Notification

×

Iklan

Iklan

Politik Salah Satu Jalan Menuju Kesucian

Kamis, 14 Februari 2019 | 10.42.00 WIB
Syahrul Ramadhan Al Faruq Ketua Umum Cendekiawan Muda Pulau Sumbawa- Jakarta
Penulis : Syahrul Ramadhan Al Faruq

Ketika bicara politik, yang ada dalam fikiran kita bahwa politik adalah bicara kekuasaan dan kepentingan seseorang. Pola pikir seperti inilah yang mempengaruhi cara pandang saudara kita yang lain. 

Tidak seharusnya kita membenci politik, karena pada dasarnya politik adalah jalan menuju kesucian. Siapapun yang membenci politik dan mengajak saudaranya yang lain untuk membencinya, itu juga politik. 

Dalam kontestasi pemilihan dimulai dari tingkat DPRD Kabupaten sampai Pilpres Republik Indonesia, itu tidak terlepas dari yang namanya politik, salah besar jika kita tidak ikut andil dalam kontestasi politik, karena kita sendiri yang menentukan arah dari pada sebuah daerah sampai Negara. 

Sifat apatis seseorang yang sadar akan sebuah perubahanlah yang mempengaruhi kemajuan sebuah daerah dan atau negara. Seharusnya mereka yang sadar itu lebih memberikan kontribusi pemikiran dan pandangan terhadap seseorang atau kelompok yang masih minim pemahamanya dalam dunia politik, bukan malah mengajak untuk meninggalkan sebuah kontestasi. 

Dalam waktu dekat, 17 April 2019 kita dipaksakan untuk terlibat aktif dengan cara menggunakan hak suara untuk memilih salah satu perwakilan dari mulai tingkat daerah sampai Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Jika tidak memiliki dasar pemahaman terhadap politik, kita harus siap-siap mengikuti arahan seseorang sampai hak suara kita mengikuti kemauawan seseorang. Saya rasa ini adalah penyakit yang menggerogoti tubuh politik itu sendiri. Ini yang harus kita hindari bersama. 

Saya sebagai Ketua Umum Cendekiawan Muda Pulau Sumbawa-Jakarta, mengajak semua rakyat Indonesia khusunya di Pulau Sumbawa untuk menggunakan hak suaranya untuk memilih salah satu perwakilanya dengan hati nurani. Itu adalah solusi yang bisa saya tawarkan untuk sebuah masa depan yang lebih baik. 

Lebih khusunya bagi Pulau Sumbawa itu sendiri. Karena dalam hal ini, saya sendiri pada akhirnya harus ambil sikap ketika sudah banyak para perwakilan yang dipilih oleh masyarakat dan meninggalkan kepentingan masyarakat, dan akan datang kembali ketika ada kepentingan yang sama.

Berpura-pura sederhana, sampai mau lagi memakai sarung dan sandal jepit setelah sekian lama tidak pernah menggunakannya lagi.

Saya akan katakan, "itu adalah pembodohan dan itu adalah yang merusak politik". Politik adalah baik, para pelaku politik itulah biadab. "Karena kita hidup dalam ruang lingkup politik, pada akhirnya kita melupakan orang baik"Tapi jangan lupa didalamnya ada orang tulus dan baik yang akan mewujudkan Indonesia dan Pulau Sumbawa yang lebih berkemajuan dan beradab. 

Jakarta, 14 Februari 2019 
×
Berita Terbaru Update