Notification

×

Iklan

Iklan

PB PMII Membela Koruptor atau Memberangus Taliban di Tubuh KPK?

Sabtu, 21 September 2019 | 12.12.00 WIB
Foto: Penulis
PB PMII perlu membangun narasi yang bagus untuk galang massa aksi. Walaupun seruan itu khusus di wilayah internal organisasi. Supaya orang tidak akan membuat kesimpulan sendiri. Orang akan bertanya komitmen gerakan Mahasiswa dalam mengawal berjalannya demokrasi yang sehat, adil, jujur, dan bersih. Gerakan-gerakan politik dengan narasi yang terbatas seperti itu akan mempertaruhkan marwah dan martabat mahasiswa yang diyakini memiliki daya analitik yang tajam.

Gerakan Mahasiswa tidak dibenarkan hadir dalam rangka untuk mengintervensi hukum. Biarkan hukum bekerja dengan tata aturan-aturan yang berlaku. Kinerja kita sebagai warga negara adalah mengawal dan memantau proses berjalannya hukum dengan baik, jujur, dan adil. Hukum harus menjamin hak-hak konstitusional dari terdakwa yaitu asas praduga tak bersalah.

Hukum mesti diperkuat dengan mendorong serta menjadikannya sebagai panglima dalam menjamin keadilan dan kedaulatan. Tidak boleh hukum bekerja karena suka atau tidak suka. Hukum harus bekerja atas nama kebenaran, kejujuran, keadilan, dan kesetaraan. Semua sama di mata hukum, tidak ada yang diistimewakan, semua harus diberlakukan sama; baik rakyat jelata, konglomerat, ketua partai, pejabat, bahkan presiden sekalipun.

Ada pepatah mengatakan, "adillah sejak dalam pikiran". Hal demikian yang saya ingin sampaikan kepada komponen gerakan mahasiswa. Agar dapat melihat suatu masalah dengan jernih dan mendudukkan persoalan dengan bijaksana. Sehingga kita dapat membuat kesimpulan dengan benar. Kemudian terjamin kita dapat bertindak benar.

Kebenaran yang asli dan kebenaran yang manipulatif itu tipis bedanya. Tapi, kebenaran dalam konsep hukum memiliki standar yang jelas dan baku. Artinya, menghadirkan bukti-bukti apabila kita mau menetang hukum yang ada. Apabila datang membela atau menuntut hukum maka harus membawa nota pembelaan dan bantahan dan tempatnya di pengadilan.

Gerakan mahasiswa semakin jatuh marwahnya, akibat dari gerakan-gerakannya yang tidak memilki orientasi yang jelas. Ditambah lagi narasi-narasi yang dibangun adalah murni narasi politik tanpa data. Kelemahan-kelemahan ini perlu dibenahi dengan baik. Supaya narasi-narasi kita tidak mudah dibatalkan. Alasan demonstrasipun harus jelas dan terarah, jangan dibiasakan datang hanya sekedar berorasi dipanggung atau mimbar atas nama kebebasan tapi kosong.

Contoh sederhanya; narasi ada Taliban di tubuh KPK itu berbahaya. Apalagi Taliban itu sistem jaringan teror internasional. Kalau misalnya benar adanya, berarti kita mengakui dan bahkan secara implisit mengatakan bahwa sistem keamanan negara kita lemah sampai sistem kita dikendalikan oleh jaringan teroris ekstrimis. Apa fungsinya intilijen dan komisi-komisi rahasia negara?

Saran saya, pakailah narasi yang elegan, normatif dan sederhana. Jangan melenceng jauh dari urusan hukum, apalagi menggunakan rasisme politik dengan membawa nama organisasi tertentu di dalam press rilisnya.

Pertanyaannya setelah membaca rilis PB adalah apakah PB mau membela kebenaran atau mempertaruhkan almamater karena membela senior sahabat Imam Nahrawi? Atau memberangus Taliban yang sudah terlanjur "keren" masuk menguasai sistem di negara kita.

Penulis: Syamsurijal Al-Gholwasy
×
Berita Terbaru Update