Notification

×

Iklan

Iklan

Sedih! Tenggelamnya KM Ratu Bilqis: 13 Jam Berjuang Hidup Ditengah Laut

Sabtu, 11 Januari 2020 | 10.33.00 WIB
Foto: Ilustrasi (Portal-Ilmu).
Indikatorntb.com - Terombang ambing oleh derasnya arus dan ganasnya ombak selama 13 jam dilautan lepas. 1 orang temannya hilang setelah berjuang bersama selama 9 jam, dan 1 orang punumpang sakit keras namun harus terus berenang agar tetap hidup.

Syahril (25) dan 8 orang lainnya terus berenang menggunakan pelampung seadanya. Agar berenang lebih ringan, semua pakaian dilepas hingga yang tersisa hanya celana dalam.

Dingin, lapar dan haus menyertai usaha mereka untuk tetap bertahan hidup, tidak ada sesuatu apapun yang bisa dimakan. Hingga hujan mengguyur lautan lepas itu, Syahril dan 8 orang temannya menengadah keatas membuka mulut agar tetesan air hujan dapat diminum.

Semuanya berawal dari tenggelamnya kapal KM Ratu Bilqis di perairan Gilibanta selat Sape pada hari Selasa (07/01) lalu. Kapal penumpang yang dinahkodai oleh Khaerudin terbalik setelah dihantam oleh ombak. Diduga kapal melaju dalam kecepatan tinggi dan kehilangan keseimbangan setelah dihantam oleh ombak besar dari samping.

"Posisi kapal tidak seimbang, sehingga gelombang dengan mudah menghantam dari samping,” Kata Syahril penumpang kapal asal Desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima yang berhasil selamat.

Detik-Detik Tenggelamnya Kapal KM Ratu Bilqis

Kapal KM Ratu Bilqis disewa oleh bapak H.M.Nor dari Babuan Bajo menuju Sape. Syahril adalah salah satu anggota keluarga yang ikut mengantar bapak H.M.Nor yang saat itu sedang sakit parah. Sakit parah yang dialami oleh H.M.Nor menyebabkan ia tidak bisa makan, tidak bisa berdiri bahkan tidak bisa duduk, apalagi berenang. Ia hanya bisa berbaring lemah tak berdaya.

Awalnya, kapal yang ditumpangi oleh Syahril bersama 2 orang kerabatnya untuk mengantar bapak H.M.Nor pulang kerumah mengalami masalah pada mesinnya. Mengetahui ada masalah pada mesin, nahkoda bersama 2 orang ABK mematikan mesin ditengah laut untuk dilakukan perbaikan, dan mesin pun berhasil diperbaiki.

Perjalananpun dilanjutkan dalam keadaan cuaca yang tidak bersahabat, angin kencang, arus yang deras dan ombak yang besar menyertai perjalanan mereka. Tidak sampai 10 menit kemudian, kapal terbalik sekitar pukul 10.00 WITA.

Saat itulah, Syahril bersama 8 orang lainnya harus berenang terombang ambing di perairan Gilibanta selat Sape selama 13 jam lamanya. Dari pukul 10.00 sampai pukul 22.00 WITA.

Berenang Bersama Orang Sakit Parah

Syahril bersama 8 orang lainnya berenang menggunakan pelampung, dalam perjuangannya bertahan hidup dilautan lepa. Di tengah derasnya arus, besarnya ombak, dan kencangnya angi, Syahril bersama teman-temannya harus menyelamatakan bapak H.M.Nor yang sedang sakit parah itu. H.M.Nor tidak bisa berenang, ia hanya bisa diam mengapung di atas air berharap Syahril dan teman-temanya tidak meninggalkannya. Benar saja, Syahril bersama teman-temannya tidak pernah meninggalkan H.M.Nor.

"Kami tidak bisa meninggalkannya, kami terus berenang bersamanya. Kami rangkul bergantian, berpegangan," Tutur Syahril.

Detik-Detik Hilangnya ABK Mahfud

Hingga hari menjelang malam, tepatnya sekitar pukul 18.00 WITA, dalam keadaan sangat lapar, haus, lelah dan capek, Syahril bersama 8 orang lainnya terus berenang, sesekali istrahat dan terus saling menyemangati antara satu dengan yang lain. Namun, salah seorang temannya Mahfud (ABK) lepas dari pengawasan dan hilang dari genggaman tangan.

"Hari sudah agak gelap, salah satu teman kami berenang belakangan, kami pikir dia baik-baik saja. Ternyata tidak. Beberapa kali kami panggil, ia tidak menyahut,” Terang Syahril.

Syahril bersama temannya sudah tidak bisa berenang untuk mencari Mahfud, mereka pasrah. Jangankan mencari Mahfud yang hilang itu, menyelamatkan diri sendiri saja sebenarnya sudah tidak mampu.

Detik-Detik Syahril bersama Teman-Temannya Diselamatkan

Beruntung dalam kondisi seperti itu, Syahril bersama teman-temannya melihat sebuah kapal Bagan yang sedang mencari ikan. Kedua teman Syahril terus berenang menuju kapal bagan itu, sementara Syahril dan yang lainnya berenang pelan-pelan di belakang.

"Nelayan yang berada di kapal bagan itu tidak mendengar suara kami. Suara kami kecil, ditambah berisik suara mesin lampu bagan sehingga mereka tidak mendengar," Jelas Syahril.

"Dua orang teman kami berenang mendekati kapal bagan itu, hingga akhirnya mereka ditolong lalu menjemput kami yang di belakang," lanjutnya.

Setelah diselamatkan oleh nelayan kapal bagan itu, malam itu juga Syahril bersama teman-temanya sempat kembali mencari Mahfud yang hilang tadi. Namun tidak bisa ditemukan.

"Kita sempat minta tolong, supaya mencari teman kami. Tapi tidak bisa ditemukan karena malam juga," Ujarnya.

Tidak bisa menemukan Mahfud, Syahril dan teman-temannya diantar menuju puskesmas Sape untuk mendapatkan perawatan medis. Di sana Syahril dan teman-temanya dikasih pakaian oleh masyarakat setempat, karena kasihan melihat Syahril dan teman-temannya yang hanya menggunakan celana dalam dan celana pendek.

Atas pertolongan Allah Swt Syahril bersama 7 orang lainnya berhasil pulang kerumah dengan selamat, sembari berdoa semoga Mahfud temannya yang hilang saat itu secepatnya bisa ditemukan dalam keadaan selamat juga.

Furkan/Indikatorntb
×
Berita Terbaru Update