Notification

×

Iklan

Iklan

Sikap Politik Kita

Kamis, 27 September 2018 | 08.42.00 WIB
Syamsurijal Al-Gholwasy
Oleh: Syamsurijal Al-Gholwasy

Di tengah memanasnya nuansa politik Indonesia, kita tidak perlu terpancing untuk menjadi bagian dari mesin konduktor. Tetapi sebisa mungkin untuk memposisikan diri sebagai mesin pendingin dari perdebatan-perdebatan publik yang kadang tak berarah.

Busur-busur mereka diarahkan hanya untuk menyasar siapa saja yang membuka diri dengan segala kelemahannya, kemudian menerima busur itu tanpa filter atau sistem imun intelektual.

Muatannya adalah Hoax. Dan hoax tersebutlah yang disebarkan bagaikan virus mematikan, sikap dan perilaku murahan tersebut meracuni banyak pikiran orang-orang yang menelan informasi itu mentah-mentah. Hoax jadi musuh bersama, dan tidak bisa dibiarkan.

Karena informasi tersebut akan menelan banyak korban, disebabkan hoax jadi dalil dan senjata bagi mereka yang mengalami keterbelakangan psiko-politik.

Kegagalan kita selama ini adalah akibat ketidak mampuan kita memahami posisi kita sebagai apa, sehingga kita mengalami kegagalan pula menempatkan dan mengarahkan diri harus bagaimana. Pada akhirnya kita menempuh “jalan pintas” atau “jalan serong” yang merupakan lawan dari “jalan lurus”.

Maksud hati mendamaikan suatu kelompok, tetapi justru mempekeruh suasana. Jika demikian, kita telah terjebak pada sikap oportunis dan egoistik. Kita tidak mampu meredam keegoisan dan kepentingan pribadi kita, untuk menghadirkan sebuah jalan perdamaian bagi mereka yang berseteru. Dan kita gagal sebagai representasi dari kepemimpinan umat.

Kepemimpinan umat sangat dibutuhkan di tengah krisisnya nilai dan norma dalam kehidupan kita hari ini. Seiring berkembang pesatnya teknologi dan informasi menjadikan manusia lebih terbuka mengakses apapun yang ingin diketahuinya, akan tetapi sejalan dengan itu nilai-nilai kejujuran, kebersamaan, toleransi, dan keadilan tergerus.

Individu atau kelompok yang satu dengan mudahnya menfitnah, menghujat, menggunjing, dan menyebarkan kebencian terhadap individu atau kelompok yang lain. Semuanya terjadi akibat daripada hilangnya kesadaran pada masing-masing pribadi manusia.

Minimnya kesadaran pribadi yang demikian menggagalkan segala macam upaya kelompok intelektual humanis-pluralis-spritualis untuk melakukan integrasi meng-indonesia. Keinginannya adalah masyarakat Indonesia tidak lagi membentuk sebuah polarisasi akibat dari ego-politik, ego-mazhab, dan ego-paham keagamaan lainnya.

Mereka harus berjalan bergandengan tangan memikirkan dan merancang suatu perwujudan politik yang sportif, sehingga demokrasi berjalan dengan sempurna. Tidak harus adalagi kelompok-kelompok yang merasa dirugikan atas melemahnya budaya politik kita, dan mengarah kepada tercorengnya wajah demokrasi kita.

Seharusnya rasa memiliki dan rasa tanggungjawab menjadi “roh” bagi setiap orag yang terlibat, sehingga setiap orang tersebut memilki keikhlasan dalam menghasilkan laku demokrasi yang jujur dalam menopang kemajuan bangsa dan negara. Karena dari situ akan muncul suatu produk demokrasi (pemimpin) yang memiliki kapasitas, akuntabilitas yang kredibel.

Kita perlu bekerjasama dalam membuat sebuah trobosan-trobosan untuk membongkar kesombongan diri, bahkan pemberhalaan yang dilatarbelakangi oleh suatu kepentingan golongan. Karena seringkali perilaku sekelompok orang dan golonggan tertentu menarik masyarakat untuk saling megeliminasi dan mendiskreditkan sesamanya, padahal mereka harus betul-betul merayakan politik dengan damai sebagai wujud pesta demokrasi.

Harapan besar ini, tidak akan mungkin dapat terlaksana tanpa kerjasama dan konsistensi kita sebagai “sel inti” atau “urat saraf” dari demokrasi. Tugas masing-masing kita bukan saling mencurigai dan merendahkan. Apalagi saling mengadu domba satu dengan yang lainnya, tetapi berupaya membuat sebuah ikatan kebutuhan bersama, berdasarkan nilai dan asas demokrasi yang benar.

Yang dimaksud ikatan kebutuhan itu adalah kebutuhan untuk mendapatkan kesejahteraan, perlakuan yang adil, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang universal.

Jadi, berhentilah membunuh demokrasi dengan informasi hoax, politik yang tidak sportif, melumpuhkan orang lain, bahkan mengarah pada saling menihilkan satu dengan yang lain.

Jadilah aktor politik yang memberikan warna baru dalam dalam mewujudkan demokrasi yang terbaik, dengan mengedepankan kejujuran, transparansi, keadilan, toleran, dan egaliter. Umat menunggu kita sebagai representasi daripada kepemimpinan umat itu sendiri.

Penulis : Syamsurijal Al-Gholwasy
×
Berita Terbaru Update