Notification

×

Iklan

Iklan

Setiap Zaman Punya Jiwa

Senin, 10 September 2018 | 17.55.00 WIB
Foto : Penulis (memegang buku)
Pada masa kepemimpinan Ir. Soekarno dikenal dengan era kebangkitan melawan tirani kolonialisme, yang merupakan puncak perjuangan bangsa Indonesia dari jajahan bangsa asing.

Kebebasan berkespresi manusia nusantara dibatasi oleh moncong-moncong senjata, kebebasan berjelajah dihantui ranjau-ranjau peledak, kebebasan akal dibatasi oleh rasa ketakutan akan serangan kebinatangan dan sifat kekuasaan para penjajah.

Rumah berduka berjejeran sepanjang sejarah kelam masa itu, baik berusia tua, muda, anak-anak maupun balita, ketika berseberangan dengan penjajah maka nyawa berakhir diujung belati, berdukalah saudara dan kerabat terciptalah rumah duka berselimutkan darah.
Namun Bung Karno bersama kawan-kawan tidaklah hanya berselimut pada duka dan meratapi nasib, para pejuang pun tidak menginginkan zamannya terlewatkan dengan penderitaan, karena bukan hanya masa itu para menzina asing menindih anak bangsa tapi akan berlanjut pada masa-kemasa, maka jiwa zaman pun ditancapkan kuat di dalam dada.

Masa perlawanan berlangsung tak sekejap mata akan tetapi berbuih-buih darah menetes, keringat berhamburan, walau mayat-mayat pun bersimbah ruah di atas tanah peperangan, jasad lawan maupun jasad kawan.

Perjuangan yang tidak sia-sia untuk membuktikan bahwa mereka telah berjaya pada masanya, dengan penuh percaya diri mengaumkan ba'it-ba'it suci yang diwakilkan oleh Bung Karno sebagai penya'ir ulung untuk menuntaskan bunyi Proklamasi Kemerdekaan dihadapan ribuan manusia Indonesia kala itu.

Berakhir pulalah ketegangan, ketakutan, kematian, kebobrokan, kedustaan atas kezoliman bangsa penjajah dan mereka telah membuktikan kepada kita bahwa itulah jiwa pada zamannya.

Seperti pepatah Bung Karno, "Berikan aku sepuluh Pemuda cerdas, maka aku akan mengguncangkan dunia". Pernyataan itu seharunya dapat menjadi bahan telaan bagi kita untuk memperkuat dasar jiwa kebangsaan.

Kini kita telah menikmati perjuangan tersebut, namun kita lupa untuk menghargai pengorbanan mereka dan bahkan tidak mengingat lagi akan hal itu, dengan teori ketidaktahuan dan kelupaan kita pada sejarah perjuangan itu.

Bisa ditelaah secara mendalam bahwa bangsa yang telah menjadi negara ini tidak lagi menemukan jiwa perjuangan sebagai bentuk pembuktian bahwa kita memiliki jiwa pada zaman kita sendiri.

Perlu dipahami bahwa Korupsi, menindasan, terorisme, konflik, pembunuhan, perampasan dan lain-lain bukanlah suatu jiwa zaman yang dimaksud, melaikan suatu kebobrokan sistem berpikir oleh para generasi bangsa yang tidak mampu menemukan arah perjuangan pada masanya. Kondisi diera milenial ini bukan sesuatu yang membanggakan tetapi keadaan yang memalukan.

Akan terjawabkan dengan pernyataan Bung Karno bahwa "Perjuanganku akan lebih mudah, karena melawan penjajah tapi perjuangan kalian akan lebih sulit, karena melawan bangsa sendiri", pernyataan tersebut merupan cerminan bagi generasi bangsa bahwa sejak dahulu para pejuang bangsa sudah meramalkan keadaan-keadaan beberapa puluh tahun mendatang akan terjadi keguncangan besar melanda negeri ini yang disebabkan oleh oknum-oknum bangsa sendiri, pada saat itu.

Jiwa zaman kita telah dirampas oleh gatget atau teknologi yang canggih, dimana hadirnya smartphone ini sebagai pembatas interaksi sosial yamg berdampak pada penurunan kualitas hidup berbangsa dan bernegara. Ketika antara sesama masyarakat jarang saling berkomunikasi akan menciptakan manusia yang individualistik, ketika terjadi sifat keindividuan maka akan melahirkan keegoan dalam berpikir dan bertindak.

Lahirnya pemimpin yang korup karena sifat individual yang hanya ingin makmur sendiri bersama keluarganya, terjadinya konflik horizontal dan vertikal tercipta karena keegoisan yang menganggap diri dan kelompoknya paling benar, maka terciptalah negeri yang mendustai rakyat dan menikam sistem.

Kapan saatnya kita akan tersadarkan bahwa inilah zaman kita dan inilah masa kita untuk membuktikan bahwa setiap generasi bangsa memiliki jiwa zaman, semasih masyarakat dan pemerintah menilai posisinya paling benar, dan semasih rakyat dan pemerintah tidak saling mendukung, maka negeri ini tidak akan pernah lagi memiliki generasi yang sadar akan perannya untuk menentukan jiwa peradaban pada zamanya.

Ketika bangsa Indonesia mengimpikan masyarakat madani, pemerintah mesti sadar bahwa kepentingan rakyat diatas segala kebijakan dan ketika bangsa Indonesia mengharapkan Pemerintah yang absolut, maka masyarakat mesti ikut andil dalam mewujudkan Indonesia yang maju. Para pemuda dan pemudi Negara Indonesia harus berdikari, berinovatif, dan berkreativitas dalam menentukan sikap dan perilaku agar tidak tercederai oleh sifat apatic dan hedonis serta tindakan sekehendak nafsu.

Perlu disadari oleh anak bangsa bahwa aset berharga suatu negara, bukanlah peralatan militer tercanggih, bukan kekayaan alam yang memumpun dan bukan pula infrastruktur yang lengkap, akan tetapi para pemuda dan pemudi-lah aset Negara yang paling utama.

Untuk apa peralatan militer yang canggih jika tidak memiliki pemuda yang memberdayakannya, untuk apa kekayaan alam yang memumpun jika pemuda tidak memiliki generasi untuk mengelolanya dan untuk apa infrastruktur yang memadai bila tidak ada pemuda dan pemudi yang memanfaatkannya, karena pemuda dan pemudi-lah sebagai harapan untuk mempeloporinya menjadi kemasan yang menjanjikan kemajuan.

Kita harus sadar bahwa inilah zaman kita, dan kita harus perkuat prinsip perubahan kita agar jiwa zaman kita tidak luntur oleh imajinasi semata.

Saatnya kita menentukan arah perjuangan bangsa ini, untuk memperlihatan pada dunia bahwa generasi muda Indonesia tidak pernah menyia-nyiakan pergorbanan para leluhur bangsa ini. Kita akan dikenang walau jasad dicabik-cabik cacing tanah, kita akan disejarahkan walau abu kita telah ditelan waktu, karena kita tidak pernah melewatkan satu momen pun tanpa berpikir untuk kemakmuran anak dan cucu kita dihari esok.

Tidak perlu menumpahkan darah antar saudara dalam mencapai tujuan, tidak perlu korupsi, kolusi dan nepotisme untuk keluarga yang sejahtera, tapi kita hanya perlu berpikir, bersatu, bertindak untuk menciptakan segala yang diimpikan.

Keadaan tidak harus memberi alaram untuk bertindak, namun bertindaklah agar keadaan menyesuaikan dengan ihktiar yang kita geluti, usaha tidak akan mendustai hasil dan kemajuan tidak akan menciptakan kebodohan.

Karena Setiap zaman punya jiwa zaman, maka inilah zaman kita.

Salam Perjuangan.

Penulis : Defisofian
×
Berita Terbaru Update