Notification

×

Iklan

Iklan

Perjuangan Safirah Menghadapi Penyakit Radang Usus

Sabtu, 28 September 2019 | 16.42.00 WIB
Foto: Poster Donasi untuk Safirah
Safirah (18) merupakan salah satu mahasiswa Jurusan Kesehatan Masyarakat di Universiats Negeri Malang (UM) semester 3 berjalan. Saat ini Syafirah sedang menjalani perawatan di Rs Syaful Anwar.

Safirah pertama kali dirawat di RS. UMM pada hari Senin tanggal 19 Agustus 2019 lalu. Awalnya sakit perut serta panas demam dan diare yang tiada henti, ketika di periksa oleh dokter di rumah sakit ternyata Safirah di diagnose mengalami usus buntu dan harus dioperasi.

Pada operasi pertama tidak menggunakan kartu Indonesia sehat (BPJS) dikarenakan kena denda dari pihak tersebut akibat keterlambatan membayar BPJS dari pihak keluarga dan terpaksa harus menggunakan umum, safiah sempat dirawat 3 hari di RS UMM pasca operasi dan menghabiskan 13 juta.

Setelah dipulangkan di kostnya (jl. Jombang) keadaan Safirah semakin memburuk, dia terus menerus diare tanpa henti serta panas demam sehingga sehari pasca operasi Safirah dirujuk kembali ke RS UMM, namun kali ini menggunakan BPJS karena sudah mengurus biaya denda dari BPJS. Hampir dua minggu Safirah dirawat namun belum ada perubahan, dokter sampai bingung terhadap penyakit yang di derita oleh Safira, sehingga dokter melakukan USG untuk melihat keadaan organ dalam Safirah. Ketika dilihat hasil USG dokter sempat menduga kalau ada kendala radang usus.

Pada hari Sabtu pagi tepatnya pada tanggal 31 Agustus 2019, Safirah megalami BAB dan mengeluarkan darah. Pihak rumah sakit langsung mengambil tindakan dengan memeriksa intens apa yang terjadi pada perut Safirah, ketika dilihat ternyata usus Safirah sudah membusuk dan harus dipotong hampir 1 meter, dan pada hari itu pun Safirah langsung menjalani operasi yang kedua.

Pasca operasi kedua Safirah sempat dirawat seminggu di rumah sakit dan sudah lumayan membaik, sehingga Safirah keluar dari rumah sakit dan dirawat sementara di salah satu kost temanbya yang dekat dengan rumah sakit dikarenakan setiap dua minggu sekali harus kontrol. Ketika control pertama masih ditanggung BPJS karena memang control awal dikasih sama pihak rumah sakit, setelah control pertama pemberian obat ada yang gratis dan ada yang haru beli dari luar salah satunya kantong untuk mengelurkan kotoran serta obat-obatan yang lain, seperti saleb pembersih organ sera penahan nyeri dan juga obat yang diminum untuk pemulihan.

Ketika control yang kedua, tidak melalui BPJS dan harus melalui umum dikarenakan hanya satu kali control, jika ingin control lanjut dengan mengunakan kartu harus mengurus dulu surat domisili kartu dan melalui faskes satu, karena Safirah berasal dari luar jawa, jadinya jika ingin control lanjut dengan kartu harus mengurus surat domisil pindah sementara. Karena keadaan sudah mendesak dan sudah waktunya control jadi control selanjutnya menggunakan umum alias menggunakan biaya sendiri.

Untuk daftarnya dan juga obatan serta untuk pemberihan luka sekali kontrol menghabiskan hampir 500 ribu, belum termasuk pembelian obat untuk diminum di rumah, harga obatnya pun cukup mahal karena memang obat untuk organ dalam, obatnya yang mengandung albumin untuk menyembuhan organ dalam khususnya pada penyakit yang dialami oleh Safirah.

Setelah beberapa hari dirawat dirumah, Safirah tiba-tiba mengalami drop dan sudah tidak sanggup bicara serta membuka mata, sehingga akhirnya dilarikan lagi ke rumah sakit, hasil observasi di rumah sakit bahwa darah Safirah menurut menjadi 60 dan masuk dalam keadaan tidak baik (kritis), setelah hampir 3 jam di observasi dan ditangani dokter akhirnya Safirah kembali sadar dan harus rawat inap lagi di rumah sakit.

Setelah hampir satu minggu di rumah sakit Safirah dipulangkan lagi karena pernyataan dari Safirah bahwa dia tidak bisa tidur di rumah sakit dan juga sudah lumayan membaik, namun belum bisa jalan bahkan duduk hanya beberapa menit. Ketika dipulangkan ke kost, hanya dsatu hari di kost tiba-tiba nyeri lambungnya kambuh dan juga dibagian operasinya ada yang infeksi dan bermasalah sehingga harus dibawa lagi kerumah sakit, pada saat itu pihak rumah sakit memberikan intruksi untuk dipindahkan atau dirujuk ke RS. Syaiful Anwar karena memang disana alat-alatnya cukup lengkap, akhirnya pada hari Jumat tanggal 19 September 2019, Safirah dirujuk ke RS. Syaiful Anwar dan menjalani perawatn intensif serta observasi dari dokter. Selama 4 hari dokter melakukan observasi terhadap Safirah, ternyata masih ditemukan infeksi atau usus yang membusuk sehingga harus dilaksanakan operasi tingkat lanjut.

Pada hari Senin 23 September 2019 Safirah melakukan operasi lanjutan yang berlangsung selama 8 jam (selama proses tersebut dokter sambil memberikan penjelasan dan juga persetujuan kelanjutan operasi kepada pihak keluarga). Setelah selesai operasi Safirah sempat merasa kesakitan dan sudah tidak tahan serta tidak kuat menahan sakit pasca operasi (kritis) selama hampir 3 jam, namun dengan semangat dan juga doa Safirah melewati masa kritis tersebut dan keadaan lumayan membaik, namun masih dalam perawatan intensif dari pihak rumah sakit.

Setiap waktu darahnya sering turun drastic, ketika darahnya 90 kadang anjlok sampai 60, begitu terus sampai hari ini. Setiap waktu selalu dipasang darah karena memang darahnya sering turun drastic. Biaya yang dikeluarkan pihak keluargan pun tidak sedikit, mulai dari biaya untuk operasi pertama serta obat-obatan yang harus ditanggung, alat-alat keperluan pemulihan serta alat untuk pembersihan dan juga keperluan perawatan yang harus beli diluar.

Sampai sekarang Safirah masih dirawat di RS. Syaiful Anwar dan masih dalam perawatan inensif dari pihak rumah sakit. Keterangan dari pihak dokter sendiri Safirah masih harus dirawat 2 sampi 3 bulan sampai benar-benar bisa dikatakan sembuh, dan masih harus ada operasi lanjut untuk penyambungan usus ketika pasien sudah benar-benar pulih.

Mubin/Indikatorntb
×
Berita Terbaru Update