Notification

×

Iklan

Iklan

Jejak Perempuan Dalam Sejarah Peradaban

Sabtu, 29 September 2018 | 01.49.00 WIB
Syamsurijal Al-Gholwasy

Oleh : Syamsurijal Al-Gholwasy

Dalam sejarah manusia, perempuan seringkali menjadi kaum yang terzalimi. Perempuan hanya mendapatkan hinaan, cacian, makian, dan bahkan tindakan yang tidak manusiawi.

Dalam peradaban Romawi kuno perempuan dijadikan sebagai budak nafsu birahi, lantaran mereka dianggap sebagai kaum yang lemah dan tak berdaya. Mereka tidak diberikan ruang apapun kecuali melayani hasrat laki-laki.

Superioritas laki-laki mendominasi mereka, hingga mereka terekploitasi secara berlebihan. Dalam peradaban Arab Jahiliyah, tindakan laki-laki semakin kejam. Laki-laki menganggap perempuan sebagai fitnah dan aib bagi keluarga.

Seorang ibu yang melahirkan anak perempuan, maka dia akan diceraikan karena dianggap tidak memiliki manfaat dan bahkan dianggap pembawa sial. Begitupun anak perempuan yang dilahirkan akan dikubur hidup-hidup sebagaimana yang pernah dilakukan sahabat Umar bin Khattab.

Perempuan dalam sejarah, benar-benar tersubordinasi dan diperlakukan keji oleh laki-laki. Inferioritas muncul dalam benak mereka. Secara psikis mereka menjadi sangat traumatik, dan tidak berani untuk bangkit melawan kebiadaban itu.

Mereka menjadi kelompok kedua, yang menerima keadaannya secara sukarela. Bahkan, dijadikan budak sekalipun mereka hanya bisa memasrahkan diri. Perempuan dahulu juga dapat diwariskan, tidak memiliki pilihan hidup setelah suaminya meninggal.

Kehadiran Islam

Ditengah rusaknya peradaban manusia, Islam yang dibawa Nabi Muhammad merevolusi keadan dengan ajaran barunya. Menggemparkan dunia Arab waktu itu.

Telah datang sebuah ajaran baru yang merusak tatanan dan struktur sosial yang mapan. Meruntuhkan superioriras manusia berdasarkan materi, keturunan, dan seks. Memutus ruang eksploitasi terhadap manusia yang mulia. Dan menempatkan posisi manusia secara sejajar dan kemuliaan hanya diukur dengan tingkat “kepasrahan diri kepada Tuhan yang maha kuasa”.

Islam hadir memang menjadi ancaman bagi banyak pihak yang berkuasa waktu itu. Karena kaum miskin papa dan orang kaya, budak dan tuan, perempuan dan laki-laki tidak lagi memiliki hirarki sosial.

Mereka mendapatkan perlindungan yang sama atas hidup, kehormatan, dan martabat mereka sebagai manusia. Tentu saja ajaran yang demikian membuat kelompok kapitalis Arab Jahiliyah waktu itu menjadi geram dan marah besar. Mereka menyatukan suara untuk melawan dan menahan dakwah Nabi Muhammad.

Kemapanan struktur sosial yang mereka bangun menjadi alasan penting penolakan mereka terhadap dakwah Nabi Muhammad. Perbudakan, pengeksploitasian, status quo, kapitalisasi ideologis, ekonomi menjadi pertaruhan mereka melawan Nabi Muhammad.

Islam datang membebaskan belenggu kemanusiaan, merombak struktur sosial yang ada, menghancurkan berhala kapitalis, menggeser kebudayaan dan menggantikan mitos-mitos dengan ajaran dan keyakinan yang benar.

Islam menjadi manufakturing of civilization, membongkar semua kejahatan kemanusiaan dan mengajak pengikutnya untuk melawan terhadap kezaliman yang ada dengan asas ‘amal ma’ruf nahi mungkar. Islam tidak hanya membicarakan isu-isu sosial, budaya, dan politik secara global, tetapi juga memperhatikan perempuan sebagai isu utama.

Dengan konsep equality menghadirkan perempuan bukan lagi sebagai kelompok kedua dalam pergaulan sosial. Tetapi, menempatkan perempuan sebagai mitra bagi kaum laki-laki.

Perempuan Dimata Islam

Islam hadir dengan penuh kelembutannya benar-benar memanifestasikan dirinya sebagai seorang perempuan. Bahkan memperkenalkan Tuhan dengan sisi kelembutannya. Begitupun Nabi Muhammad sebagai pembawa ajarannya tergambarkan sebagai seorang yang pemalu, lemah lembut, bijaksana, dan penuh kasih sayang.

Islam dengan segala komponennya menggambarkan diri sebagai seorang perempuan. Bahkan, Islam sangat memuliakan perempuan dengan menamakan salah satu Surah dalam Al-Qur’an dengan nama perempuan (An-Nisa), dan Surah Maryam yang notabene seorang perempuan.

Dalam Al-Qur’an juga menceritakan banyak kisah perempuan-perempuan hebat seperti Maryam, Aisyiah, Ratu Bilqis, Aisyah, Hawa, Siti Sarah, Khadijah, Fatimah dan lain-lain.

Ini membuktikan bahwa Islam begitu simpati terhadap perempuan dan perjuangannya membangun sebuah peradaban. Islam begitu memuliakan perempuan sehingga menempatkan perempuan sebagai pelindung dan penunjang utama dakwah Islam, Khadijah, sebagai seorang pengusaha besar hadir sebagai seorang isteri Nabi Muhammad.

Islam datang menghancurkan mitos tentang perempuan yang dibangun sejak lama oleh laki-laki sebagai fondasi untuk menindas perempuan.

Misalnya, pada masa kuno, diceritakan bahwa perempuan diciptakan oleh Zeus dan diturunkan ke bumi untuk membawa sebuah kotak yang berisi keburukan dan kejahatan. Kemudian kotak itu terbuka dan menyebarlah kejahatan itu, maka mereka menganggap kejahatan itu ada sekarang karena ulah perempuan.

Kemudian dalam cerita Yahudi dan diadopsi oleh Injil dalam penyesuaiannya, perempuan dianggap sebagai penyebab terjadinya kejatuhan manusia. Dan dosa itu ditanggung lebih oleh perempuan dengan melahirkan dan menstruasi.

Islam meluruskan cerita itu semua, dengan menempatkan Hawa dan Adam dalam posisi yang sama-sama khilaf dan mereka menanggung semua beban tersebut secara bersama.

Perempuan dari Masa ke Masa


Perempuan dari masa ke masa, pasti memiliki aktor yang konkrit berjuang, dan perempuan-perempuan hebat tersebut dapat dijadikan sebagai panutan.

Era Nabi Musa ada seorang perempuan hebat bernama Aisyiah istrinya Fir’aun. Era Nabi Sulaiman, muncul nama ratu Balqis sebagai aktor perempuan yang memimpuin suatu kerajaan. Era Nabi Ibrahim, nama Siti Sarah membumi karena memiliki sumber mata air (Zam-zam). Era Nabi Zakariyah, terkenal sekali nama Maryam dikalangan rohaniawan, sehingga untuk dapat mendidiknya harus mengadakan undian terlebih dahulu.

Era Nabi Muhammad, begitu banyak perempuan yang muncul sebagai pejuang. Khadijah adalah perempuan hebat yang mengawal dakwah Nabi Muhammad.

Sejarah perempuan tidak berhenti sampai disitu, kisah heroik perempuan sampai pada sejarah kebangkitan Islam di Indonesia sebelum kemerdekaan. Perempuan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia tidak kalah heroiknya dibanding laki-laki.

Mereka hadir untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan meninggal sebagai seorang yang syahid, misalnya, Cut Nyak Dien yang pernah memimpin perang melawan Belanda demi kemerdekaan tanah airnya.

Masih banyak lagi perempuan lain, seperti Martha Christina Tiahahu, R.A. Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Meutia, R. Rasuna Sa’id, Nyi Ageng Serang, Maria Walanda Maramis, Fatmawati, dan Opu Daeng Risadju.

Perempuan-perempuan tersebut patut dijadikan sebagai panutan oleh seluruh perempuan Indonesia. Mereka rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk menmperjuangkan Indonesia untuk merdeka, dan juga mendeklarasikan diri bahwa perempuan juga berhak untuk berekspresi sebagaimana laki-laki berekspresi.

Mereka tidak hanya mendaulatkan diri dalam bentuk ucapan, tetapi kongkrit berbuat untuk bangsa dan negaranya mewakili golongannya. Mereka menuntut persamaan dengan perbuatan yang nyata tanpa basa basi, menyerahkan jiwa dan raganya sebagai tebusan terbaik bagi kehormatan bangsa dan negara, juga marwah perempuan yang terbelenggu dan ditempatkan dikelompok yang kedua.

Eksistensi Perempuan Masa Kini

Perempuan masa kini tidak diharapkan untuk menjadi seheroik perempuan generasi sebelumnya. Mereka hanya diharapkan untuk hadir mengisi ruang yang telah direbut oleh generasi mereka sebelumnya, sepaya perjuangan mereka membongkar superirotas laki-laki menjadi berlanjut secara otomatis.

Itu artinya tempat mereka telah ada dan terhampar luas, tugas mereka adalah meningkatkan kemampuan dan kapasitas mereka sesuai dengan kebutuhan zaman now.

Perempuan sebenarnya telah banyak mendapatkan perhatian, hanya saja perempuan mau memperhatikan dirinya atau tidak? Mau menggunakan kesempatan yang telah diberikan atau tidak? Pilihan itu jatuh kepada perempuan sebagai subjek yang akan memilih jalan hidupnya.

Dalam era globalisasi perempuan harus mampu menyaingi laki-laki diranah publik, tanpa melupakan tugas pokok mereka sebagai seorang istri (bagi yang sudah menikah).

Bukan zamannya lagi perempuan hanya mendiami tiga wilayah utama; sumur, kasur, dan dapur. Perempuan harus berani menerobos stigma yang membelenggu dan bangkit untuk melawan pengkerdilan kaum Adam.

Karena pembelengguan terhadap kaum Hawa adalah bentuk hegemoni yang nyata. Masih maukah perempuan dijajah?.

Penulis : Syamsurijal Al-Gholwasy
×
Berita Terbaru Update