Notification

×

Iklan

Iklan

Etos Kerja Asal Bapak Senang, Aku Naik Pangkat

Minggu, 12 Januari 2020 | 14.50.00 WIB
Foto: Penulis (Baju Putih).
Salah satu ukuran keberhasilan pegawai dalam menjalankan tugasnya adalah Prestasi kerja pegawai melalui Satuan kinerja pegwaai, ini meurpakan indikator penilaianyang dinilai oleh atasannya karebut mmiliki kriteria untuk dijadikan pedoman dalam penilaian agar penilain tersebut obyektif tanpa ada penambahan dan pengurangan sedikpun berdasarkan suka atau tidak suka.

Disatu sisi kenaikan pangkat yang dilkaukan oleh pegawai ini berdasarkan selera atasan tanpa melihat kriteria yang telah ditentukan berdasarkan indikitor penilaian lebih condong pada selera atasan (subyektivitas).

Budaya Asal Bapak Senang (ABS), memang sudah tumbuh di negeri ini sejak lama dan telah mendarah-daging dalam berbagai kehidupan. Budaya ABS, seringkali menunjukkan sebuah "loyalitas" yang berlebih dari seorang bawahan kepada atasan nya.

Budaya ABS, juga dinilai sebagai bentuk ketidak-merdekaan seorang bawahan terhadap atasan nya dalam membangun dialog yang egaliter. Akibatnya, dalam budaya ABS, pasti kita tidak bakal menemukan adanya "komunikasi dua arah" yang berkualitas, demi ada nya feedback yang diharapkan. Yang terjadi umum nya pemikiran satu arah dari atasan ke bawahan.

Kata atasan adalah soto betawi, maka bawahan nya pun tidak biasa mengatakan bahwa hidangan itu bukan soto betawi.

Bawahan cenderung akan manggut-manggut dan mengiyakan apa yang dikatakan atasan, walau yang sebenar nya adalah gule kambing.

Dari persoalan tersebut di atas yang menjadi pesoalan adalah kadang kadang atasan Atasan rupa nya belum rela jika diri nya harus dikritik, disalahkan atau dianggap keliru. Sang pemimpin masih belum bisa menerima "gugatan" atau "perlawanan" yang sifat nya menyerang, menyalahkan atau bahkan sekedar berbeda pendapat.

Persoalannya bakalan menjadi semakin menjelimet jika gugatan dan kritikan itu dilakukan di muka umum atau malah dimuat di media massa. Maka itulah sebabnya kritikan yang dilakukan oleh bawahan ke atasan dianggap musuh padahal itu merupakan masukan agar dapat dijadikan sebagai refrensi agar dalam proses kepemimpinanya berjalan dengan baik sesuai harapan bersama, namun sebaliknya justru bawahan yang tidak megkritiknya di anggap loyalis dan sejalan dengan pemikiranya sehingga kadang kadang bertentangan dengan ABS. Padahal "berbeda pendapat" itu adalah berkah kehidupan.

Era reformasi yang sudah kita jalani , jelas memberi pesan moral agar transparan, akuntabel, demokrasi dan berkelanjutan, diharapkan tidak hanya sekedar slogan, tapi bagaimana ikon-ikon tersebut dapat diejawantahkan dalam kiprah nyata di lapangan. Reformasi ingin merubah ketertutupan menjadi keterbukaan. Sentralisasi harus digantikan dengan desentralisasi yang lebih berkualitas. Itulah kerangka dasar dari Otonomi Daerah.

Hal yang demikian, mesti nya berlaku universal dan tidak pilih kasih. Termasuk di dalam nya transparansi pola pikir dan pola menyampaikan pendapat.

Kebebasan berpikir dan berpendapat, memang sudah diatur dalam aturan perundangan yang ada. Dalam iklim demokrasi yang kita jalani, tidak dikenal adanya istilah "pemasungan" atau "pengkerdilan" demokrasi. Yang ada adalah bagaimana agar setiap warga bangsa mampu menyampaikan hasrat, keinginan, kebutuhan, harapan dan aspirasi nya secara bertanggungjawab.

Selain itu, warga bangsa tampak semakin bingung dengan tetap tumbuh nya budaya ABS di tengah-tengah masyarakat, khusus nya dalam organisasi yang masih menjadikan atasan dan bawahan itu sebagai pembeda dan batas kehidupan.

Lebih sedih lagi ketika pimpinanri ini merasa "tidak senang" atas lontaran kritik seorang bawahan nya. Lalu, bagaimana dengan para atasan yang lain nya ? Ya...jawab nya pasti seragam bahwa sebagai atasan diri nya tidak mau dihujat atau di buat malu di muka umum.

Penulis: Ardi, M.Pd
×
Berita Terbaru Update