Notification

×

Iklan

Iklan

Media Sebagai Alat Penguasa

Senin, 10 September 2018 | 18.01.00 WIB
Foto : Penulis
Media merupakan aset penting dalam keberlangsungan masa depan negara dan bangsa.

Karena memang satu tinta pada pena yang terukir dalam sebuah media bisa membungkam ribuan penguasa dan bisa pula sebaliknya. Pemimpin besar bahkan diktator sekalipun dibelahan dunia manapun banyak yang rontok dengan keperkasaan sebuah pena, atau dimasa sekarang jari-jari wartawan yang menari di atas keyboard komputernya.Tarian jemari itulah yang mengantarkan semua fakta untuk dipublikasikan.

Akibatnya media dengan segala keunggulannya mampu mempengaruhi opini publik hingga berujung tumbangnya kekuasaan, sekali pun dia teramat berkuasa. Kekuasaan akan tumbang jika jari jemari wartawan sudah mulai menari-nari.

Tak bisa di pungkiri bahwa media adalah senjata revolusi masa kini. Media massa menjadi bagian dari alat kekuasaan yang bekerja seakan secara berideologi untuk membangun kepatutan terhadap kelompok yang berkuasa.

Negeri ini, keampuhan media massa baru terlihat seketika setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 mei 1998, tepatnya semasa orde reformasi tiba. Berbagai tokoh besar dan kecil rontok dan jatuh dari kursinya. Sedikit Banyak hal itu dipengaruhi oleh kekuatan media massa.

Disisi lain Antonio Gramsci (1971, dalam Al Zastrouw 2000) melihat media merupakan arena pergulatan antar ideologi yang saling berkompetisi, Gramsci berpandangan media massa sebagai ruang bagi semua ideologi, Ini berarti media bisa menjadi alat penguasa, alat legitimasi, juga control terhadap wacana publik.

Namun, dia juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan, seperti yang terjadi pada tahun 1998 di Indonesia. Media juga bisa menjadi alat membangun kultur dan ideologi yang dominan bagi kepentingan kaum elit, sekaligus menjadi instrumen perjuangan kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan.
Media juga bisa memberikan pengaruh positif dan bisa saja negatif, pengaruh tersebut bersifat relatif bergantung pada yang idiologi pengendali, itulah yang menyebabkan kenapa media sebagai kekuatan raksasa yang sangat diperhitungkan.

Selain itu Pers atau Media secara kelembagaan memilikikode etik dan kesempatan yang sama untuk memberikan pemaknaan terhadap realitas sosial serta mencoba mempengaruhi khalayak dalam pikiran, gagasan maupun nilai-nilai yang dianggap baik oleh si penyampai pesan (komunikator) atau pengelolanya.

Menurut wartawan senior Parni Hadi, Jurnalis yang baik harus memahami banyak persoalan dan berwawasan luas, karena pada hakikatnya jurnalis adalah jendela yang menghubungkan sebuah ruangan dengan dunia luar, maka jurnalis harus menjadi jendela yang senantiasa terbuka, jernih bagi siapa saja yang hendak memandang dari luar maupun dari dalam jendela.

Persoalan mengenai realitas yang akan diliput media massa adalah perdebatan paling penting diantara kubu kaum pluralis dengan nalar kritis. Mereka para penulis pluralis melihat apa yang terjadi, apa yang terlihat adalah fakta sebenarnya yang dapat dilihat dan diliput. Sebaliknya pandangan kritis melihat relitas yang hadir sesungguhnya merupakan realitas yang terdistorsi.

Hal ini berarti realitas yang ditampilkan media bukan yang sesungguhnya, tetapi telah dipoles sedemikian rupa untuk kepentingan dominan. Dalam konteks ini media menjadi semacam alat untuk mensosialisasikan kelompok tertentu.

Menjadi Persoalan bangsa Indonesia bagaimana keadaan media massa saat ini, sehingga terkadang dapat diamati media yang satu memihak salah satu komunitas tententu sesui konspirasi semula, sehingga pemberitaan media tersebut selalu berulang-ulang ditayangkan di televis maupun media online. Sehingga hadir pertanyaan, apakah masih ada media yang netral dan independen dalam memberitakan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara secara meluas dan bersifat netral bagi konsumen atau penontonnya, media cetak dan media online seakan menjadi cambuk yang menakutkan bagi seluruh rakyat yang indonesia, terlebih lagi kaum tertindas.

Mungkin rakyat sudah bisa menilai media yang telah berpihak pada seseorang elit atau oada kelompok tertentu, sehingga berita tersebut selalu mencoba menyudutkan lawan semisal dalam hal politik. seperti kita Tahu TV one itu punya Aburizal Bakri, Metro Tv itu punya Surya palo, semua sudah memahami isi pemberitaan mereka yang seakan memiliki suatu kendati dan bisa dikatakan pro dan kontrak.

Ini adalah Bayangan nyata yang terjadi di Indonesia, dimana media sudah tidak lagi menempatkan posisinya sebagai control sosial dan penetralitas serta balance dalam pemberitaan, semuanya hanya dijadikan alat kepentingan politik, maka yang tidak memiliki media akan selalu mendapat kritik pedas meski kesalahannya hanya sedikit.

Kita hanya berharap ada perubahan dalam media massa kita saat ini yaitu netral dan balance, karena untuk control sosial yang lebih terarah buat masyarakat dalam hal penyampaian informasi. Apa lagi media memiliki kode etik sendiri, harusnya menjadi dasar bagi media untuk menunjukan sikap independensi tanpa temdensi politik dan lain sebagainya.

Penulis : Killiman Ariansya
×
Berita Terbaru Update