Notification

×

Iklan

Iklan

Valentains Day dan Peranan Pemerintahan

Senin, 18 Februari 2019 | 15.56.00 WIB
Oleh: Rahmatul Aini
Jurusan : Komunikasi Penyiaran Islam
Universitas (Muhammadiyah Mataram)
Editor : Gie
Foto : ilustrasi Puisi
Valentaine’s Day, bertepatan pada (14/02) sebuah momen yang mereka sebut dengan hari kasih sayang, selalu identik dengan cokelat, bunga, hingga seks hal itu sangatlah bukan mencerminkan budaya islam bila melek pada sejarah. Islam tidak melarang yang namanya cinta, dan juga tidak menafik kan cinta, akan tetapi sialm mengaturnya sesuai fitrah manusia, dan ditempatkan pada tempatnya. Cinta itu fitrah manusia, maka ada cara agar fitrah itu tak ternodai.

Tapi sayang masih banyak remaja yang merayakannya, dengan alasan kasih sayang ingin mereka ungkapkan pada orang yang dicintainya. Anehnya iming-iming kasih sayang, akhirnya mereka melakukan aktifitas kebablasan, melakukan perzinahan, minum alkohol, dan sebagainya. Pada intinya valentaine’s day pekan maksiat/ fre sex.

Perayaan valentaine’s day bukan hanya dilakukan hanya dilakukan oleh mereka yang non muslim Nasrani  akan tetapi tidak sedikit ummat islam pun merayakannya, padahal perayaan islam ada dua, perayaan idul fitri dan idul adha. Maka selain dari perayaan tersebut bukan perayaan islam. Padahal Allah sangat melarang keras ummat islam mengikuti kebiasaan yahudi dan nasrani, yang justru merusak akidah mereka bahkan menjerumuskan mereka ke dalam keharoman, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: diriwayatkan oleh imam bukhori beliau bersabda (Barang siapa yang mengikiti suatukaum maka ia termasu bagian dari mereka)

Dari survai yang dilakukan diketahui 1000 kondom terjual dalam satu bulan di mini market, mereka mengatakan karena mudah ditemukan dan dipajang didekat meja kasir, bisa dibayangkan perbulan 1000 kondom yang terjual, itupun bukan pada perayaan asih sayang, dan bisa jadi tidak menutup kemungkinan bahwa pasca hari valentaine’s day stock kondom dan alat kontrasepsi lainya habis terjual. Tidak hanya itu miras pun sudah dilegal kandan barang-barang tersebut banyak ditemukan di mini market lainnya.

Melihat fakta diatas menjadi bukti kelalaian peran pemerintah dalam hal tersebut, lebih parah lagi mereka melegalkanyang tak sepantasnya mereka legalkan, miras sudah dijumpai di mana-mana, mereka pun meraut keuntungan disana dengan ada nya pajak, bila ada paja maka silahkan saja, entah itu halal atau haram dalam kaca mata agama hal demikian tidak menjadi tolak ukur bagi mereka selagi ada keuntungan yang didapatkan, maka hal itu sah-sah saja bagi mereka. Seharusnya mereka bersikap tegas, sigap membasmi ketika ada hal-hal yang mampu merusak generasi penerus bangsa, lihat para remaja sekarang mereka sibuk dengan hubungan asmara yang tak jelas, galau dengan arah tujuan hidupnya sebenarnya, mereka malah menjadi  wabah/penyakit didalam negara mereka sendiri, zina, minum alkohol, narkoba, judi, pergaulan bebas sudah menjadi kebiasaan mereka sehari-harinya, akan dibawa kemana generasi yang semacam itu? Bahkan sama sekali mereka tidak memiliki kontribusi bagi negara, yang sejatinya merekalah sebagai tongga perubahan bagi negara.

Fungsi sebenarnya pemerintah haruslah memelihara para rakyatnya bahkan ummatnya, ketika ada kasus semacam diatas dan pembunuhan, pelecehan dan kasus yang lain, mereka langsung turun menyelesaikannya, dan mencari penyebab mengapa hal itu bisa terjadi, menuntaskan dari akar-akarnya, akan tetapi fakta ril yang kita lihat bahwa pemerintah tak pernah ambil pusing dengan asus demikian kelaparan, kemiskinan, pergaulan bebas pada remaja bukanlah beban bagi mereka, mereka hanya disibukkan dengan kekuasaan mereka, bagaimana cara supaya merea bisa mempertahankannya, hal demikian mengakibatkan fungsi negara yang sesungguhnya meri’ayah ummatnya dalam lini kehidupan, menjadi pelayan bagi rayatnya, akhirnya lalai bahkan tidak ada peri’ayahan sama sekali.

Berbeda dengan pemerintahan dalam islam, selalu jeli, teliti, peka terhadap masalah disekitar, jangankan kelaparan kemisinanmereka bisa tuntaskan, apalagi seperti halnya problematika anak-anak remaja sekarang, islam punya solusi untuk itu semua, bahkan erbukti bahwa daulah islam mampu mencetak para ilmuan, generasi yang berkualitas seperti halnya al khawarizmi, ibnu sina, alfarabi, al abbas bin firnas seta ilmuan-ilmuan yang lain nya yang bisa kita jadikan teladan dan keahliaannya/ ilmu bisa kita rasakan sampai sekarang.

Maka sesungguhnya ketika islam menjadi akidah kita tentu setiap peraturan didalamnya kita juga terima, karena peraturan itu langsung dari sang pencipta, sang maha segalanya yang tak terbatas keahlian nya, entah itu dalam hal mengatur ibadah ritual bahkan mengatur tatanan negara sekalipun sang pencipta Allah SWT yang maha tau peraturan yang terbaik bagi ummatnya. Al-Quran Dan As-Sunnah.
 Jika kemudian kita sebagai manusia sebagai manusia biasa diatur pula dengan peraturan manusia yang serba terbatas dan lemah, maka siap-siap akan dicetak generasi yang rusak dan tak bermoral, bukan hanya itu masyarakat pula akan rusak dengan peraturan mereka sendiri.

Maka solusi dari semua permasalahan diatas adalah kembali ke idiologi islam,serta daulah dan sistemnya haruslah islam pula. Maka apapun masalhnya islam solusinya. Allahu Akbar……
Wallahua’lam Bissawal.
×
Berita Terbaru Update