Notification

×

Iklan

Iklan

Problematika Ekonomi Desa Sangiang

Sabtu, 15 Juni 2019 | 19.27.00 WIB
Foto: Penulis
Ekonomi merupakan salah satu ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi dan konsumsi terhadap barang juga jasa, istilah ekonomi berasal dari bahasa yunani, yaitu oikos yang berarti keluarga atau rumah tangga, dan nomos yang berarti aturan atau hukum, secara garis besar, ekonomi di artikan sebagai aturan rumah tangga atau manajemen rumah tangga atau juga bisa di artikan sebagai aktivitas manusia yang berkaitan dengan produksi, distribusi,konsumsi terhadap barang dan jasa.

Ekonomi sudah ada semenjak manusia menciptakan, memasok, serta mendistribusikan barang dan jasa, di era jaman kuno sebagian besar kegiatan ekonomi saat itu berbasis produk pertanian, transaksi yang di lakukan pun sangat sederhana, terjadi antara dua atau lebih orang yang berhubungan sosial secara langsung, sistem barter banyak di gunakan pada saat masa itu.

Seiring dengan perkembangan pola pikir manusia, sistem ekonomi yang di gunakanpun kompleks, masyarakat sumeria misalnya mengembangkan ekonomi skala besar berbasis uang komoditas, di tempat lain bangsa Babilonia dan negara sampai kota di sekitarnya mengembangkan sistem utang-piutang, kontrak legal dan hukum yang berkaitan dengan praktek bisnis serta properti pribadi, sistem yang di kembangkan bangsa Babilonia sudah tergolong maju mendekati sistem modern pada masa kini.

Pada abad pertengahan masih mirip dengan abad kuno, pada masa abad pertengahan kegiatan perekonomian berputar pada perdagangan di bidang pertanian dan barang-barang pokok serta terjadi dalam kelompok-kelompok sosial tertutup, namun terjadi perkembangan lain, terutama untuk bidang pelayaran dan pengembangan wilayah kekuasaan, modal ini di kembangkan dalam bentuk penjualan barang yang di dapat dari negara jajahan, proses peminjaman dan penggantian uang ini berujung pada perintisan bank kemudian muncul ekonomi global.

Perdagangan saham juga mulai di kenal pada tahun 1513 Masehi setelah pasar saham pertama muncul di Antwerpen, pada masa ini uang koin logam mulai di gunakan khususnya di Eropa, jenis logam yang di gunakan berpengaruh terhadap nilai tukar uang tersebut, yang paling popular adalah tembaga, perak dan emas. Era modern awal dengan adanya dana sebagai modal eksplorasi belahan dunia yang belum di sentuh oleh kemajuan, negara-negara Eropa seperti Spanyol, Prancis, Britania Raya dan Belanda berkembang pesat, mereka lebih mudah mengontrol dan proteksi jalur perdagangan dengan menerapkan bea cukai.

Era revolusi industri pada abad 18 dan 19 Masehi terjadi perubahan besar di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan dan transportasi kemudian mempengaruhi kondisi seluruh dunia, baik di bidang soasial ekonomi dan budaya, sebagai bentuk penolakan atas pemikiran seorang ilmuan ekonomi Scotsman Adam Smith (1723-1790), yang kini di anggap sebagai ekonom pertama di dunia dan di sebut bapak ekonom.

Pasca perang dunia lahirlah pemahaman Keynesianisme (1883-1992), John Maynard Keynes berpendapat bahwa pemerintah perlu mengontrol pasar secara kuat dengan melakukan rekayasa atau manipulasi terhadap permintaan agregat karena pasar tidak memiliki mekanisme pasar, akibatnya hanya sedikit tenaga kerja yang terserap oleh lapangan pekerjaan.

Awal abad 21 tren ekonomi kembali mengalami perubahan setelah jatuhnya satu poros kekuatan dunia yaitu Uni Soviet yang menganut paham Komunisme, negara-negara pecahan Uni Soviet banyak mengganti sistem ekonominya menjadi ekonomi berbasis pasar, pada era ini pula munculnya satu bidang ekonimi baru yang di sebut bisnis elektronik yang di mulai dengan penyebaran internet sebagai media komunikasi masyarakat dunia.

Kita yang hidup di jaman sekarang ini menjadi penikmat hasil sejarah khususnya pada bidang ekonomi, carut marut yang terjadi dan di rasakan oleh kalangan masyarakat hari ini lebih khusus lagi di desa Sangiang kabupaten Bima Indonesia bisa di anggap sebagai dampak wajar dari sejarah panjang nan pelik perkembangan ekonomi dunia, problematika yang terjadi hari ini perlu ada pembenahan yang tepat agar tercapainnya kondisi ekonomi kerakyatan yang mensejahterakan tapi tidak menindas pihak lain.

Membangun desa artinya membangun negara karena desa adalah reprentasi dari negara itu sendiri, Indonesia dengan tegline membangun Indonesia dari desa merupakan satu kesadaran nyata bahwah desa merupakan subyek dari pembangunan ekonomi Indonesia, tegline ini bukan hanya konsep abu-abu dari niat membangun, ini terbukti dengan pemerintah pusat memberikan anggaran dana desa (ADD) yang di maksudkan dan peruntukan untuk mengeksplorasi potensi negeri dari tingkat desa, namun dalam realitas yang terjadi dana bantuan yang di kucurkan juga masih salah dalam penggunaannya, hal ini harus mulai ada pembenahan dengan membasmi habis pemikiran yang menganggap dana dari pusat adalah dana yang harus di pakai habis secepat mungkin, praktek yang salah ini mirisnya dianggap sebagai hal yang lumrah dalam kalangan masyarakat desa khususnya di desa Sangiang, kejadian ini kemungkinan besar terjadi sebagai akibat dari pemahaman yang salah, masyarakat perlu tahu bahwa dana tersebut akan di hitung sebagai hutang negara, hutang negara berarti hutang kita sebagai warga negara, akibatnya kehidupan kita tidak akan pernah terlepas dari pungutan pajak.

Lucunya lagi sekarang dana yang di miliki desa hanya di fokuskan untuk pembangunan infrastruktur atau pembangunan fisik semata, pembangunan non fisik tidak pernah ada, yang di maksud adalah pengembangan sumberdaya manusia, pada dasarnya pembangunan di peruntukan bagi manusia itu sendiri tapi jangan lupa memberdayakan sumberdaya manusia, jangan hanya fokus memanjakan manusianya dengan memberi infrastruktur semata.

Pembangunanan tidak boleh di pahami sebagai pemanjaan terhadap manusia atau masyarakat dalam hal memberi kemudahan lewat infrastruktur, penting untuk di pahami oleh kita semua khususnya di desa Sangiang tercinta bahwa ketika membangun sumberdaya manusia artinya kita sedang menginvestasikan masa sekarang untuk masa depan, maksudnya adalah pembangunan fisik merupakan pembangunan jangka pendek, pembangunan SDM adalah membangun masa depan dengan memberi pendidikan yang memadai untuk masyarat.

Mendidik masyarakat tidak boleh bias harus ada arah yang jelas, hal ini bisa terwujud jika pemerintah di tingkat desa yang punya tugas untuk mengelolah desa sadar dan menggunakan powernya untuk pemberdayaan masyarat, power pemerintah dengan dana desa bisa saja mengadakan seminar-seminar rutin dengan menghadirkan orang-orang yang kompeten dalam bidang-tertentu, baik di bidang ekonomi, budaya, politik, pertanian, peternakan, pariwisata dan lain sebagainya, kegiatan ini sebagai upaya mengedukasi dan mendidik publik atau masyarakat agar maju dalam berfikir cerdas dalam menilai masalah sosial.

Hari ini warga desa Sangiang masih tradisiaonal dalam memandang kemudian melakasanakan kegiatan-kegiatan tersebut, terlebih kegiatan ekonomi, misal warga desa pendapatannya dari bertani dan beternak sejak dulu sampai sekarang hanya meningkat sedikit saja atau juga mengalami stagnasi, ini karena tidak adanya kegiatan edukasi yang jelas terhadap masyarakat mengenai cara bertani dan beternak yang benar, belum lagi bicara hasil panen pertanian yang kemungkinan besar akan di monopoli oleh pelaku pasar.

Pemerintah di tingkat daerah atau desa harus mampu memberi pengawasan dan pengawalan dalam hal semacam ini, misal kalau hari ini para pelaku pasar atau pengusaha berani menyuntikan dana pada masyarat sebagai hutang dengan meminta balas jasa masyarakat harus menjual hasil pertaniannya kepada para pemilik modal.

Kenapa tidak pemerintah hadir dengan badan usaha milik desa memberi pinjaman agar meminimalisir kemungkinan monopoli pelaku pasar, praktek semacam ini perlu di kendalikan oleh pemerintah desa Sangiang selaku pengelolah desa.

PEMDES harus berani menginterfensi kegiatan ekonomi masyarakat, interfensi pemerinta adalah hal wajar sesuai dengan prinsip ekonomi pancasila, melindungi pasar warganya sama saja PEMDES sedang memastikan sandang, pangan, papan warganya tercukupi, ini adalah indikator yang jelas dalam menanta kemudian mensejahterakan kehidupan masyarakat yang membutukan perlindungan negara atau dalam hal ini di amanahkan kepada pemerintah desa Sangiang.

Belum lagi bicara cara masyarakat kita menabung yang itu sangat bertolak belakang dengan prinsip ekonomi, misal masih banyak masyarakat yang suka menabung di rumah, tabu piti pita nepi ra weli udu mpa mbe,e, jara, capi ra sahe, kebiasaan ini selain di nilai tidak ekonomis juga sangat berbahaya, kenapa penulis mengatakan seperti itu?

Alasan pertama adalah orang Sangiang yang menyimpan hartanya dengan berupa ternak yang berlimpah tersebut artinya tidak berpartisipasi langsung dalam mendukung peredaran uang di daerah atau desa, dalam hukum ekonomi kita juga perlu tahu bahwa ketika uang beredar sedikit maka daya beli pasti turun, begitulah cara uang bekerja, begitulah pola ekonomi bermain, pun cara ini berbahaya juga bagi para pemilik ternak yang banyak ini karena kita tidak tahu bencana alam datang kapan dan di mana, penulis hanya takut seketika semisal gunung Sangiang meletus kemudian menghabisi ternak-ternak ini, akibatnya apa? pemilik ternak yang rugi besar, mau mengharap ganti rugi atau bantuan dari pemerintah? sia-sia saja! sebab mekanismenya rumit, buka mata negara kita kesusahan, apa kita mau menambah hutang negara? ahh janganlah kasian sudah terlalu banyak beban negara kita, sudah cukup miskin negara ini, mari kita jangan menjadi beban negara lagi.

Terkait menabung uang di rumah itu juga berbahaya, why? lagi-lagi alasan uang tidak berputar, penulis lebih merekomendasikan agar uang-uang tersebut di gunakan untuk kegiatan-kegiatan usaha mikro atau makro, atau juga lebih gampah ayo menabung di bank, kalau ada koperasi mari kita simpan pinjam di koperasi, cara ini dapat menekan lajur inflasi agar kita jauh-jauh dari krisis moneter 1998, cara-cara ini lebih bermanfaat bagi kita semua, problematika ini merupakan contoh kecil kegagalan kita dalam membangun, lebih lanjut penulis akan mencoba membagi dan menjelaskan permasalah di beberapa aktivitas yang ada dalam masyarakat khususnya di desa Sangiang.

1. Pertanian

Dalam sektor pertanian juga masih ada budaya atau kebiasaan yang salah di desa Sangiang, umumnya yang terjadi di lingkungan kecamatan Wera, dan bahkan mungkin terjadi di lingkungan kabupaten Bima, seperti hasil pertanian yang di simpan sendiri oleh petani, contohnya petani padi menanam dan panen kemudian di simpan sendiri untuk di konsumsi sendiri, padahal hasil panen cukup di jual juga, praktek ini tidak punya nilai ekonomis padahal hasil pertanian, beras tadi harusnya mampu memutar perekonomian tapi dalam realitas tidak terjadi, entah karena minimnya pemahaman ekonomi atau memang terlanjur nyaman dengan kebiasan yang salah ini.

Pendapat ini bukan karangan dan opini penulis sendiri tapi berdasarkan hasil observasi di lapangan, dan wawancara terhadap beberapa petani di berbagai desa, namun sangat di sayangkan sampai detik ini belum ada peran aktif dinas pertanian atau para sarjana pertanian yang hadir memberikan kontribusi mereka dalam mengubah polah-polah yang salah ini, cenderung mereka hanya berfikir setelah wisudah masuk lembaga pertanian mana dalam rangka memenuhi ambisi si perut atau hanya sekedar melindungi kebutuhan finansial pribadi.

Pemahaman ini masih beredar luas juga dalam pemikiran mahasiswa fakultas pertanian yang acuh dan cuek terhadap kondisi lingkungan, kesadaran magis mungkin itu kata-kata yang cocok untuk mengungkapkannya, atau mungkin mahasiswa yang belajar di fakultas pertanian tak punya nyali untuk bicara kebudayaan yang salah dalam kehidupan para petani, budaya ini sudah di tinggalkan sekitar setengah abad lalu oleh masyarakat atau petani di pulau jawa, lalu untuk alasan apa kita masih mau mempertahankan kebiasaan yang tidak punya nilai ekonomis ini?

2. Peternakan

Pada sektor peternakan juga masih ada masalah yang itu sifatnya mendasar, pasar bahari di desa Sangiang menjadi bukti nyata ketidak mampuan pemerintah desa dalam menghidupkan ekonomi masyarakat, semerta-merta penulis tidak menyalahkan pemerintah dengan ketidak mampuan mengelola aset karena masalahnya cukup kompleks namun tetap saja itu merupakan tugas dan tanggungjawab yang tidak boleh di lupakan.

PEMDES kalau ingin maju harus membiasakan diri menerima kritik karena kritik adalah wujud kepedulian, masyarakat juga berkewajiban memberi kritikan yang membangun tanpa sentimen semata terhadap penguasa.

Dalam pengamatan penulis di lapangan juga menemukan masalah yang cukup rumit tentang sektor peternakan, entah ini karena kurangnya partisipasi aktif dinas perternakan atau pihak-pihak terkait, namum kemungkinan besar memang begitu, semisal adanya jarak antara lembaga-lembaga negara dalam berkoordinasi, seperti dinas peternakan dan pemdes yang tidak sinergis dalam melakukan pembangunan dan pengawasan di bidang peternakan, seharusnya peternakan bisa menjadi salah satu tiang penopang ekonomi jika terkelola dengan baik, contoh kongkrit matinya ekonomi di bidang perternakan adalah pasar induk Wera yang berlokasi di desa Tawali.

Tidak ada aktivitas penjualan daging yang ada hanya penjualan ikan, sayur dan lain-lain, ini membuktikan sektor peternakan Wera pada umumnya sekarat, spesifik kalau di desa Sangiang distribusi daging ini mati total, padahal warga banyak yang beternak baik beternak kambing, sapi, kerbau dan sebagainya, namun kenapa kita tidak bisa makan daging tiap hari sedang daging sangat di butuhkan, masalah ini berindikasi pada rendahnya daya beli masyarakan, sederhananya yaitu masyarakat masih hidup di bawah garis kemiskinan, dapat di simpulkan pemerintah gagal memutar roda ekonomi dalam bidang peternakan.

3. Pariwisata

Sektor pariwisata juga cukup mengenaskan nasibnya, masalah awalnya karena kurang kompeten dan tidak lihainya pemerintah dalam mendorong sektor ini, sedang kita tahu daerah kita punya sesuatu untuk di tawarkan, seperti hasil kebudayaan, gunung, pantai dan lain sebagainya, kondisi pariwisata di desa Sangiang dan kabupaten Bima pada umumnya bisa disebut mati suri, sinergitas menjadi masalah utama, pemerintah tidak mampu mendorong dan memaksimalkan potensi yang ada dengan kebijakan-kebijakan yang tepat.

Belum lagi masyarakat tidak siap dengan kembaruan, alasan-alasan tradisional menjadi argumentasi masyarakat, takut budaya tergerus oleh jaman, turis yang di anggap sebagai manusia yang amoral dan lain sebagainya, hal ini menjadi penghalang dalam membangun ekonomi khususnya di sektor pariwisata, masyarakat harus bisa menerima dan ramah terhadap pendatang jika ekonominya ingin maju membutuhkan gerakan kolektif dalam upaya memajukan sektor pariwisata baik untuk penyadaran dan menanamkan pemahaman bahwa kita hidup di jaman yang serba terbuka dengan hal-hal baru.

Bicara amoral kita tidak bisa mengatakan asing adalah sumber dari kebiadaban itu, toh dalam masyarakat kita sendiri dapat di temukan tingkahlaku amoral, tindakan non etis bisa terjadi pada manusia yang hidup dimanapun dan kapanpun, jadi tidak perlu menyalahkan orang lain untuk masalah etika, kebiasaan yang baik kita terima dan pertahankan dengan cara yang elok pula, hal yang tidak kalah penting adalah tergantung bagaimana kita mendidik diri atau generasi kita dalam rangka membangun peradaban yang kita impikan.

Problematika ini harus di selesaikan secepatnya di mulai dengan berani melakukan trobosan-trobosan baru, trobosan baru hanya bisa muncul oleh keberanian yang berlandaskan pada kebenaran, baik itu di mulai oleh pemerintah ataupun para akademisi yang mengatakan dirinya sebagai masyarakat ilmiah tapi juga sering tidak ilmiah carah berfikirnya, kesadaran kolekti ini harus mulai dibangun dari sekarang jika kita tidak ingin jauh dari kemajuan dan hidup dalam keterpurukan ekonomi, bumi yang kita pijak ini punya banyak hal yang bisa di kembangkan dengan semangat gotong royon.

Kenapa daya beli masyarakat kita rendah? jawaban yang tepat adalah di daerah kita uang yang beredar masih sangat sedikit, ini mempengaruhi tingkat kemampuan masyarakat untuk membeli kebutuhan, selain masalah roda ekonomi yang patah-patah juga tidak di dukung oleh jumlah uang yang beredar dalam masyarakat, ini terjadi karena tidak seimbangan perputaran uang, uang di daerah kita lebih banyak yang keluar namun sedikit yang masuk karena kegiatan pemenuhan kebutuhan kita di penuhi oleh pihak luar, kita tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup masyarat kita sendiri sedangkan kita punya segalahal yang kita butuhkan, penulis berpendapat bahwa pengelolaan kita masih salah, ini terjadi karena minimnya pengetahuan ekonomi.

Penulis berharap akan ada sosok pemimpin dalam pemerintahan di tingkat daerah atau desa yang sadar bahwa pentingnya pemberdayaan SDM, berani melakuakan pembaruan, cerdas dalam menata lingkungan, mampu memanag perputaran uang, kemudian pitar dalam merekayasa kondisi ekonomi agar tercipta kesejahteraan masyarakat khususnya di desa Sangiang, kabupaten Bima pada umummya. penulis mengharap kritik dan solusi atas problematika ekonomi dalam tulisan ini dari para pembaca agar lebih baik kedepannya, sekaligus penulis mengajak seluruh elemen masyarakat agar berpartisipasi aktif dalam membangun negeri mulai dari desa kita masing-masing, pesan penulis “jangan menjadi beban untuk negara kita tercinta Repuplik Indonesia” jayalah bangsaku.

Penulis: Igon Nusuki
×
Berita Terbaru Update