Notification

×

Iklan

Iklan

Ekonomi Indonesia "Sedang" Lewat Rest Area

Sabtu, 15 Juni 2019 | 18.44.00 WIB
Foto: Penulis
Mudik merupakan salah satu kebutuhan manusia yang sudah dijalani sebelum tiket daring (dalam jaringan) atau on line merajai teknologi. Mudik hanya dilakukan dalam skala besar satu tahun sekali setiap hari raya.

Banyak masyarakat Indonesia yang tidak mau ketinggalan melakukan kegiatan skala besar satu tahun sekali ini apalagi dipermudah dengan adanya pemesanan tiket secara praktis. Tujuan mudik bermacam-macam, dari kota banyak yang berpindah ke desa demi menuntaskan rindu kepada sanak keluarga. Hari-hari saat lebaran akan sangat berharga bagi mereka dengan meninggalkan rutinitas yang menjemukan sejenak, mengisi energi semangat menjalankan rutinitas selanjutnya.

Ternyata terdapat sisi lain yang patut kita lihat lebih dalam mengenai mudik ini. Mudik tidak hanya sekedar pulang menemui keluarga maupun menghilangkan penat. Teman akrab dan setia saat bermudik adalah macet.

Kemacetan yang membuat pemerintah melakukan segala upaya untuk menuntaskannya. Cara mengatasi macet tersebut antara lain dibangunnya jalan tol, polisi lalu lintas yang siap siaga, dan tentu saja pelebaran jalan yang menggunakan biaya tidak sedikit, menguras ekonomi negara.

Sebenarnya ada hal kecil yang dapat masyarakat umum lakukan ialah bepergian dengan menggunakan kendaraan atau angkutan umum. Hemat bahan bakar dan tentu memajukan ekonomi.

Tidak ada salahnya jika masyarakat memilih mengguankan kendaraan pribadi. Hal tersebut merupakan salah satu sebab mengapa rest area didirikan. Ketika berkendara mungkin kita akan melihat banner atau papan informasi yang menjelaskan letak suatu rest area.

Ya, rest area sering muncul ketika musim mudik berlangsung, seperti jamur pada musim hujan. Seringnya banner atau papan informasi diletakkan 100m dari lokasi rest area itu berada. Untuk menghindari jenuhnya atau lelah saat perjalanan, tidak ada salahnya para pemudik mampir ke lokasi rest area terdekat.

Pemudik dapat menemukan berbagai fasilitas yang tersedia seperti tempat ibadah, tempat makan, toliet umum, dan mini market. Rest area terkadang tidak hanya terdiri dari fasilitas tersebut. Penjual asongan pun turut serta meramaikan lokasi rest area. Banyak barang yang ditawarkan, dimulai dari barang-barang yang dapat dibeli di mini market, siomay sampai makanan bekuah seperti bakso.

Secara tidak langsung, di rest area terjadi kegiatan ekonomi yang melibatkan pemudik dan para penjual. Tidak hanya itu, penyedia jasa toilet umum pun juga terkena paparan kegiatan ekonomi. Pada musim mudik, pengguna toilet umum akan meningkat yang artinya pendapatan penjaga toilet umum juga akan meningkat.

Sebuah ungkapan terkenal dari bidang ilmu ekonomi berbunyi, semakin mahal harga suatu barang, maka semakin sedikit jumlah barang yang diminta atau dijual, dan semakin murah harga suatu barang, maka semakin tinggi permintaan. Namun hal tersebut bisa saja berbeda jika kita sudah berada di rest area.

Banyaknya kebutuhan mendesak atau hanya sekedar perasaan ingin menjadikan pemudik membeli atau membayar jasa di lokasi rest area. Terkadang alasan kepraktisan juga menjadi faktor pemudik memilih membeli sesuatu di lokasi rest area. Misalnya ada penjual buah di lokasi rest area, harganya selisih Rp.2.000 dari harga normal di pasaran.

Namun pemudik tetap membeli buah tersebut daripada membeli pada penjual buah di lain tempat. Terkadang alasan malas berhenti di tengah jalan menjadi pemicu pemudik rela merogoh kocek lebih dalam.

Beruntungnya, hal tersebut juga bisa berdampak pada perputaran buah di Indonesia. Makin banyak buah yang terjual, makin banyak buah segar yg tersedia. Jika yang terjual adalah bakso, maka penjualnya juga akan mengalami hal yang sama. Makin banyak daging yang dibutuhkan, makin baik dan kencang perputaran daging segar di Indonesia. Makin banyak pembeli, makin banyak laba yang didapatkan penjual di lokasi rest area. Tidak hanya barang dengan sifat dapat dikonsumsi, lokasi rest area dapat dijadikan tempat untuk menyuguhkan kekhasan daerah.

Lokasi rest area dapat dijadikan tempat untuk menjual oleh-oleh khas daerah. Tentu pemudik yang menyambangi lokasi rest area datang dari berbagai penjuru kota di Indonesia dan bisa saja mancanegara. Mereka akan mendapat pilihan melepas penat dan lelah dengan melihat-lihat maupun membeli pernak-pernik cantik, makanan khas, atau pun kaos-kaos dengan aneka desain menarik. Hal tersebut juga bisa menjadi penanda bahwa pemudik pernah melewati suatu kota dan membeli barang khas daerah di salah satu lokasi rest area. Tentu hal tersebut juga menyongsong hasil anak bangsa untuk eksis di masyarakat bangsanya sendiri.

Selain itu, laju ekonomi Indonesia dapat semakin cepat melalui kearifan budaya yang dituangkan dalam oleh-oleh khas daerah.
Penjual atau penyedia jasa di lokasi rest area tetap harus memperhatikan hal-hal yang dapat memikat pembeli. Jika ingin meraup untung dengan berjualan, pastikan menjual barang-barang yang berkualitas dengan harga yang pantas. Dengan begitu pembeli tidak akan kecewa.

Kepuasan yang didapatkan pembeli dapat memicu pembeli yang lain merasa penasaran dan akhirnya mendatangi sendiri pusat barang itu berasal. Hal tersebut besar kemungkinan terjadi karena kekuatan sosial media. Tidak hanya tiket yang dapat daring, promosi barang jualan pun dapat dilakukan secara daring. Ekonomi Indonesia akan dapat melaju didukung dengan perkembangan teknologi.

Mengetahui hal ini tidak harus mengubah lokasi rest area menjadi 'pasar' dadakan. Rest area tetap harus pada tujuannya yaitu menjadi lokasi istirahat melepas lelah dan penat pemudik dari segala penjuru. Lelah menjadi sangat fatal jika diabaikan begitu saja.

Adanya rest area akan sangat membantu pengguna jalan maupun pemudik menghindari kecelakaan akibat lelah. Lokasi ditempatkan rest area pun juga harus sangat diperhatikan untuk memudahkan pengendara atau pemudik mengarahkan kendarannya ke rest area. Untuk itu, rest area yang rawan akan keramaian pengendara yang ingin istirahat harus tetap nyaman, namun kegiatan ekonomi yang memanfaatkan keramaian tersebut tetap berjalan dengan adanya pengawasan agar tercapainya ekonomi yang kuat dan teratur di Indonesia.

Penulis: Asmaul Farida Azizi
×
Berita Terbaru Update