Notification

×

Iklan

Iklan

Masjid dan Rumusan Peradaban

Jumat, 21 September 2018 | 12.06.00 WIB
Syamsurijal Al-Gholwasy
Oleh : Syamsurijal Al-Gholwasy

Perlunya umat muslim kembali ke masjid, bukan hanya sekedar untuk melakukan ritual ibadah bernama sholat dan menjadikan muslim sadar teologis, tetapi keperluan tersebut menjadi penting supaya umat muslim sadar secara sosiologis.

Bahwa sebagai muslim yang baik, tidak hanya baik pada Tuhan (hablum minallah), tetapi harus mampu berhubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas).

Tetapi pada tingkat realitas, masjid menjadi kelihatan aneh, karena telah terpola dan terkategorikan dengan ideologi tertentu, yang sebenarnya itu tidak perlu terjadi.

Maka, penulis mengira bahwa mengungkap masalah ini begitu penting untuk dilakukan. Karena masjid menjadi bagian penting yang berbicara secara simbolik kedamaian dan prinsip masyarakat madani yang egaliter.

Masjid pada Islam awal, bukan menjadi tempat untuk berdiri menghadap Tuhan saja, tetapi tempat umat muslim membicarakan hal-hal penting yang berkaitan dengan kondisi umat dan situasi kenegaraan.

Bahkan strategi perang dimusyawarahkan di masjid waktu itu. Masjid memang menjadi sentral pembangunan umat dan seolah menjadi tempat dambaan bagi para generasi awal.

Di samping karena energi kenabian menjadi magnet, suasana kekeluargaan, persaudaraan, dan kebersamaan juga menjadi suatu atmosfer yang menghadirkan kerinduan. Masyarakat masjid pada saat itu menjadi cerminan masyarakat Islam generasi awal.

Lain halnya dengan sekarang, masjid menjadi tempat untuk mencibir sana-sini, tempat untuk menfitnah dan menggunjing. Padahal masjid adalah tempat suci yang harus dijauhkan dari aktifitas yang kontra-produktif. Masjid yang suci, seolah dijadikan tempat sampah untuk membuang kekesalan, menghujat, membuka aib sesama, dan bahkan melakukan provokasi-provokasi politik.

Masjid seharusnya menjadi tempat untuk memijakkan kaki, supaya bisa sampai kepada Tuhan, dan kembali membumi untuk menyampaikan pengalaman spiritualnya terhadap manusia yang lain. Seperti yang dilakukan oleh nabi Muhammad SAW, mi’raj dari masjid Al-Aqsha ke Sidaratul Muntaha dengan tenang.

Tetapi, begitulah kenyataannya, kadang-kadang masjid menjadi “pasar dan super market” untuk menjual ideologi dengan menyulut api permusuhan di dalamnya.

Politisasi masjid dengan mengorbankan umat yang “polos” seringkali dilakukan oleh mereka yang tak bertanggungjawab, hal yang demikian tidak hanya dilakukan oleh mereka yang tidak memahami posisinya secara matang.

Tetapi juga lebih banyak dilakukan oleh komponen yang diharapkan “sadar”, tapi karena dorongan kepentingan politik yang lebih dominan, sehingga mereka melupakan bahwa masjid adalah tempat yang sakral.

Mereka lupa merumuskan dan menghadirkan kedamaian dalam masjid, sebagai fondasi masyarakat madani. Masjid yang diharapkan melahirkan sebuah peradaban, masyarakat yang egaliter, mencintai perdamaian, dan simbol solidaritas berubah menjadi tempat yang “angker” dan “horor” dalam terminologi sosiologis.

Revitalisasi dan reformulasi fungsi masjid menjadi sangat urgen dilakukan sebagai langkah strategis untuk mengupayakan lahirnya “masyarakat masjid” yaitu masyarakat yang taat, sholeh, terbuka, toleran, dan mengerti pangkal-pangkal demokrasi dengan benar. “Masyarakat masjid” adalah masyarakat yang utuh, sempurna dalam berpikir, mengambil keputusan, dan bertindak.

Masyarakat masjid adalah masyarakat yang utama yang diharapkan mengisi kota utama (al-madinah al-fadhilah), dalam komunitasnya merupakan kumpulan individu yang tingkat rasionalitas dan spiritualitasnya terjamin.

Mengenai “Kota utama”, Sulaiman Fayyad dalam al-Farabi: Abu al-Falsafah al-Islamiyah, menyebutkan bahwa a-Farabi mencita-citakan lahirnya kota utama yang di dalamnya terjamin kebahagiaan. Dan kebahagiaan tersebut akan tercapai hanya dengan cara yang mulia.

Kota utama harus memadukan antara keutamaan kepribadian, keutamaan fisik, keutamaan akal, keutamaan jiwa, keutamaan akhlak, terutama dalam menegakkan keadilan, kedamian, dan menumpas kedzaliman. Kriteria tersebut menurut Zuhairi Misrawi, hanya akan terlaksana dalam masjid dengan catatan masjid benar-benar di desain sebagai tempat suci untuk mencetus peradaban, dan solidaritas umat.

Posisi masjid sebagai tempat ibadah, bila diartikulasikan secara sosio-kultural; secara kultur masjid menjadi tempat berkumpulnya muslim untuk menghadapkan wajahnya pada arah yang sama (Ka’bah) dan tujuan yang sama yaitu Tuhan (Baca: Allah).

Tanpa membedakan asal, status sosial, mazhab, warna kulit, jabatan, kekayaan, dan lain sebagainya. Mereka tunduk pada perintah yang sama, dan mengikuti satu intruksi, yaitu yang disebut sebagai imam (Pemimpin).

Kondisi kultur seperti ini, seharusnya dapat diwariskan suatu pemahaman tentang bagaimana menjadi warga negara yang baik, taat pada pimpinan (jika pimpinan melakukan tindakan yang keliru, mereka punya kewajiban untuk menegur dan menasihatinya), disiplin, taat hukum, dan mampu membangun solidaritas sosial antar sesama.

Masjid sebenarnya menjadi harapan untuk merumuskan suatu rumusan peradaban umat, bagi tumbuhnya suatu masyarakat yang sadar secara utuh. Sehingga terbangun suatu peradaban yang dicita-citakan The Founding father’s yaitu masyarakat yang berkeadilan, berbudaya, dan berkarakter.

Penulis : Syamsurijal Al-Gholwasy
Editor    : Subhan Al-Karim
×
Berita Terbaru Update