Notification

×

Iklan

Iklan

Peluang Sastra Indonesia di Era Milenial

Kamis, 13 Juni 2019 | 20.37.00 WIB
Foto: Penulis
Berbicara tentang era milenial tentunya tidak terlepas dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih dan juga masyarakatnya yang cenderung lebih suka terhadap sesuatu yang instan.

Peningkatan penggunaan serta keakraban dengan media komunikasi menjadi pertanda bahwa kita sedang berada dalam era milenial. Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan kecanggihan teknologi di era milenial ini, tentunya sangat memudahkan kita dalam mengakses informasi dengan cepat. Di samping itu tentunya juga akan ada dampak terhadap kemudahan dalam mengakses informasi, misalnya kita sebagai pembaca dapat terkecoh terhadap benar tidaknya informasi yang kita baca.

Kemudahan dalam mengakses berita tentunya juga berdampak terhadap sastra di Indonesia. Dengan kecanggihan teknologi tersebut, penulis dapat memanfaatkan media sosial sebagai tempat untuk menuliskna karya-karyanya, selain karya yang berupa buku yang dicetak tentunya. Kecanggihan teknologi juga memberikan keuntungan bagi penulis, yang dulunya mengetik karya-karya kreatifnya dengan manual menggunakan mesin ketik, kini mereka bisa memanfaatkan computer ataupun laptop yang tentunya membantu mereka memudahkan menyelesaikan tulisannya.

Perubahan terbesar yang terjadi pada sastra di Indonesia, yaitu mudahnya penyebaran karya-karya para sastrawan, yang juga bisa diakses dengan mudah dan cepat. Bahkan tak terbatas oleh ruang dan waktu sekalipun. Betapa banyak para sastrawan muda yang sangat produktif menulis dan mempublikassikan karya-karyanya lewat media sosial seperti facebook, instagram, yaoutube, twitter dan lain sebagainya, yang tentunya para pembaca bisa menikmati dengan mudah. Bahkan karya yang mereka publikasikan lewat media sosial juga bisa diakses oleh penikmat sastra di luar negeri atau seluruh belahan dunia.

Akan tetapi karya sastra yang dibuat dengan mudah dengan cara publikasi yang cepat tentunya juga menghasilkan karya dengan mutu yang patut diragukan. Namun terlepas dari itu, para sastrawan pemula ini bisa terus mengembangkan bakatnya dengan belajar mendalami bagaimana menjadi penulis yang baik, atau bisa belajar secara otodidak dengan membaca karya-karya sastra bermutu yang tentunya ditulis oleh sastrawan yang juga bermutu.

Terlepas dari mudahnya mengakses media secara online, media cetak mengalami masa surut ketika berhadapan dengan media digital ini. Karena kemudahan mengakses media secara online, media cetak ada beberapa yang mulai mengurangi rubrik yang menjadi tempat para sastrawan mempublikasikan karya-karyanya. Tidak hanya mengurangi rubrik atau kolom tulisan sastra, bahkan ada beberapa media cetak yang menghilangkan rubrik karya sastra. Hal ini tentunya sangat disayangkan, bukan hanya berdampak terhadap para sastrawan yang kehilangan tempat dalam mempublikasikan karyanya, namun juga kepada penikmat sastra yang lebih suka membaca karya sastra lewat media cetak seperti Koran.

Bagi mereka, katakanlanh sastrawan yang dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi digital yang sangat pesat ini, tentunya akan memudahkan mereka menjadikan halaman-halaman pada media online ini sebagai tempat untuk mempublikasikan karyanya. Bahkan peluang dalam mendapatkan uang dari karya satra yang dia publikasikan di media sosial juga sangat besar, tergantung bagaimana sastrawan itu dapat mempengaruhi para pembacanya, misalnya dengan menfiralkan karya-karyanya lewat media sosial.

Tersedianya media digital dengan kemudahan dalam mengaksesnya sebenarnya memudahkan para sastrawan dalam mempublikasikan karyanya, dengan tidak selalu bergantung pada media cetak. Tergantung bagaimana para sastrawan dan penulis pemula itu dapat memanfaatkan media digital (online) yang telah ada. Bahkan beberapa tahun terakhir ini ada suatu aplikasi yang membantu para penulis pemula untuk mempublikasikan karyanya sehingga dikenal oleh para pembaca, yaitu aplikasi watpadd. Aplikasi ini selain membantu para penulis pemula mempublikasikan karyanya, secara tidak langsung juga membuat banyak orang tertarik untuk mencoba menulis atau menciptakan karya-karyanya.

Karya sastra yang dipublikasikan pada media online dengan menggunakan bahasa Indonesia hanya akan dibaca oleh mereka yang paham dengan bahasa Indonesia saja. Namun akan berbeda cerita, jika karya sastra itu ditulis dengan menggunakan bahasa Inggris. Karya yang ditulis dengan bahasa Inggris tentunya tidak hanya dinikmati oleh orang Indonesia yang paham dengan bahasa Inggris saja, namun juga pembaca dari luar negeri atau seluruh dunia juga bisa menikmatinya. Hal ini akan menjadi peluang besar terhadap sastra Indonesia dalam mengembangkan karya-karya sastra pada sastra dunia.

Peluang sastra di era milenial tentunya lebih mudah dibandingkan dengan sastra pada era sebelumnya. Mengapa demikian? Karena pada era milenial sastrawan mempunyai peluang berupa kemudahan dalam mepublikasikan karya-karyanya seperti yang telah dijelaskan di atas. hal ini menjadi PR bagi para sastrawan tentang bagaimana ia mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi pada saat ini.

Bagaimana para sastrawan dapat memperkenalkan kepada para pemuda saat ini yang jika kita lihat sudah banyak yang beranggapan bahwa sastra itu kuno, tidak gaul dan lain sebagainya. Padahal jika kita amati lagi, tulisan-tulisan singkat yang sekarang banyak diminati kaum muda di media sosial seperti quotes dan lain sebagainya merupakan salah satu bagian pada karya sastra, yaitu masuk pada karya sastra berupa puisi.

Sastra di era milenial sebenarnya banyak sekali keuntungan yang didapat oleh sastrawan, hanya saja mereka juga mendapatkan tantangan tentang menyiapkan suatu strategi untuk membuat karya yang mereka buat diminati oleh konsumen atau para pembaca. Sastrawan juga mendapat tantangan terhadap berita-berita hoax yang mudah sekali tersebar. Para sastrawan tentunya juga bisa berperan untuk membantu mengalihkan berita hoax tadi dengan karya-karya mereka.

Penulis : Firlana Izaty
×
Berita Terbaru Update