Notification

×

Iklan

Iklan

Insiden Penembakan di Sape, Formal Jogja : Bupati Bahkan Presiden Harus Bersikap Tegas

Rabu, 20 Februari 2019 | 06.25.00 WIB

Dedi Darmawan, Ketua Umum Forum Mahasiswa Langgudu (Formal) Jogjakarta
Reporter : Rangga Tritama
Editor      : Subhan Al-Karim

Indikatorntb.com - Aksi yang dilakukan pemuda dan masyarakat Kecamatan Sape Kabupaten Bima yang berujung ricuh dengan aparat keamanan hingga terjadi insiden penebakan oleh pihak keamanan belum lama ini, ditanggapi berbagai kalangan. Forum Mahasiswa Langgudu (Formal) Jogjakarta juga angkat bicara.

Ketua Umum Formal Jogja Dedi Darmawan mengatakan, Bupati bahkan Presiden harus lebih tegas menyelesaikan persoalan itu sesuai hukum yang berlaku. Menurut Dedi, oknum polisi itu harus diusut dan dipecat secara tidak terhormat.

"Dalam insiden penembakan itu, tentu Bupati bahkan Presiden harus bersikap tegas, mengusut dan mengusulkan untuk dipecat secara tidak terhormat oknum polisi itu," tegasnya kepada indikatorntb.com, Rabu (20/02).

Lebih lanjut, mahasiswa asal Desa Rupe Bima ini menegaskan, "buat apa negara memakainya lagi kalau iya ternyata polisi yang prematur alias gangguan kejiwaan. Namun bila iya Bupati berhenti pada menjenguk korban lalu menganu-nganu saja, ya keterlaluan itu namanya".

Sementara itu, Dedi Darmawan juga menjelaskan bahwa, dalam UU Nomor 2 tahun 2002 tentang kepolisian negara Republik Indonesia di poin B, tugas aparat ialah sebagai pengayom, pelindung dan pengaman masyarakat sekaligus alat negara.

"Nah, mengacu pada esensi tugas dan fungsinya aparat sudah tentu mereka harus mendampingi dan menjamin keamanan masa aksi, bukan malah menjamu, menenteng sejata kemudian tembak sana tembak sini," ujar Dedi.

Pantauan Dedi, sampai disini aparat telah melanggar koridor hukum yang berlaku. Kata dia, tidak hanya soal hukum positif negara, aparat juga telah melanggar norma kemanusian, yang saat itu masa aksi dia buat turun derajat kemanusianya karna dihajar layaknya maling, ditembak layaknya hewan buruan.

"Pada intinya saya selaku manusia normal mengutuk tindakan kejahatan manusia oleh aparatur di Bima-Sape dan mendesak Bupati dan Wakil Bupati Bima menyelesaikan kasus ini, mengusut untuk melakukan penangkapan dan memecat pelaku penembakan itu," tegas Dedi Darmawan.

Sebelumnya, dikabarkan tribunnews.com, awalnya, unjuk rasa ratusan masyarakat berjalan damai. Warga meminta Pemerintah Kabuapten Bima hadir menjawab tuntutan untuk perbaikan jalan rusak dibeberapa Desa yang tesebar di wilayah setempat. Dalam aksi tersebut, massa membakar ban bekas di ruas jalan.

Pihak Dinas PUPR Bima, Camat Sape, aparat kepolisian dan TNI setempat berusaha melobi massa aksi untuk koordinasi. Tetapi upaya tersebut mendapat penolakan dari warga.

Namun, setelah salat Jumat, massa aksi kembali turun ke jalan dan menutup akses menuju pelabuhan. Tak lama kemudian, satu pleton anggota Polres Bima Kota dikerahkan untuk membubarkan paksa aksi tersebut.

Saat pembubaran itu, massa aksi tetap melanjutkan orasi. Dilansir dari tribunnews.com, Rabu (20/02), karena ada bahasa provokasi, aparat langsung menghentikan orasi dan mengamankan salah satu dari pendemo.

Rupanya, hal itu memancing reaksi massa, situasi pun memanas. Bentrokan akhirnya pecah manakala peserta aksi melempar batu ke arah aparat.

Petugas mengeluarkan tembakan peringatan serta tembakan gas air mata. Aksi kejar-kejaran antara warga dan polisi pun terjadi. Akibatnya, lima warga terluka, dua di antaranya dibawa ke Puskesmas terdekat.


Sementara tiga orang lainnya terpaksa dilarikan ke RSUD Bima karena diduga menderita luka tembak.

×
Berita Terbaru Update