Notification

×

Iklan

Iklan

Solusi Islam dalam Pembiayaan Sistem Pendidikan

Minggu, 23 Desember 2018 | 08.56.00 WIB
Oleh : Ranty.dly
Foto : ilustrasi tulisan
Biaya pendidikan yang mahal bukanlah suatu hal yang baru-baru ini terjadi dan kita tahu. Begitu banyak anak-anak SD dan SMP yang ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi harus terputus hanya karena perekonomian yang rendah dan biaya mahal yang dibebankan. Begitu pun bagi yang sudah lulus SMA/sederajat, tentu sangat ingin untuk bisa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

Ada pun bagi pelajar yang sudah menyandang gelar sebagai mahasiswa, mereka tidak bisa lepas dari biaya pendidikan mahal yang harus dikeluarkan, di mana biaya tersebut setiap waktu bukannya berkurang, akan tetapi bertambah banyak.

Seperti yang terjadi hari ini, di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, merupakan salah satu universitas terbesar dan ternama di Nusa Tenggara Barat (NTB). Bayangkan saja, biaya UKT/SPP yang sudah cukup membuat mereka kesusahan harus ditambah dengan meningkatnya biaya SPP yang harus dibayarkan. Hal ini terjadi di akhir tahun ini, ketika mahasiswa baru angkatan 2018/2019 diminta oleh pihak akademik masing-masing fakultas untuk memverifikasi data. Di mana, ketika data-data tersebut diinput, para mahasiswa yang awalnya berada di grade 1 (RP.500.000) berubah menjadi grade 2 (RP.1.000.000). Tidak jarang para mahasiswa yang semulanya berada di grade 2 berpindah ke grade yang lebih atas, yang secara otomatis biaya yang harus dikeluarkan semakin banyak pula.

Pernyataan dari seorang mahasiswa Fakultas Kejuruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dengan inisial “R” menyatakan, bahwa pada awalnya ia berada di grade 1, lalu ia pun dipindahkan ke grade 2, dan masih banyak keluhan dari mahasiswa-mahasiswa lainnya. Hal tersebut tentu akan menjadi beban bagi orang tua mereka yang perekonomiannya berada pada tingkatan menengah ke bawah.

Jika pemerintah mengklaim, bahwa mereka telah memberikan begitu banyak beasiswa, maka hal tersebut bukanlah solusi hakiki dengan melihat fakta, bahwa jumlah masyarakat yang sangat banyak tidak sebanding dengan kuota beasiswa yang mereka tawarkan.

Lalu ke mana anggaran dana besar yang dikucurkan untuk dunia pendidikan tersebut?
Jika fakta di lapangan memperlihatkan suatu kenyataan yang berbanding terbalik dengan janji-janji dari pemerintah, maka dari sinilah kita bisa melihat, bahwa sistem pendidikan hari ini memang berstandar pada sistem kapitalisme (Sekuleristik-Materialistik). Di mana, mereka (masyarakat) yang memiliki kekayaan melimpah saja yang dapat menempuh pendidikan yang tinggi dan sesuai keinginannya. Sementara, bagi masyarakat dengan perekonomian di bawah rata-rata hanya akan hidup sebagai penonton dan berangan-angan semu saja.

Hal semacam itu sangatlah berbeda pada saat Daulah Islam menguasai dunia. Di mana, ketika Daulah Islam (Khilafah) menjadi negara adidaya pertama di dunia mampu mensejahterakan muslim dan non-muslim di daerah kekuasaannya.
Bahkan, Daulah Islam yang menerapkan Islam secara kaffah memandang, bahwa pendidikan merupakan suatu kewajiban bagi masyarakatnya, sehingga pada masa itu pendidikan digratiskan bagi siapapun, baik seorang muslim maupun non-muslim selama ia berada di bawah naungan Khilafah Islamiyah.

Bahkan, bukan hanya biaya pendidikan yang digratiskan oleh negara kepada para pelajar, mereka juga dibiayai secara finansial, dalam arti kebutuhan-kebutuhan mereka dipenuhi oleh negara. Dan ini diberlakukan bagi seluruh pelajar di dalam Daulah Khilafah, bukan hanya bagi segelintir orang saja seperti pada sistem saat ini.

Maka dari itu, hal terbaik yang harus kita lakukan saat ini adalah dengan menemukan solusi hakiki bagi permasalahan yang carut-marut  di negeri ini.

Solusi hakiki tersebut ialah kembalinya Daulah Khilafah memimpin dunia dengan diterapkannya ideologi Islam. Karena hanya negara Khilafah-lah yang dapat menjadi wadah agar seluruh syariat Islam dapat diterapkan secara sempurna (kaffah). Di mana, tatkala syariat-syariat dari Sang Khaliq dijalankan secara kaffah, maka Islam sebagai rahmatan lil 'alamin dapat kembali terealisasi.
Wallaahu a’lam.

×
Berita Terbaru Update