Notification

×

Iklan

Iklan

Kontroversi Bom Bunuh Diri di Medan

Selasa, 03 Desember 2019 | 16.20.00 WIB
Foto: Penulis
Radikalisme merupakan bibit dari munculnya aksi terorisme. Radikalisme merupakan suatu sikap yang menginginkan adanya perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan mengubah nilai-nilai yang ada secara drastis melalui kekerasan dan aksi-aksi yang ekstrem.

Aksi ini tentunya didalangi oleh pihak-pihak yang sudah paham betul tentang radikalisme dan terorisme. Lantas, bagaimanakah pelaku aksi radikalisme atau terorisme itu sendiri dapat melakukan aksinya?

Aksi terorisme yang sedang hangat diperbincangkan saat ini terjadi di Mapolrestabes Medan. Pelaku yang awalnya memasuki Mapolrestabes dengan menggunakan jaket ojek online dengan membawa tas ransel.

Sebelum masuk ke dalam Mapolrestabes, pelaku sempat dicegah oleh petugas jaga. Pelaku melakukan perlawanan dan kemudian menerobos masuk dengan menyusup ke dalam kerumunan masyarakat yang ingin membuat SKCK.

Belum ada keterangan resmi dari kepolisian bahwa pelaku merupakan personel ojek online. Selang beberapa lama, terjadi ledakan disertai kepulan asap tebal pada pukul 8.45 tepat di halaman Mapolrestabes Medan.

Akibat dari ledakan tersebut tercatat enam orang mengalami luka ringan, empat diantaranya merupakan personel anggota kepolisian, satu diantaranya masyarakat sipil, dan satunya lagi pekerja harian lepas. Ada pula kerusakan yang terjadi pada tiga unit mobil kepolisian dan satu unit mobil pribadi.

Ditemukan sejumlah barang bukti oleh tim inafis berupa baterai berkekuatan 9 volt, lempengan besi, serpihan-serpihan paku berbagai ukuran dan kabel, hingga alat tombol on off.

Saat ini menurut pihak kepolisian, pelaku melakukan aksinya seorang diri. Jasad dari pelaku itu sendiri dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan.

Dari hasil pemeriksaan sidik jari, tim penyidik berhasil mengidentifikasi pelaku dengan inisial nama RMN, berusia 24 tahun, lahir di Medan, dan berstatus sebagai seorang pelajar/mahasiswa.

Menurut keterangan warga di lingkungan tempat tinggal pelaku, RMN dan keluarganya dikenal tertutup dan jarang bersosialisasi, tidak mau berpartisipasi dalam kegiatan yang diadakan di lingkungannya.

Beberapa waktu yang lalu, pihak kepolisian telah membawa lima orang keluarga pelaku yang terdiri dari kakak, bibi, kakak ipar, serta mertua dari pelaku untuk dimintai keterangan.

Sementara itu, istri pelaku yaitu DA akhirnya diamankan oleh pihak kepolisian. DA diduga terpapar lebih dahulu dengan paham radikalisme dibandingkan dengan pelaku. Selain itu, DA juga aktif di media sosial dan pernah melakukan komunikasi dengan napi berinisial I yang saat ini tengah menjalani proses hukuman di Lapas Kelas II Wanita di Medan.

Dalam komunikasi antara keduanya, mereka merencanakan aksi terorisme di Bali dan terkait hal tersebut pihak kepolisian masih mendalami dan mengembangkan kasus tersebut.

Tidak hanya terpengaruh paham radikalisme dari istrinya sendiri, pelaku juga diduga terpengaruh oleh guru ngaji. Polisi mengaku telah mengantongi identitas guru ngaji pelaku dan melakukan penggeledahan di rumah guru ngaji tersebut di kawasan Belawan, Medan.

Dari penggeledahan tersebut disita beberapa barang, diantaranya busur panah, pipa, dan fotokopi surat-surat khilafah. Sehari sebelumnya polisi telah menggeledah rumah pelaku dan mertuanya.

Penulis: Nurbaety (Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang).
×
Berita Terbaru Update