Notification

×

Iklan

Iklan

Potret Hidup Orang Jawa Dalam Sebuah Sastra

Rabu, 05 Juni 2019 | 22.37.00 WIB
Foto: Penulis
“Nrimo ing pandum”, inti filosofi Jawa yang menggambarkan keikhlasan menerima hasil yang telah diusahakan ini serupa dengan tawakkal dalam Islam. Tak semudah kedengarannya memang, karena sebagian ilmuwan sosial pun menganggap ini sebagai salah satu penyebab rendahnya etos kerja di pulau Jawa, para ilmuwan berpraduga bahwa orang Jawa cenderung menunggu segala sesuatu tanpa berusaha memprakarsai. Sehingga, kecenderungan ini mengangkat dampak bahwa dalam berbagai macam kinerja akan ditentukan oleh kepentingan pribadi.

Pada dasarnya, manusia selalu hidup dalam lingkungan yang serba berpranata, maksudnya baik dilingkungan keluarga, masyarakat bahkan sekolah dan tempat kerjanya, juga akan diikat dengan yang namanya aturan, sehingga tidak menutup kemungkinan dalam setiap lingkungan akan terjadi aspek sosial atau pola pikir yang tidak sesuai namun membudaya. Misalnya saja, Orang Jawa terkenal dengan masyarakatnya yang sopan, tutur katanya halus, rendah hati dan masih banyak lagi. Namun tidak menutup kemungkinan juga, kita akan menemukan salah satu atau salah dua bahkan banyak orang Jawa yang melenceng dari budaya yang sudah terpatri di lingkungan Jawa.

Indonesia, sebagai negara pluralisme dengan 17.548 pulau, dikenal dengan kekayaan budayanya hampir di setiap penjuru. Fakta bahwa negara Indonesia merupakan negara kepulauan juga turut mendukung dan memberikan pengaruh besar mengapa kebudayaan di Indonesia bisa beragam. Jika dilihat dari jumlah suku yang ada di Indonesia, yang paling dominan dan besar adalah suku Jawa, sehingga Jawa memiliki kebudayaan yang besar pula, tentu hal ini bersifat turun temurun dan masih dipergunakan sampai sekarang. Sehingga tak heran, penduduk terpadat dengan beragam budayanya berada di pulau Jawa.

Berkenaan dengan Jawa, ada salah satu jurnal penelitian yang khusus mengkaji kebudayaan dan Sikap hidup Orang Jawa yang dikaitkan dengan novel Orang-orang proyek karya Ahmad Tohari, dalam penelitian itu tampak jelas sekali stratifikasi yang dihasilkan dari sikap hidup orang Jawa dalam kepribadian atau diri sendiri, sertasikap hidup Orang Jawa dalam hubungan bermasyarakat. Novel terbitan 2007 yang menceritakan masalah pekerjaan serta mengedepankan unggah-ungguhnya Orang Jawa ini menjadi momok penelitian yang pas dengan kebudayaan Jawa.

Dalam penelitian yang dihasilkan oleh Nuriana Istiqomah, Mukh. Doyin dan Sumartini pada jurnal Sastra Indonesia, Universitas Negeri Semarang ini, berhasil menemukan dan menumpas tuntas sikap hidup orang Jawa terhadap diri sendiri yakni diwujudkan pada sikap sabar, rila dan nrima serta sikap hidup orang Jawa terhadap masyarakat yakni ethok-ethok (pura-pura), wedi (takut), isin (malu), dan sungkan (segan). Semua sikap yang tergambar memang dikaitkan dengan pembahasan yang terdapat dalam novel karya Ahmad Tohari tersebut.

Pada hakikatnya, proses sosiologis mempengaruhi 2 perilaku kelompok, yakni integrasi dan diferensiasi sosial. Integrasi sosial terjadi karena kecenderungan untuk saling menarik, tergantung dan menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, keberterimaan mereka dalam lingkungannya akan tergantung pada penyesuaian diri yang mereka lakukan, sedangkan Diferensiasi sosial lebih cenderung ke arah perkembangan sosial yang berlawanan dari integrasi, seperti pembedaan manusia satu dengan yang lain menurut ciri-ciri biologis antar manusianya.

Jika direalisasikan dengan kehidupan sehari-hari, banyak wong Jawa sing wisoranjawani, maksudnya perilakunya sudah tidak lagi menunjukkan tabiat orang Jawa sesungguhnya. Sehingga, kaitannya dengan pembahasan yang ada dalam novel Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari, banyak ketidaksesuaian namun juga tidak sedikit pula kebenaran. Sebagai contoh, tokoh Kabul yang digambarkan pada novel memiliki sikap sabar yang tinggi, hal ini diwujudkan pada Rasa sabar Kabul terhadap kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan yang membuatnya mengambil keputusan untuk keluar dari proyek, sehingga terlihat sekali legowonya dia menerima nasib.

Budaya Jawa yang terlihat dalam novel tersebut sangat kental sekali, Orang Jawa selalu mengagungkan diri bahwa segala sesuatu meskipun pelan harus pasti, sehingga terkesan segala sesuatu yang dikerjakan harus berakhir dengan maksimal atau setidaknya mendekati maksimal. Jika sudah diusahakan namun tidak berhasil, maka cenderung nrima ingpandum. Terkait dengan hal ini tokoh Kabul juga sangat nrimo. Nrimo berarti puas, sehingga orang Jawa cenderung tidak menginginkan apa yang dimiliki orang lain dan tak ditentukan untuknya, sehingga tergolong memiliki rasa syukur yang tinggi kepada Allah SWT.

Berkenaan dengan konsep nrima ingpandumdan tawakkal, sebenarnya kedua konsep ini digunakan sebagai pengekang agar manusia tidak terlalu berharap lebih, sehingga jika hasilnya tidak sesuai, rasa susah tidak menghantui individu tersebut. Orang Jawa dengan keberagaman sikap toleransi yang sangat tinggi ini terjalin kuat dalam diri tiap individu yang tulen terhadap jawanya Jawa. Sikap saling menguatkan antar satu orang dengan yang lainnya akan otomatis terwujud pada jalinan saling menghargai antar manusianya.

Seperti sikap Ethok-ethokdalam novel Orang-orang Proyek, diwujudkan pada kerukunan antar sesama dalam masyarakat dan merupakan usaha untuk menjaga tingkat keakraban. Seperti tergambar pada cuplikan berikut : “Wat, terima kasih atas kebaikanmu kemarin,” ujar Kabul dari meja “Terima kasih buat apa, Mas ?” “Ya. Atas perangkat sholat yang kamu siapkan.” Wati menunduk. Tersenyum janggal. Mencoba membuka mulut, tapi sekian detik lamanya tak ada kata-kata yang terdengar. (hal.49)

Tergambar dari cuplikan di atas, bahwasanya sikap pura-pura dalam mengakui kebaikan yang sudah dilakukan telah menjadi budaya dalam lingkungan Jawa. Sehingga, sikap tersebut merupakan cerminan tidak adanya sikap sombong atau sok terhadap apa yang telah dilakukannya. Terlepas dari hal ini, sebagai masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa sudah barang tentu menjaga dan melestarikan budaya yang ada di tanah nusantara ini agar menjadi sikap yang baik untuk hidup di dunia pun di akhirat nanti.

Sudah terpatri dalam benak setiap orang, budaya Jawa menjadi cerminan yang baik dan dijadikan panutan bagi yang ingin melestarikan kebudayaan ini, sehingga perasaan bangga menjadi orang Jawa harus ditanam dalam-dalam di lubuk hati kita dan senantiasa mengamalkan dengan hati ikhlas serta riang gembira apa yang sudah membudaya di tanah Jawa, banyaknya karya sastra yang membahas mengenai sikap hidup orang Jawa juga bisa dijadikan pegangan untuk kita bisa belajar lebih dalam lagi budaya yang telah diajarkan oleh nenek moyang kita.

Penulis: Wafiqotin Nazihah
(Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang)
×
Berita Terbaru Update