Notification

×

Iklan

Iklan

Pola Asuh Demokratis dalam Keluarga dan Dampak Bagi Perkembangan Karakter Anak

Minggu, 02 Desember 2018 | 19.27.00 WIB
Foto : Permata Kiranasari Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Penulis : Permata Kiranasari

Rumah Cinta Hasan al-Banna merupakan buku edisi kompilasi dari dua buah karya Muhammad Lili Nur Aulia, Cinta di Rumah Hasan al-Banna dan Persembahan Cinta Istri Hasan al-Banna. Buku Rumah Cinta Hasan al-Banna menceritakan kisah nyata dari Syekh Hasan al-Banna yang merupakan Ahli Hadist dan tokoh masyarakat.

Seorang Ayah yang aktif berdakwah, mau tidak mau waktu dan perhatiannya banyak tercurah untuk kepentingan umat yang lebih luas, tetapi ia tetap menuangkan perhatiannya terhadap tumbuh kembang dan tarbiyah terhadap anak-anaknya.

Syekh Hasan al-Banna masih tetap mampu menempatkan posisi dan fungsinya sebagai suami bagi istrinya sekaligus Ayah bagi anak-anaknya. Buku Rumah Cinta Hasan al-Banna layak diaparesiasi karena di dalamnya memberikan pesan dan cara Hasan al-Banna dalam mendidik anak-anaknya dengan baik. Pada kenyataannya Muhammad Lili Nur Aulia mampu memberikan karya yang berbeda dan dapat diterima pembaca dengan baik. Sebagai salah satu karya sastra, buku-buku Muhammad Lili Nur Aulia tetap menduduki sebagaimana fungsi sastra, yakni indah dan mendidik.

Syekh Hasan al-Banna dikaruniai delapan anak, dua buah hatinya meninggal ketika masih berusia kanak-kanak. Mungkin kita berfikir bagaimana bisa seorang Ayah yang pendakwah dapat mendidik anak-anaknya dalam waktu yang singkat? Bagaimana cara mendidik Syekh Hasan al-Banna terhadap keluarganya? Dalam buku Rumah Cinta Hasan al-Banna ada petikan-petikan kisah yang didalamnya menggambarkan cara Hasan al-Banna mendidik anak-anaknya.

Putri Hasan al-Banna yang bernama Sana mengisahkan, “Ayah pernah memberi nasihat secara tidak langsung kepadaku. Aku ingat ketika saudaraku, Saiful Islam, sangat gemar membaca cerita komik. Ketika itu ayah tidak mengatakan kepadanya agar buku tersebut jangan dibaca. Namun, ayah pergi dan memberinya kisah-kisah kemuliaan Islam, antara lain kisah Antarah bin Syadad, Shalahuddin al-Ayyubi, dan lainnya.

Beberapa kemudian saudaraku itu sendiri yang meninggalkan buku Arsin Labin (komik) dan lebih banyak membaca buku dari ayah. Ayah senang mengarahkan kami dengan cara tidak langsung agar apa pun yang kami lakukan itu tumbuh dari diri kami sendiri, bukan dari perintah ataupun tekanan siapa pun.” Orangtua memang dianjurkan tidak segera memberi pemecahan langsung terhadap persoalan yang dihadapi sang anak.

Banyak dari beberapa orangtua yang sangat mengatur keputusan yang akan dipilih oleh anaknya, ketika anak sering kali menerima penekanan dari orangtua, anak tersebut dapat mengalami tekanan jiwa yang bisa berpengaruh pada perkembangan anak tersebut, rasa ketakutan, kegelisahan, ketidaknyaman yang akan menghantui anak tersebut. Sikap memberi tahu dan mengajari anak tentang cara mempertimbangkan suatu masalah atau cara memandang suatu peristiwa menjadi salah satu pola pendidikan yang baik sehingga anak membuat keputusannya sendiri, bukan karena perintah atau tekanan dari pihak lain.

Ada tiga macam pola asuh orangtua terhadap anaknya, yakni otoriter, permisif, dan demokratis. Pola asuh otoriter menghendaki anak mengikuti semua keinginan orangtua. Orangtua menerapkan seperangkat peraturan kepada anaknya secara ketat dan sepihak, cenderung menggunakan pendekatan yang bersifat diktator. Anak harus tunduk dan patuh terhadap kemauan orangtua.

Pada pola asuh permisif, orangtua cenderung memberikan banyak kebebasan kepada anaknya dan kurang memberikan kontrol. Orangtua banyak bersikap membiarkan apa saja yang dilakukan anak. Sementara itu, pola asuh demokratis, orangtua memberikan kebebasan yang disertai bimbingan kepada anak. Orangtua banyak memberikan masukan dan arahan terhadap apa yang dilakukan anak. Ketika anak diberikan hukuman, orangtua menjelaskan kenapa dia harus dihukum.

Orangtua bersifat objektif, perhatian, dan kontrol terhadap perilaku anak. Berdasarkan ketiga pola asuh tersebut, pola asuh demokratis yang dipandang paling efektif di dalam lingkungan keluarga. Sementara itu dari tiga pola asuh di atas dalam buku Rumah Cinta Hasan al-Banna memperlihatkan pola asuh demokratis, yakni pola asuh yang memberikan kebebasan yang disertai bimbingan kepada anak, perhatian, memberikan masukan dan arahan terhadap apa yang dilakukan anak.

Hasan al-Banna dalam mendidik anak-anaknya sangat jarang menghukum anaknya, jika memang anak-anaknya salah dalam perbuatan Hasan al-Banna selalu memberikan keteladan langsung. Di dalam buku Rumah Cinta Hasan al-Banna anaknya yang bernama Saiful Islam menuturkan, “Hukuman yang paling berat yang diberikan ayah kepada salah seorang dari kami adalah jeweran di telinga. Suatu ketika, telingaku pernah dijewer ayah, dan ini merupakan bentuk hukuman yang paling berat yang aku rasakan.

Masalahnya adalah pada suatu pagi, ada kesalahan yang kulakukan. Namun, ketika siang harinya, sekitar jam sebelas, ayah meneleponku untuk menenangkanku dan memperbaiki hubungan kami. Peristiwa itu sangat berpengaruh pada jiwaku.” Hasan al-Banna tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk melakukan sesuatu. Namun, Hasan al-Banna mengarahkan dengan cara yang tepat. Sikap lemah lembut dalam mengelola keluarga memiliki banyak manfaat, akan membuat hati lebih lapang dan senang, menambah erat ikatan batin di antara keluarga dan memperkuat pertalian keluarga. Anak-anak menjadi tidak takut untuk berterus terang mengakui kesalahan mereka.

Seharusnya orangtua tidak akan merespon pengakuan kesalahan anak dengan tindakan kasar, tetapi dengan kelemahlembutan sikap. Sebuah hukuman adalah sikap untuk mengenalkan dan menyadarkan seseorang atas kesalahan yang dilakukannya dan menjadikannya tidak akan mengulanginya.

Ketika terjadi kesalahan hal paling utama adalah dengan menjelaskan bahwa perbuatan itu salah dan memberikan solusinya, dengan memberikan solusi tetap menjaga perasaan seseorang, diiringi nasihat yang lembut, memberi arahan yang baik. Melalui buku Rumah Cinta Hasan al-Banna karya Muhammad Lili Nur Aulia, memberi pesan khususnya untuk orangtua agar lebih memahami arti penting orangtua bagi perkembangan fisiologis, sosiologis, dan psikologis anak. Tak ada anak yang tanpa masalah.

Masa kanak-kanak adalah masa tumbuh kembang yang perlu pemberitahuan, pemahaman, penjelasan, pelatihan, dan perlu pengaturan dari berbagai situasi yang rancu. Perlu dicarikan solusi dengan cara yang benar dan sesuai dengan tingkat pemikiran anak yang belum sempurna perkembangannya, menjauhi pola penghukuman. Sikap lemah lembut yang sangat dibutukan anak. Sebuah pelukan bisa menghantarkan energi kuat dalam diri seseorang. Pelukan orangtua merupakan sumber kehangatan yang bisa menyentuh perasaan anak yang paling dalam.

Permata Kiranasari/indikatorntb.com
×
Berita Terbaru Update