Notification

×

Iklan

Iklan

Penantian Cinta Seorang aktivis

Rabu, 12 September 2018 | 14.12.00 WIB
Foto : Penulis
Indikatorntb.com-Di ujung tepian dermaga bisu musafir sepi meniti jembatan pilu…
Hanya ada rindu yg mengetuk selebihnya adalah bayang mu yang teus memantul dinding batu…

Di mana ada mu…?

Kaki ku tak gentar memburu hanya kadang gemetar saat kau jauh dari sisi ku…
Melangkah berlahan meniti awan bercumbu…
Ku ukir jejak mu resah menusuk jantung ku…

Cinta…

Kau lantunkan hati ku menjadi sedih sayu segalnya menjadi esa dalam sebuah rasa…

Kala malam meremas jiwa mencengkram tawa…
Ku hanya butuh kamu agar tak ada rindu yg menyiksa…

Ingin ku lukiskan semua rasa ini tapi aku takut terjatuh dalam lembah kesunyian yang begitu menyiksa batin.  " harapan tak sesuai kenyataan", itulah yang menjadi ketakutan bagiku sehingga ku anggap itu penyakit pobia untuk diriku sendiri.

Kini sendu air mata ku belum usai & berlalu…
Warnai payung menari dijalanan rampak menitik air mengadu…

Luluh tak tertahan mengelopak segar semerbak wangikan rumah hati mu…

Bolehkah ku menengok mu sesekali waktu…?
Andai kau ijinkan…
Aku ingin menjemput bahagia mesti hanya satu debu….

Entahlah. Aku tak terlalu mengerti, bahkan dengan perasaanku saat ini. Mengapa aku begitu menyukaimu? Apakah ada alasan yang bisa menjelaskannya? Adakah rumus-rumus yang bisa memecahkannya? Atau, apakah harus ada alasan untuk mencintaimu? Pertanyaan-pertanyaan ini terus muncul, meledak, dan semakin menyebar memenuhi setiap sel dalam tubuhku.

“Selama ini kita selalu bersama, sering bertatap muka, walau tak sepatah katapun terucapkan.”

Senyummu, tatapan matamu, begitu menyejukkan. Bahkan ketika kamu diam tanpa kata, kamu terlihat begitu mempesona. Kamu begitu mengagumkan. Terlalu sempurna untuk kumiliki. Ah… aku tak sanggup. Aku sudah masuk terlalu dalam, jauh ke dalam perasaanku yang terlalu besar untuk kubendung sendiri.

Hatiku mulai gelisah. Batinku kian tersiksa dalam kebungkaman. Begitu menyesakkan. Menunggumu dalam ketidakpastian.

“Jika kamu merasakan yang sama, kenapa kamu tak bicara?”

“Kalaupun tidak, kenapa tak kamu ucapkan juga?”

“Adakah orang lain yang telah merenggut perhatianmu?”

“Apalah arti hadirku di sini?”

Sampai akhirnya terbesit dalam pikiranku, “Haruskah aku ungkapkan?”. Aku sudah terlalu lelah untuk memendam semuanya seorang diri. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaan ini. Semua rasa penasaran ini. Kepadamu, untuk dirimu yang kucintai.

Aku takut. Aku hanya takut untuk mengatakannya. Aku takut kalau kamu malah pergi menjauh. Kebungkamanmu saja sudah sangat-sangat menyiksaku. Apa jadinya jika kamu benar-benar menjauh? Habislah aku. Begitu lemah tanpamu. Karena kamu semangatku, separuh jiwaku.

Seandainya kamu rasakan yang sama, kemarilah, tatap mataku, dan genggam tanganku. Ijinkan aku temani hari-harimu. Tumpahkan keluh kesahmu hanya padaku. Karena aku tahu, berat rasanya menanggung beban seorang diri tanpa seseorang yang menemani. Peluk erat tubuhku. Kuingin rasakan hangat tubuhmu, mencecap aroma khasmu.

Tapi jika yang terjadi sebaliknya, aku akan berusaha lebih kuat meskipun terasa berat. Setidaknya aku sudah mengatakannya. Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa paksakan dirimu. Cukup aku yang terluka. Kubiarkan kamu bahagia. Mungkin terdengar seperti omong kosong. Tapi itu caraku untuk menenangkan diriku. Karena aku tahu, bukan kamu tapi perasaanku yang salah.

Aku terlalu berambisi sehingga tenggelam dalam lautan perasaanku sendiri. Tak akan kusesali itu. Setidaknya belenggu dalam dada sudah menghilang. Terbang melayang jauh ke angkasa. Entah langit ke berapa.

Tapi, semua itu hanya angan-angan. Dan pada akhirnya, aku hanya berdiam diri, tak sesuai ekspetasi. Dan kini kusesali. Karena kamu tak kunjung kembali. Andai aku bisa memutar waktu, akan kuungkapkan semua kepadamu. Setidaknya aku sempat mengatakannya walaupun pada akhirnya aku tak dapat memilikimu.

Dari aku, yang mencintaimu dalam diam dan menantimu dari jauh wanita hebatku.

Penulis : Kaliman Ariansyah
×
Berita Terbaru Update