Notification

×

Iklan

Iklan

Strategi Pembelajaran Menumpas Kekerasan di Sekolah

Selasa, 25 Juni 2019 | 10.59.00 WIB
Foto: Penulis
Berbagai aksi kekerasan kerap terjadi diawal tahun 2019 ini. Permasalahan kekerasan di sekolah kembali menjadi sorotan. Pengeroyokan sebanyak 3 kasus, korban kekerasan seksual 3 kasus, kekerasan fisik 8 kasus, anak korban kekerasan psikis dan bullying 12 kasus. Tidak hanya kekerasan oleh siswa terhadap siswa atau guru terhadap siswa saja, namun kini sebaliknya. Misal saja kasus siswa membully gurunya di Gresik, Jawa Timur.

Video yang berdurasi 30 detik yang sempat viral di media sosial itu menunjukkan bahwa aksi siswa dinilai tidak sopan karna siswa tersebut mendorong sang guru sembari merokok dan mengepalkan tangannya ke hadapan sang guru, yang lebih memprihatinkan lagi si siswa melontarkan kata-kata yang tidak sepatutya diucapkan jika berhadapan dengan sang guru sedangkan para siswa yang lain asik menertawakan dan merekam kejadian tersebut. Kemudian kasus kekerasan terhadap petugas cleaning servis yang dikeroyok oleh siswa di Takalar, Sulawesi Selatan. Siswa yang berjumlah empat anak dan dibantu oleh salah satu orang tua siswa tersebut telah menganiaya petugas sekolah hingga berdarah. Namun ujung dari kejadian tersebut sang kepolisian mencari jalan tengah untuk mendamaikan kedua belah pihak.

Kasus-kasus tersebut tidaklah mencerminkan tercapainya tujuan pendidikan di Indonesia. Karena pendidikan sendiri merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi yang dimiliki untuk menguatkan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan serta keterampilan yang berguna bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara. Menciptakan suasana belajar dalam pendidikan memerlukan keterlibatan semua individu dalam lingkungan sekolah, sehingga dapat mewujudkan suasana yang mendukung dalam proses belajar mengajar dan dapat mencapai tujuan pembelajaran.

Sungguh tindakkan tersebut tidak elok sebagai seorang pelajar. Seorang pelajar adalah penerus generasi bangsa di masa yang akan datang. Jika tidakan-tindakan tersebut membudaya dikalangan para pelajar, maka besar kemungkinan kehidupan dalam masyarakat tidak akan aman, nyaman dan damai lagi. Oleh karena itu, diperlukan solusi-solusi untuk penanganan atas permasalahan tersebut.

Strategi Pembelajaran Penumpas Kekerasan Di Sekolah
Sekolah adalah sebagai tempat lembaga pendidikan yang dirasa mampu menciptakan suasana belajar yang ramah, aman dan nyaman bagi semua individu di lingkungan sekolah. Semua sekolah yang ada di Indonesia lebih ditekankan lagi dalam penyelenggaraan sekolah ramah anak ini, karena sekolah ramah anak didasarkan pada prinsip-prinsip tanpa kekerasan, nondiskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hingga pengelolaan terbaik yang menjamin tranparansi, akuntabel, partisipasi dan supremasi hukum.

Ketika semua individu yang berada dalam lingkngan sekolah bahu-membahu menyelenggarakan sekolah ramah anak, akan dapat menciptakan sekolah sebagai tempat belajar, bermain, berteman dan berinteraksi dan bersuasana PAIKEM Gembrot (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan, gembira dan berbobot). PAIKEM Gembrot adalah pembelajaran yang menggunakan tema tertentu dalam mengaitkan antara pembelajaran dengan pengalaman dikehidupan sehari-hari, sehingga memiliki tujuan diantaranya agar siswa tidak jenuh dan tetap bersemangat dalam belajar, membangkitkan motifasi belajar siswa, menyiapkan mental belajar siswa, menyadarkan siswa antara hubungan pengalaman yang dimiliki dengan pembelajaran.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam menerapkan PAIKEM Gembrot ini yaitu guru memahami sifat yang dimiliki oleh siswa, dapat menciptakan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik, memanfaatkan berpikir kritis dan kreatif dalam pemecahan suatu permasalahan.

Adapun langkah-langkah penerapannya antara lain:

Pertama tahap perencanaan, guru menentukan jenis mata pelajaran dan jenis keterampilan yang dipadukan kemudian memilih kajian materi, standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator. Kedua tahap pelaksanaan, guru menyampaikan konsep pokok yang harus dikuasai siswa dan menyampaikan alat serta bahan yang diperlukan. Ketiga tahap evaluasi, tahap ini meliputi evaluasi proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran.

Di dalam penerapannya terdapat model pembelajaran yang berbasis PAIKEM Gembrot ini dengan pendekatan contekstual teaching and learnig diantaranya yaitu discovery learning, inquiry learning, problem based learning, dan project based learning.

Keistimewaan PAIKEM Gembrot
Keistimewaan atau kelebihan dari model pembelajaran PAIKEM Gembrot ini yaitu pertama pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik relevan dengan tingkat perkembangannya. Kedua kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak. Ketiga kegiatan belajar bermakna bagi peserta didik, sehingga hasilnya dapat bertahan lama. Keempat keterampilan berpikir peserta didik berkembang dalam proses pembelajaran. Kelima kegiatan belajar mengajar bersifat pragmatis sesuai lingkungan peserta didik. Keenam keterampilan sosial anak seperti kerjasama, komunikasi dan mau mendengarkan pendapat orang lain dapat berkembang dalam proses pembelajaran.

Setiap model pembelajaran mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing, begitu pula dengan model pembelajaran PAIKEM Gembrot ini. kelemahan dari model pembelajaran PAIKEM Gembrot, yaitu pertama cenderung untuk merumuskan tema yang dangkal. Kedua sulit dalam menyeleksi tema, dan ketiga guru lebih memusatkan perhatian pada kegiatan daripada pengembangan konsep.

Penerapan model PAIKEM Gembrot merupakan suatu cara belajar yang digunakan oleh guru dengan cara mengaitkan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema dengan beragam pengalaman belajar agar pembelajaran menjadi bermakna. Dengan demikian diharapkan peserta didik akan terbiasa dengan proses belajar aktif, inovatif, efektif, dan gembira, sehingga peserta didik lebih termotivasi untuk belajar.

PAIKEM Gembrot juga dapat mempermudah dan memotivasi peserta didik untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan antara konsep, pengetahuan, nilai atau tindakan yang terdapat dalam beberapa indikator dan kompetensi dasar.

Motivasi belajar tersebut merupakan kekuatan, daya penolong atau alat pembangun kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri peserta didik untuk belajar secara aktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan dalam rangka perubahan perilaku, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor, sehingga dengan adanya motivasi belajar yang baik maka kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah akan dapat teratasi.

Penulis: Tutut Ayu Dwijayanti

×
Berita Terbaru Update