Notification

×

Iklan

Iklan

Filosofi: Siklus Kehidupan Manusia dan Kupu-Kupu

Senin, 02 Desember 2019 | 14.54.00 WIB
Foto: Penulis
Kupu kupu adalah simbol dari kesempurnaan hidup. Dia mengajarkan kita sebuah kepastian, keyakinan dan tekad dalam menjalankan sebuah kehidupan. Hal demikian merupakan modal utama untuk mencapai sebuah perubahan.

Ulat menjadi bentuk awal yang melekat pada dirinya ketika ia tumbuh di dunia pertama kalinya. Bentuknya yang tak sedikitpun menarik membuat manusia tak nyaman berada didekatnya bahkan enggan untuk menyentuh binatang tersebut.

Perkembangannya dari ulat menjadi kepompong merupakan sebuah langkah kedua dan perlu proses cukup lama baginya dan merubah wujud dari seekor kepompong hingga menjadi kupu kupu merupakan sebuah ikhtiar dari sang ulat untuk mempercantik dirinya sehingga harapan yang ia inginkan hanya untuk terlihat menarik bagi makhluk disekitarnya.

Ulatpun sadar bahwa dirinya yang menjijikkan tapi ia optimis untuk merupah dirinya menjadi lebih baik dan membuat disekitarnya merasa senang melihat kecantikannya.

Tuhan memberikan hak penuh padanya untuk mencari jalanya sendiri menuju kehidupan yang penuh dengan keharmonisan.
Perjalan hidup sang kupu-kupu penuh dengan rintangan, hujan, panas dan bahkan ancaman yang selalu datang dari selama bentuk makhluk yang berkuasa di sekitarnya, tapi semua itu tidak membuat dirinya tumbang dan menyerah.

Fase yang dia lalui begitu berat sehingga tak mudah baginya untuk berkecimpung di luar melihat indahnya pagi hari. Siang dan malam hanya bergantung di dahan atau dedaunan dengan kekokohanya mampu membawanya menjadi diri yang baru, sayap baru yang penuh dengan corak warna, dan tubuh yang menawan, kemudian dia terbang mencari kuntum bunga yang indah untuk menghisap sari bunga.

Kupu-kupu layaknya manusia yang diciptakan Tuhan kedunia dengan kehendak-nya. Siklus kehidupan yang sama namun dengan peran dan fungsi yang berbeda. Mulai dari kelahiran, pertumbuhan, dan kematian. Jika kupu-kupu mampu merubah nasibnya untuk terlihat lebih cantik, lantas bagaimana kabar manusia yang mereka memiliki hati dan pikiran untuk melakukan sesuatu melebihi makhluk lain termasuk kupu-kupu, apakah manusia akan jauh lebih cantik dari keindahan warna pelangi disayap kupu-kupu, atau bahkan lebih menjijikkan dari seekor ulat?

Manusia merupakan makhluk paling sempurna melebihi kesempurnaan yang dimiliki oleh kupu-kupu, namun juga terkadang manusia akan menjadi lebih tercela melebihi makhluk yang lainnya.

Kupu-kupu perlu waktu yang lama untuk mengubah dirinya lebih menawan, manusia pun demikian, ada banyak langkah yang harus dilalui dengan penuh kesabaran, perjuangan hingga pengorbanan demi tercapainya keindahan yang sempurna dalam dirinya.

Penulis sengaja mengkomperasikan antara manusia denga kupu-kupu yang cantik, karena penulis yakin manusia memiliki hal untuk lebih cantik darinya.

Jangan gegabah untuk menjadi seekor kupu-kupu dalam waktu semalam, belajarnya menjadi ulat terlebih dahulu yang perlu perjuangan untuk tumbuh dan terhindar dari banyak ancaman, lalu berkembanglah layaknya kepompong yang mencari tempat aman untuk terus berkembang, bukan menghindar namun menjaga diri untuk terus hidup lalu tiba lah saatnya menjadi kupu-kupu yang dicintai orang sekitar dengan kualitas dirimu yang indah dan banyak memberi manfaat di sekitarmu.

Ulat terkadang singgah dipohon namun bukan bergantung pada pohon, kepompong terkadang berteduh di bawah daun namun bukan menjadikannya sebuah rumah tetap baginya, kupu-kupu pun terbiasa di ranting, namun ia tak menjadikan ranting sebagai tempat ternyaman. Sama halnya manusia, dimanapun berada, jangan terlalu lama menetap pada satu tempat yang tanpa adanya sebuah perubahan, manusia yang hebat ialah mereka yang terbiasa untuk keluar dari zona nyaman dan menghadapi zona bahaya untuk berjumpa dengan kesuksesan dimasa depan.

Berteduhlah dengan temanmu namun jangan pasrahkan dirimu kepada orang lain, singgahlah ke rekan kerjamu namun jangan menetap untuk waktu yang lama sebab manusia adalah makhluk yang merdeka melebihi kupu-kupu yang indah, manusia punya hak untuk melakukan apapun yang menurutnya baik maka dari itu jangan penjarakan dirimu pada barisan perbudakan yang tidak rasional, jaga prinsip dan teruslah berjuang.

Penulis: Yus adi putra
×
Berita Terbaru Update