itulah bedanya dengan gerakan demo serupa tapi tak sama. Yang menggerakkan mahasiswa adalah idealitas bukan kepentingan kelompok politik atau golongan, di situlah indahnya.

Klaim atau tuduhan bahwa gerakan mahasiswa ditunggangi kadal gurun adalah penghinaan--itu pernyataan merendahkan dari politisi rendah budi. Dan jangan coba coba ditumpangi dengan kepentingan lain--mereka pasti tak suka.

Ini revolusi kebebasan generasi mileneal--ekspresi menghibur meski serius--harusnya aparat tak perlu serius dan cepat panik lalu menangani dengan represif--jangan pancing emosi dan kemarahannya mereka bisa lebih beringas.

Karena semua sistem yang ada saat ini menguntungkan orang tua atau generasi di atasnya--dan membuat mileneal ingin membuat solusi sistem mereka sendiri. Lantas sistem mileneal itu seperti apa ?

Mileneal melawan hampir di semua lini. Sehingga pernah dikatakan bahwa mileneal itu kill everithing. Membunuh semuanya. Apanya yang dibunuh? Yang dibunuh adalah generasi di atasnya. Bukan hanya rezim tapi kita---karena mileneal menganggap kita--generasi di atasnya tidak cool. Tidak keren.

Penulis: @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
×
Berita Terbaru Update