Notification

×

Iklan

Iklan

Cermin Kehidupan Susahnya Mencari Pekerjaan di Zaman Now

Rabu, 06 Juni 2018 | 18.01.00 WIB
Foto : Penulis
Indikatorntb.com - Fenomena pencari lowongan pekerjaan di Indonesia, setiap tahunnya bertambah, tetapi tidak diimbangi dengan kuota lapangan pekerjaan yang tersedia. Adanya tidak keseimbangan antara jumlah angkatan kerja dengan besarnya kesempatan kerja mengakibatkan munculnya sebuah masalah. Salah satu syarat untuk bisa memasuki lapangan pekerjaan di zaman now ini, diperlukan pengalaman dan surat bukti menempuh pendidikan yaitu, ijazah, yang dapat menunjang kesempatan mendapatkan pekerjaan.

Pendidikan yang formal menurut Ace Suryadi dalam bukunya Analisis Kebijakan Pendidikan: Suatu Pengantar (1994) merupakan bentuk investasi yang berguna untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Semakin tinggi tingkat pendidikan seorang pekerja, maka semakin tinggi pula produktivitas yang dimilikinya untuk berkesempatan memiliki penghasilan yang tinggi karena faktor pendidikannya. Ditunjang dengan ijazah pendidikan akan memudahkan individu untuk medapatkan pekerjaan, namun nyatanya dilapangan banyak para sarjana yang masih menganggur.

Mereka para pemilik ijazah pendidikan saja masih mengganggur dan terkatung-katung nasib mereka, Bagaimana dengan orang-orang yang tidak memiliki ijazah, jangankan ijazah, makan bangku sekolah saja tidak tuntas ada yang dari SD sekolah dasar sudah memutuskan untuk berhenti bersekolah, karena faktor yang mengharuskan individu tersebut putus sekolah. Padahal pemerintah telah memiliki kebijakan program wajib belajar 12 tahun untuk menciptakan SDA Indonesia yang bermutu.

“…Ijazah yang menjadi modal pokok untuk mencari pekerjaan, jangankan tanpa ijazah yang bergelar sarjana saja sulit mencari pekerjaan.” (Novel Sridanarti, Hal 100)
Mereka beranggapan bahwa tanpa ijazah masih bisa hidup, dengan harta kekayaan orang tua ataupun leluhur mereka, tetapi nyatanya roda kehidupan terus berputar. 

Pengalaman kerja saja saat ini tidak menjadi jaminan akan berhasil mendapat pekerjaan jika tidak membuka usaha sendiri, untuk bisa bekerja di perkantoran atau pabrik zaman now, tidak hanya penglaman kerja tetapi juga ijazah. Pada novel Sri Danarti karya Nana Tandez dijelaskan bagaimana hidup seseorang jika melamar pekerjaan tetapi tidak memiliki ijazah.

Hubungan Pendidikan dan Ketangakerjaan
Pendidikan dianggap sebagai sarana untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Karena, pendidikan dianggap mampu untuk menghasilkan tenaga kerja yang bermutu tinggi, mempunyai pola pikir dan cara bertindak modern, SDA seperti inilah yang diharapkan oleh para pemiliki perusahaan zaman now. Salah satu upaya mewujudkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan perusahaan dikenal dengan kebijakan link and match. Kebijakan yang memiliki tujuan mengoptimalkan dan mengefisienkan sumber daya manusia dengan sistem pendidikan. Karena dalam pengalokasian sumber daya manusia akan diserap oleh lapangan kerja.

Dewasa ini penglaman kerja memang diperlukan, namun perlu diingat perkembangan zaman semakin pesat. Hanya dengan memiliki pengalaman kerja saja tidak cukup, karena perusahaan sekarang mengaitkan pengalaman kerja dengan pendidikan guna untuk mendapatkan profit yang tinggi pula. Individu dengan memiliki pengalaman kerja dan berpendidikan, maka akan memiliki kesempatan kerja yang banyak untuk mendapatkan pekerjaan.

Tingkat pendidikan turut berperan dalam tingkat pendapatan seseorang, bagi mereka yang memiliki pendidikan dan pengalaman kerja berkesempatan mendapatkan pendapatan atau gaji yang lebih tinggi dari mereka yang hanya mengandalkan pengalaman kerja, tetapi bukan pendapatan yang menjadi tolak ukur sebgaian orang, melainkan seorang tamatan pendidikan dan ijazah mempunyai karakteristik individu yang relatif unggul.
Perubahan Sosial dan Budaya Masyarakat
Dinamika perubahan sosial dan budaya yang terjadi di masyarakat saat ini. 

Perubahan sosial dan sistem nilai budaya merupakan perubahan penting dalam struktur sosial, pola perilaku dan sistem interaksi sosial, termasuk di dalamnya perubahan norma, nilai, dan fenomena kultural. Hal tersebut dipicu oleh berbagai faktor yakni, faktor internal dan eksternal.
Seperti halnya yang dialami Darbolo pada novel Sri Danarti ini, kerena melihat kedua adiknya sukses di kota, ia memutuskan untuk merantau ke kota juga hanya dengan bekal pengalaman kerja saja. Ia berharap akan sukses di kota kelak seperti halnyakedua adiknya tersebut. Keinginan hidup mewah, mendorong masyarakat dari desa tersebut migrasi ke kota untuk mengadu nasib, tetapi apa yang mereka dapat di kota tak sesuai harapan, sebagian masyarakat desa pada umumnya tak memiliki ijazah.

Motivasi dan Relasi

Dalam novel Sri Danarti karya Nana Tandez dijelaskan bahwa tokoh utama Darbolo yang hidup di desa, memiliki keinginan untuk dapat mendapatkan pekerjaan seperti kedua adiknya yakni, Widodo dan Siswanto, kedua orang ini memiliki pendidikan yang tinggi hingga lulu sarjana dan bekerja memiliki jabatannya yang tinggi pula. Darbolo tergiur dengan kehidupan kedua adiknya itu, ia memiliki motivasi untuk merubah nasibnya di desa dengan memutuskan untuk merantau ke kota menuyusul kedua adiknya.

Nasib malang menimpa Darbolo kepergiannya ke kota tak membuahkan hasil, justru dia menjadi seorang gelandangan yang akhirnya dipungut oleh adiknya Widodo. Tak kunjung mendapat pekerjaan karena ia merantau ke kota hanya bermodalkan nekad dan pengalamannnya mencangkul sawah kedua orang tuanya, padahal syarat untuk mengisi lowongan pekerjaan saat ini tak hanya pengalaman saja tetapi harus ditemani oleh ijazah.

Waktu terus berputar, akhirnya Widodo mengulurkan tangan untuk membantu mencarikan pekerjaan untuk Darbolo, pekerjaan yang tidak membutuhkan ijazah dalam persyaratannya. Masih beruntunglah ia karena memiliki kerabat atau orang yang dikenalnya di perantauan tersebut.

Sepenggal kisah dari novel Sri Danarti karya Nana Tandez, memberikan pandangan bahwasannya zaman now melamar pekerjaan tidak hanya dilihat dari pengalaman saja tetapi juga tingkat pendidikan pelamar, di kota saja pemilik ijazah dan memiliki pengalaman kerja belum menjamin mendapatkan pekerjaan yang layak. Dapat disimpulkan ijazah dan pengalaman kerja saling berkaitan, lalu bagaimana bila salah satu dari dua hal tersebut tidak kita miliki di zaman now.

Penulis : Dian Agung Isnanto (Mahasiswa Aktif di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Pendidikan dan Ilmu Keguruan Universitas Muhammadiyah Malang).

×
Berita Terbaru Update