Notification

×

Iklan

Iklan

Resensi : Pluralisme Budaya Global

Jumat, 01 Juni 2018 | 18.02.00 WIB
Foto : Penulis
Indikatorntb.com : Apakah pluralisme merupakan tujuan final dalam diskursus kebudayaan? Apakah pluralisme merupakan tujuan bagi dirinya sendiri dalam konteks kehidupan sosio-kultural? Era postmodern secara umum dipandang sebagai momentum untuk merayakan perbedaan. Kebenaran yang tunggal, global, dan universal banyak dituntut kebenarannya dalam lingkup kebudayaan, sehingga multikulturalisme menjadi diskursus utama dalam lingkup kebudayaan pascamodern.

Ketika arus pluralisme dan multikulturalisme mencapai titik ekstremitasnya, seolah antara entitas kebudayaan satu dengan entitas kebudayaan lain yang berbeda tidak bisa dipertemukan, maka salah satu dampaknya adalah lahirnya rasisme. Rasisme merupakan puncak ketika seorang individu atau kelompok meneguhkan perbedaannya dengan yang lain secara ekstrem dan terbuka.

Buku ini membahas tentang konflik-konflik yang terjadi karena perbedaan etnis, kultur, agama, aliran politik, dan kelompok-kelompok yang dianggap merupakan sumber konflik di negara ini. Buku ini menjelaskan secara rinci pengertian dari kultur, multikultur dan Postkolonialisme juga secara rinci menguraikan teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli mengenai konflik budaya yang terjadi di Indonesia. Kultur/ biasa yang disebut dengan budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Secara sederhana multikulturalisme berarti “keberagaman budaya”. Istilah multikultural ini sering digunakan untuk menggambarkan tentang kondisi masyarakat yang terdiri dari keberagaman agama, ras, bahasa, dan budaya yang berbeda, sedangkan postkolonialisme adalah sebagai bagian dari gambaran postmodern, yang dianggap sebagai gambaran tanding (counter-discourse) terhadap gagasan mapan yang diskonstruk dalam nalar kolonial yang sifatnya dominatif dan hegemonik. Gagasan postkolonial ini kemudian juga banyak menjadi tren dan perdebatan menarik di dunia, termasuk di negara-negara dunia ketiga.

Dengan mengombinasikan pandangan-pandangan yang diambil dari multikural, postkolonialisme, dan cultural studies khususnya sebagaimana yang banyak dikaji di Amerika Serikat dan koloni-koloninya seperti Australia, hasilnya adalah sebuah pandangan mendasar yang berfokus pada budaya kekuasaan dan hubungannya dengan produksi pengetahuan mengenai kelainan atau perbedaan budaya.
Misalnya, sejumlah pengamat telah mencatat cara yang di dalamnya beberapa premis kunci tentang postkolonialisme bahwa apa yang sebelumnya dipandang sebagai nilai-nilai universal, sebenarnya adalah nilai-nilai barat. Salah satu contoh dari jenis pemikiran ini bisa ditemukan dalam respon-respon kelompok tradisionalis terhadap arus imigrasi yang kemudian disusul oleh implementasi kebijakan “White Australia” (Warga Kulit Putih Australia) yang mana berdasarkan kebijakan tersebut kelompok migran dipilih atas dasar rasisme.

Kultur, Multikultur, Postkultur merupakan buku yang menarik, itu terletak pada bab pertama “ Budaya, Hegemoni, Representasi : Sebuah Wilayah Kekuasaan Postkolonial? “ yang menjelaskan bahwa ide dari teori postkolonial yang kita pahami itu lekat dengan jenis representasi perbedaan kultural yang nyata, seperti yang tercatat dalam karya Traen, Heyward, dan Spies, semua itu merupakan bukti pemikiran munculnya teori-teori baru yang luar biasa. Salah satu contohnya yang paling populer telah dibuktikan oleh Jean-Francois Lyotard, dalam artikelnya pada tahun 1985 dengan judul “ Histoire Uniersale et Differences Culturelles “.

Seluruh narasi emansipatoris modern tersebut bagi Lyotard merupakan sesuatu yang tidak disukai karena seluruh narasi itu berbicara tentang atau terkait dengan sebuah proses yang membuat “budaya lain” didominasi dan kemudian dirusak oleh kemajuan Barat.

Wacana postkolonial dipahami sebagai pemikiran yang memberi “daya emansipasi” terhadap warga yang terajajah. Wacana ini disebut-sebut sebagai sesuatu yang sering keluar dari dominasi diskursus kebudayaan yang disusun oleh nalar kolonial. Wacana postkolonial lahir dan dikembangkan oleh para ahli yang hidup dan besar di negeri-negeri imperialis. Bagian buku yang menarik lainnya juga terletak pada bab IV "Dunia Lain : Mempresentasikan Perbedaan Kultural" yang menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa yang kita anggap aneh atau tidak masuk akal dalam tradisi asing itu pada akhirnya tidak lagi aneh setelah kita memahami budaya asing itu, kepercayaan dan pengaruh mereka menjadi masuk akal di dalam konteks bahasa, budaya, cara hidup, pekerjaan, dan perilaku ekonomi mereka.

Perilaku ekonomi di dalam masyarakat kapitalis adalah perbedaan antara kebutuhan ekonomi dan sosial. Sejak masyarakat Indonesia secara umum termotivasi terutama oleh kebutuhan sosial, teori ini menjadi kurang berguna dalam konteks Indonesia. Kebutuhan sosial adalah kebutuhan yang berasal dari pikiran ketergantungan terhadap norma-norma yang berlaku pada setiap anggota masyarakat, maksudnya suatu kebutuhan yang harus dipenuhi berdasarkan kepentingan bersama dalam masyarakat.

Jadi, kebutuhan tersebut harus dipenuhi bersama-sama oleh masyarakat yang lain, contohnya seperti memberikan sumbangan kepada yang membutuhkan. Kebutuhan sosial terdiri atas dua model yaitu, dorongan untuk meniru dan beradaptasi dengan mekanisme sosial dan dorongan untuk tampil beda.

Bahasa pengarang dalam buku ini menggunakan bahasa yang sulit dipahami, karena merupakan buku terjemahan dari seorang penulis yang berasal dari New York dan juga tingkat bahasanya yang terlalu tinggi, sehingga pembaca yang tingkat nya masih rendah (pemula) belum dapat mengerti dan sulit untuk memahami apa makna pesan yang ingin disampaikan oleh penulis bahkan pembaca pun harus membacanya beruang-ulang kali agar dapat memahami isi nya, serta terdapat penggunaan tanda baca yang kurang tepat di dalam buku ini.

Harga buku ini terjangkau, dan isi yang tertuang di dalamnya begitu runtut dan detail namun, karena penggunaan bahasa yang terlalu tinggi para pembaca sulit untuk mencerna dan memahaminya walaupun makna yang terkandung di dalam buku sangat bagus dan menarik.

Cover buku ini menarik, karena perpaduan dari warna, tulisan, dan gambarnya yang pas semakin menarik perhatian pembaca untuk melihat dan membelinya, serta sinopsis yang diberikan sangat lengkap karena memaparkansecara ringkas keseluruhan isi dari buku ini. Kertas yang digunakan juga berkualitas.

Buku ini mengkritisi konsep-konsep kebudayaan yang telah berdiri melalui teks-teks etnografis dengan konteks ruang dan waktu tertentu, salah satunya tentang negara Indonesia. Dengan demikian, diskursus kebudayaan apapun, baik pluralisme, multikulturalisme maupun postkolonialisme, tidak bisa langsung diterima begitu saja sebagai bentuk emansipasi terhadap warga negara terjajah, kita harus menelaah nya terlebih dahulu, apakah kebudayaan tersebut membawa dampak positif atau negatif kedalam negara kita dan juga apakah kebudayaan tersebut dapat dinyatakan layak atau tidak nya masuk kedalam negara Indonesia.

Saran saya, buku ini layak menjadi salah satu referensi pembelajaran tentang keragaman budaya baik untuk mahasiswa bahkan dosen sekalipun, karena buku ini memaparkan secara lengkap teori-teori yang pernah ada dalam sejarah kebudayaan, mulai dari teori terdahulu hingga teori yang sekarang ini banyak dipakai oleh para Budayawan, namun bahasa yang digunakan dalam buku ini agar bisa disederhanakan lagi, supaya para pembaca dapat dengan mudah memahami makna yang disampaikan oleh penulis melalui buku ini.

Identitas Buku :

Judul buku : Kultur, Multikultur, Postkultur
Penulis : Joel S. Kahn
Penerjemah : Muhammad Muhibbudin
Editor : Taufiq Hakim
Desain Hukum : Alga Hening
Pemeriksa Aksara : Arif Isnani
Penerbit : Institute of Nation Development Studies (INDeS)
Cetakan : Pertama
Tahun Terbit : Agustus 2016
Halaman : 267 Halaman
Dimensi Buku : 15 x 22 cm
Harga : Rp. 78.500
ISBN : 978-602-74816-1-9

Penulis : Ruddat Ilaina R.A (mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang).
×
Berita Terbaru Update