Notification

×

Iklan

Iklan

Umat Islam: Umat Tengahan

Sabtu, 05 Mei 2018 | 10.52.00 WIB
Ilustrasi (foto : Voa Islam).
Indikatorntb.com - "Umat Tengahan" harus dipahami secara holistik. Baik pada konsep teologis maupun sosiologis. Juga pada konteks diskursus fenomenologis. Agar tak terjatuh pada pemahaman parsial yang menjauhkan dari makna substantif. Menurut Ibn Taimiyah, al wasath adalah jalan lurus dan benar, merupakan puncak moderasi karena berada di jalan yang benar, berarti berada di tengah-tengah kebenaran, tidak terlalu menyimpang ke kanan atau ke kiri. Tidak terlalu ke atas juga tidak terlalu ada di bawah. Bahkan Bapak kita : Adam as juga titik tengah antara malaikat dan iblis.

Kata 'wasath' pada mulanya berarti segala yang baik sesuai objeknya. Orang bijak berkata: “Sebaik-baik segala sesuatu adalah yang di pertengahan”. Dengan kata lain, yang baik berada pada posisi antara dua titik ekstrem. Bahkan secara tersirat nabi saw mengajari: 'makanlah dari pinggir karena barakah ada di tengah".

Pada konsep teologis, Allah yang kita pahami adalah paduan antara 'wajah' Tuhan Yehofah yang tegas menghukum dan 'wajah' Tuhan Bapa yang teduh suka memaafkan. Muhammad saw yang kita junjung tinggi adalah paduan antara wajah Musa as yang rasionalis dan wajah Isa as yang esoteris.

Pada tataran sosiologis bisa dicontohkan, ketika Juraij (ahli ibadah:abid) seorang rahib yang dikutuk karena shalatnya telah membuatnya abai pada panggilan ibunya. Wasathiyah (moderasi-posisi tengah) mengundang umat Islam berinteraksi, berdialog terbuka dengan semua baik agama, budaya, dan berbagai peradaban tanpa deskriminasi karena bagaimana kita dapat menjadi saksi atau berlaku adil jika kita bersikap eksklusif, tertutup atau menutup diri dari lingkungan dan perkembangan global.

Surat Al-Baqarah ayat 143 adalah bukti otentik bahwa umat Islam adalah umat pertengahan. Moderasi di antara dua titik ghuluw yang berhadapan. Allah berfirman: “Dan demikian Kami telah menjadikan kamu, ummatan wasathan agar kamu menjadi syuhada' terhadap-buat manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi syahid terhadap-buat kamu.”

Dalam berbagai pose Al-Qur’an menyebut bahwa pertengahan adalah sikap terbaik dan teladan, bukan sikap ekstrim (ghuluw) berlebihan: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal (QS. Al-Isra ayat 29)." Atau: “Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya, dan carilah jalan tengah di antara kedua jalan itu (QS. Al-Isra’ 110)

Pertama, keberadaan umat Islam dalam posisi tengah, membawa mereka tidak seperti umat yang dibawa hanyut oleh materialisme absolut tetapi tidak pula mengantarnya membubung tinggi ke alam imaterialisme absurd tenggelam dalam dunia ruhani. Posisi tengah mejadikan mereka mampu memadukan ruhani dan jasmani, material dan spiritual, dalam segala sikap dan aktivitas mereka. Pun dalam berpolitik, tidak terus keras melawan tetapi juga tidak terus menunduk patuh.

Kedua, kedudukan umat Islam dan pribadi Muslim sebagai ummatan wasathan, dalam arti adil, menuntut umatnya menegakkan keadilan kapan dan di mana pun serta terhadap siapa pun:
"Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil” (QS. Al-Maidah:8).

Ketiga, ajaran dan tuntunan Islam pun yang berada dalam posisi pertengahan menjadikan semua ajaran Islam bercirikan moderasi, baik ajaran tentang Tuhan, dunia, dan kehidupan, yakni dalam akidah, syariah dan akhlak yang diajarkan.

Keempat, Islam tidak mengingkari wujud Tuhan, tetapi juga tidak menganut paham politeisme (banyak Tuhan). Pertengahan antara qadary dan jabbary. Bukan menikmati dunia berlebihan seperti kaum hedonis (dahriyun), bukan pula hidup uzlah (meninggalkan dunia) seperti para sufi. Tetapi pertengahan diantaranya. Nabi saw bersabda:"Aku puasa dan berbuka, aku shalat malam juga tidur, aku juga menikahi beberapa perempuan, sergah Nabi saw kepada pada sahabat pelaku ghuluw.

Dunia itu nyata wujudnya bukan dinilai maya atau absurd, seperti orang Budha memandang, tetapi tidak juga harus berpandangan dunia adalah segalanya, seperti kaum materialis-feurbach yang menafikkan hidup setelah mati. Pandangan Islam tentang hidup adalah di samping ada dunia, juga ada akhirat, keduanya tak boleh saling mengalahkan. Keberhasilan di akhirat ditentukan oleh iman dan amal saleh di dunia. Manusia tidak boleh tenggelam dan larut dalam kesenangan pada materialism absolut tapi juga tidak membubung tinggi dalam spiritualisme absurd. Ketika pandangan hati mengarah ke langit, kaki harus tetap berpijak di bumi. Itulah umat tengah. Wallahu a'lam

Penulis : @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
×
Berita Terbaru Update