Notification

×

Iklan

Iklan

Budaya Literasi Hanya Sebatas Topik, Pemerintah Harus Bagaimana?

Kamis, 10 Oktober 2019 | 06.27.00 WIB
Foto: Penulis
Waktu lalu, beberapa mahasiswa baru saling berbagi cerita sambil berdiskusi ringan di pinggiran jalan kota Mataram. Mereka membicarakan tentang awal-awal perkuliahannya di kampus. Salah satu topik yang mereka bicarakan adalah fasilitas publik untuk mahasiswa dan fasilitas perpustakaan yang ada di daerah tempat mereka kuliah. Disamping perpustakaan dari masing-masing kampusnya, ibukota provinsi NTB tersebut memiliki 2 perpustakaan yaitu perpustakaan kota dan perpustaan daerah provinsi.

Para mahasiswa tersebut merasa kecewa terhadap fasilitas perpustakaan yang ada, karena mahasiswa jarang mendapatkan resensi buku yang mereka cari. “Gedungnya lumayan besar, rapi, tapi daftar buku yang ada di raknya hanya buku-buku lama dan tidak pernah didatangkan buku-buku baru”, curhatan salah satu diantara mereka.

Fasilitas pendukung buat pelajar memang jarang jadi sorotan pemerintah. NTB merupakan daerah yang termasuk dalam kategori 3T yaitu Tertinggal, Terluar, dan Terbelakang. Selain dari kondisi pertumbuhan ekonomi yang lambat. Salah satu indikator lainnya adalah minimnya budaya literasi yang dimiliki oleh masyarakatnya.
Budaya literasi adalah budaya yang memiliki arti kebiasaan membaca, menulis maupun diskusi, walaupum memang kegiatan ini tidak bisa diartikan sesederhana itu. Karena kegiatan literasi memiliki makna yang jauh lebih luas dalam penerapannya.

Dikutip dari suarantb.com Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip NTB, Dr. H. Manggaukang Raba, MM mengatakan bahwa minat baca masyarakat NTB masing tergolong sangat rendah yaitu dari 100.000 penduduknya, hanya 1 orang yang membaca buku. Ini menandakan bahwa NTB masih minim akan budaya literasi. Kemudian diskala nasional hasil rilisan Economic Co-Operation and Develompent (OECD) di tahun 2015 dalam penelitian Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa tingkat literasi Indonesia berada di urutan ke 62 dari 70 negara yang disurvei.

Jika dibandingkan dengan daerah-daerah di kota besar seperti di daerah Jawa maupun yang lainnya, NTB sebenarnya memiliki semangat yang cukup besar untuk mengikuti perkembangan dunia literasi. Dalam perkembangannya, literasi kian hari kian berkembang, seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi di era digital sekarang. Terlebih di awal tahun 2019 lalu, gubernur NTB, yang biasa disapa Dr. Zul. telah mengeluarkan surat edaran untuk pembudayaan kegemaran membaca dan literasi untuk kesejahteraan masyarakat. Tentu hal ini menjadi kabar baik bagi masyarakat NTB.

Tantangan Literasi untuk revolusi 4.0

Revolusi industri 4.0 memiliki pengaruh yang cukup luarbiasa bagi masyarakat modern. Tidak tanggung-tanggung segala aktivitas telah digantikan oleh berbagai macam kecanggihan teknologi. Uniknya, revolusi 4.0 tidak hanya berpengaruh pada kelangsungan ekonomi dan industri saja, tetapi juga merembes kepada aktivitas-aktivitas lain dari masyarakat. Pengaruh teknologi membuat sebagian besar masyarakat Indonesia khususnya di NTB menjadi lebih merasa ketergantungan, terlebih dalam bermedia sosial.

Melihat pengaruh tersebut, masyarakat dan seluruh lapisan elemen lainnya dituntut untuk memiliki perasaan peka dan sadar akan kehadiran revolusi tersebut. Pengolahan informasi seperti big data, internet thing, cyber dan lainnya mengharapkan masyarakat untuk meningkatkan daya literasinya (melek litersi) supaya mampu untuk beradaptasi terhadap seluruh perkembangan yang ada.

Ironisnya, penggunaan teknologi tidak dimanfaatkan untuk mencari informasi yang memperkaya pengetahuan, melainkan hanya sekedar mencari hiburan dan kesenangan waktu luang saja. Sehingga kesadaran masyarakat dalam berliterasi dengan teknologi tergolong sangat rendah.

Tidak hanya itu, di lingkungan sekolahpun sama. Jarang sekali guru-guru mengajak siswa untuk sama-sama mengisi waktu luang dengan kegiatan literasi. Guru seharusnya bisa memberikan kegiatan positif kepada siswa ketika proses pembelajaran dan atau diluar pembelajaran sekalipun agar siswa dapat meniru kegiatan itu dimanapun mereka berada. Justru peribahasa semasa dulu rasanya masih tetap berlaku “ketika guru kencing berdiri, maka muridnya akan kencing berlari”. Seharusnya guru menjadikan peribahasa ini sebagai bahan refleksi karena guru merupakan pendidik sekaligus panutan bagi generasi bangsa ke depannya.

Disisi lain, perpustakaan sekolah sebagai wahana penunjangpun jarang memiliki buku yang dapat menarik siswa walau sekedar untuk mengunjunginya. Ruang perpustakaan hanya dipenuhi dengan buku-buku paket yang memancing rasa bosan dan penuh dengan keterbatasan.

Tidak dipungkiri lagi guru dan siswa memiliki rasa malas yang sama untuk memulai kegiatan literasi dan menyebabkan kekayaan intelektual generasi bangsa menjadi sangat minim. Benar yang dikatakan oleh budayawan Soesilo Toer bahwa budaya malas baca dan diskusi merupakan kekuatan yang dapat melemahkan suatu bangsa. Jadi, literasi sangat mempengaruhi kesiapan kita dalam menghadapi era revolusi 4.0.

Pemerintah Harus Bagaimana?

Sejauh ini, solusi dari pemerintah masih belum memiliki titik terang dan konsep yang substansial dalam menggaungkan literasi. Jika kita tinjau berita di pertengah tahun 2019 lalu, Gubernur telah menggalakkan literasi sampai kepada ranah digitalisasi yang disebut dengan literasi digital yang menjadikan pustaka NTB menjadi salah satu pustaka berbasis digital.

Penulis merasa bahwa digitalisasi pustaka mungkin suatu lompatan besar bagi masyarakat kita. Namun rasanya tidak perlu untuk dilakukan secara terburu-buru. Karena sekarang literasi belumlah dipahami sepenuhnya oleh masyarakat, walaupun perkembangan teknologinya begitu pesat seiring perubahan masa.

Dalam gerakannya di masyarakat, literasi tidak bisa berjalan dengan sendirinya. Dan pemerintah tidak bisa menaruh harapan tersebut kepada masyarakat sepenuhnya, tapi harus melakukan langkah-langkah konkrit didalamnya. Tentu saja dengan mulai menjadikan ruang-ruang strategis seperti sekolah-sekolah dan dinas-dinas terkait untuk mempercepat proses perkembangan. Yakni dengan aktif melakukan sosialisasi maupun seminar-seminar serta membangun fasilitas publik untuk mendukung gerakan literasi.

Selain itu, pemerintah juga harus memiliki program donasi-donasi buku kepada seluruh lapisan elemen masyarakatnya. Mengingat akses untuk mendapatkan sumber bacaan maupun informasi masih sangat minim. Terlebih bagi daerah-daerah yang berada di pelosok.

Program ini tentunya jangan berkutat pada buku-buku lawas yang kurang menarik untuk dibaca. Pasalnya buku-buku hasil sumbangan biasanya hanya pada satu genre yaitu buku-buku pertanian dan pelayaran yang kemungkinan buku tersebut juga didatangkan dari pusat. Sementara kebutuhan pemuda dan mahasiswa atau masyarakat umumnya tidak hanya pada lingkaran sekecil itu. Tapi buku-buku kekinian, seperti novel, filsafat, agama ataupun buku politik dan ekonomi juga perlu diperbanyak. Sehingga dapat memperkaya intelektualitas dari masyarakatnya.

Sebenarnya, gerakan-gerakan literasi sudah mulai banyak bermunculan. Ini dibuktikan dari daftar laman taman baca kemendikbud, NTB memiliki sebanyak 153 taman baca seluruh kabupaten/kota di NTB. Dan mungkin masih banyak lagi klub-klub dan komunitas literasi lainnya yang belum terdaftar. Namun, gerakan ini belum bisa bergerak lebih cepat dikarenakan oleh keterbatasan yang dimiliki masing-masing komunitas tersebut. Dan pemerintah belum menyentuhnya sama sekali.

Penulis sangat berapresiasi kepada pemerintah atas niatan awalnya untuk menggerakan literasi kepada masyarakat NTB. Maka pemerintah harusnya sudah mulai hadir ditengah-tengah semangat masyarakatnya dalam mendampingi sekaligus mengawal perkembangan masyarakat dibawah. Sesuai dengan ucapan dari bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara “Pendidikan yang berguna untuk masyarakat termasuk dalam memerdekakan manusia. Jadi niatan gubernur sekarang sudah selaras dengan apa yang dicita-citakan oleh bapak pendidikan sejak dulu, menjadikan masyarakat NTB merdeka secara intelektual.

Harapannya, gagasan literasi tidak hanya dijadikan sebagai isi sambutan dalam upacara peringatan di hari-haris besar saja. Mengingat pemerintah memiliki visi misi menuju NTB gemilang, sudah selayaknya program berjalan dan menjadikannya sebagai salah satu program fokus untuk diselesaikan secara cepat. Maka NTB bisa Gemilang dikarenakan oleh kilaunya purnama literasi hingga ke pelosok negeri.

Penulis: Ahmadiansyah (Pegiat Literasi di NTB)
×
Berita Terbaru Update