Notification

×

Iklan

Iklan

Pentingnya Konservasi Mangrove Untuk Pengelolaan Ekosistem Pesisir Berkelanjutan

Jumat, 20 Desember 2019 | 18.59.00 WIB
Foto: Penulis
Pesisir dapat didefinisikan sebagai suatu perairan semi tertutup yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Perubahan pada kondisi pesisir tidak semata mata disebabkan oleh faktor alam. Namun beberapa kegiatan manusia juga memberikan dampak buruk terhadap ekosistem pesisir.

Wilayah pesisir merupaka daerah pertemuan antara darat dengan laut, sehingga banyak sekali hasil dari kegiatan antropogenik yang bermuara ke pesisir. Dengan kata lain, pesisir banyak menerima tekanan dibandingkan dengan ekosotem lain. Tekanan tersebut muncul dari beberapa aktivitas manusia seperti pembangunan pemukiman dan kegiatan lainnya.

Wilayah pesisir rentan terhadap perubahan, baik secara fisik maupun secara alamin. Dampak dari pada adanya perubahan tersebut adalah menurunnya kualitas lingkungan, sehingga berpengaruh terhadap kehidupan biota atau organisme pesisir seperti mangrove.

Mangrove merupakan kumpulan dari tumbuhan berkayu dan semak belukar yang hidup dengan pengaruh pasang surut serta mampu beradaptasi terhadap pengaruh salinitas. Ekosistem mangrove merupakan hubungan timbal balik antara vegetasi mangrove dengan komponen biotik dan abiotik yang ada di dalamnya.

Mangrove dapat disebut ekosistem apabila terbentuk suatu sistem yang dibangun oleh vegetasi mangrove tersebut. Ekosistem mangrove sering dijumpai di wilayah pesisir yang terlindung dari ombak. jika dibandingkan dengan ekosistem hutan yang lain, ekosistem mangrove memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi dan lebih spesifik.

Luas wilayah ekosistem mangrove di Indonesia tercatat seluas 5.209.543 ha pada tahun 1982. Namun, Luasan tersebut berkurang sampai 46,96 % atau hanya tersisa 2.496.158 ha pada tahun 1993.

Laju degradasi sumberdaya pesisir dan kelautan beberapa tahun terakhir semakin meningkat. hal ini terbukti dari berkurangnya luasan hutan mangrove serta adanya kerusakan ekosistem dibeberapa daerah penangkapan ikan atau fishing ground. Ironisnya, sebagian besar penduduk atau warga lokal yang merasa memiliki wilayah dekat pesisir sering melakukan kegiatan pemanfaatan sumberdaya tampa menghiraukan kaidah kelestarian lingkungan demi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Upaya pencegahan terjadinya konflik dan dampak negatif yang ditimbulkan, maka dibutuhkan suatu strategi kebijakan pengelolaan yang tepat dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan, namun tetap memperoleh nilai ekonomis yang berkelanjutan.

Upaya konservasi dan pengelolaan hutan mangrove penting dilakukan dalam menunjang ekonomi masyarakat pesisir. Hal ini tentu harus mendapat perhatian khusus dari semua elemen, baik stake holder maupun masyarakat biasa. Adapun alasan yang mendasari hal tersebut adalah fungsi dan peran penting dari hutan mangrove.

Fungsi dan manfaat hutan mangrove beraneka ragam, diantaranya sebagai tempat perkembangbiakan ikan, atau bahkan biota lain selain ikan seperti udang (spawning ground). Selain itu, mangrove memegang peranan penting dalam mereduksi arus gelombang, sehingga resiko abrasi yang terjadi di pantai tidak terlalu besar. Vegetasi mangrove berperan besar dalam menjaga keberlanjutan dan keseimbangan ekosistem pantai dan pesisir.

Regulasi pemerintah tentang pengelolaan Kawasan pesisir telah dimuat dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997, tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Selain itu, Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil juga membahas hal yang relatif sama.

Kedua regulasi tersebut menjelaskan makna yang dimaksud dengan sumberdaya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri dari sumberdaya manusia dan sumberdaya alam, baik sumberdaya hayati maupun non hayati. Dalam undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, makna dari pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu guna melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi, kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan serta pengendalian lingkungan hidup.

Ekosistem mangrove sangat berperan penting dalam pengelolaan sumberdaya pesisir terutama pulau-pulau kecil. Mangrove mampu menyediakan jasa ekosistem berupa perannya sebagai penyaring untuk mengurangi efek merugikan dari perubahan lingkungan.

Mangrove juga berperan sebagai tempat penyedia sumber makanan bagi biota laut terutama di daerah pantai. Hal ini disebkan oleh tingkat kesuburan dari ekosistem ini sangatlah tinggi.

Selain itu, ekosistem ini juga berfungsi dalam mereduksi limbah melalui penyerapan nitrat dan phospat yang dilakukan oleh akar, sehingga dapat mencegah pencemaran dan kontaminasi bagi perairan di sekitar ekosistem tersebut.

Ketentuan pengelolaan dan konservasi mangrove jelas tercantum dalam undang-undang nomor 27 tahun 2007 tentang pesisir dan kelautan. Beberapa konsep pengelolan dan konservasi yang sudah ada harusnya mampu diterapkan dapat menjadi acuan dalam pengelolaan ekosistem mangrove secara berkelanjutan.

Berdasarkan pedoman pengelolaan ekosistem mangrove, dijelaskan bahwa pemerintah daerah juga mempunyai kewajiban dan kewenangan pengelolaan mangrove yang sesuai dengan kondisi dan strategi wilayah lokal maupun nasional. Sehingga potensi mangrove sebagai daerah reproduksi biota,tempat biota mencari makan, pereduksi pencemaran serta pelindungi pantai dari abrasi dapat terjaga dengan baik, untuk mewujudkan ekosistem pesisir yang memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat dan manfaat ekologi yang berkelanjutan.

Penulis: Nafila Pratiwi/MSP IPB
×
Berita Terbaru Update