Notification

×

Iklan

Iklan

Anggaran 240 Juta Tak Mampu Atasi Krisis Air Bersih di Desa Sangiang

Rabu, 03 Juli 2019 | 11.05.00 WIB
Foto: Masyarakat desa Sangiang saat melewati aliran sungai setelah mengambil air bersih di seberang.
Indikatorntb.com - Krisis air bersih yang dialami oleh masyarakat desa Sangiang, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, NTB sudah berlangsung hampir 1 tahun. Bahkan hingga saat ini, krisis air bersih masih menjadi masalah yang mendesak bagi masyarakat, Rabu (03/07/19).

Padahal pemerintah desa Sangiang pada tahun 2018 lalu sudah mengucurkan anggaran sebesar 240 juta untuk mengatasi krisis air bersih yang melanda masyarakat desa Sangiang. Namun, hingga saat ini, anggara sebanyak itu nyatanya belum mampu mengatasi krisis air bersih. Masyarakat pun meminta agar pemerintah desa Sangiang segera bertindak serius menangangi krisis air bersih tersebut.

"Masalah air bersih ini memang masalah yang sangat mendesak, Saya sudah panggil mantan bendahara untuk segera menyelesaikan," Imbuh A. Rasid H. Imran selaku Kepala desa Sangiang kepada Indikator NTB News.

Aliran air bersih desa Sangiang terpaksa dihentikan selama hampir 1 tahun, hal itu diakibatkan tidak adanya titik temu antara pemerintah desa yang dulu dengan pemilik lahan yang menjadi sumber air bersih masyarakat. Namun, pemerintah desa yang sekarang akan berupaya menjalin komunikasi lebih lanhut dengan pemilik lahan.

"Informasi yang saya dengar, pokok masalahnya karena tidak ada titik temu dengan pemilik lahan tempat pengambilan air bersih dengan pemerintah desa sebelumnya. Nanti saya coba bangun komunikasi kembali," Ungkap A. Rasid.

Selama hampir 1 tahun itu, masyarakat desa Sangiang hanya bisa memanfaatkan air sumur di pinggir sungai seberang desa. Hampir setiap hari masyarakat desa Sangiang bergantian mengambil air di sumur tersebut, baik berjalan kaki maupun menggunakan sampan. Namun, sumur tersebut pernah ditutup hingga 5 hari lamanya.

Kebingungan pun semakin menjadi-jadi saat dua sumur diseberang sungai tempat biasa masyarakat mengambil air bersih tersebut, ditutup oleh orang yang tidak bertanggungjawab.

"Kemarin sudah ditutup, dengan cara dikubur. Namun dibuka lagi oleh masyarakat karena nggak kuat nggak ada air," Kata Nurhayati salah satu masyarakat desa Sangiang kepada Indikator NTB News.

Dua sumur tersebut merupakan alternatif terakhir masyarakat desa Sangiang ketika aliran air bersih desa dihentikan.

"Tentunya kita berharap pemerintah desa bisa mengatasi masalah air bersih ini," Kata Ardiansyah salah satu pemuda desa Sangiang kepada Indikator NTB News.

Diketahui, pemerintah desa Sangiang yang sebelumnya sudah pernah melakukan survei titik air bersih, bahkan telah melakukan pengeboran dengan melibatkan pihak ketiga di dua titik untuk mencari sumber air bersih, namun hasilnya masih nihil.

Furkan/Indikatorntb
×
Berita Terbaru Update