Notification

×

Iklan

Iklan

Kerennya Disebut Jihadis "Surga Mana yang Kau Pilih"

Rabu, 16 Mei 2018 | 07.25.00 WIB
Ilustrasi (foto : Wodpress)
Indikatorntb.com - Mungkin logika kebanyakan tak bisa menjelaskan, sejoli bahagia dengan empat anak imut itu menjadi 'pengantin' dalam sebuah prosesi teror bom yang meluluh lantak tempat ibadah bertanda salib. Ini bukan soal definisi apalagi ta'rif ulama atau sosiolog dan para peneliti yang tak paham bagaimana nikmatnya di daulat menjadi 'pengantin'.

Radikalis, fundamentalis atau teroris hanya sebutan dari mereka yang tak suka apalagi mengerti. Ini adalah soal janji, dan baiat yang dijunjung tinggi pada setiap yang mengaku jihadis. 30 tahun lalu kami pernah diajari bagaimana tegakkan kebenaran
dengan cara mati, kami diajari tak mengenal perbedaan. Siapapun yang berbeda dengan kami adalah kafer, kami melawan dan musuh semua rezim, Polisi adalah thaghuts dan musuh yang harus di bumi hangus, darah setiap penyembah berhala adalah halal, jadilah kami sekumpulan yang tak pernah merasa takut karena tak punya dosa, kami merasa benar sendiri.

George Yunus Aditjondro setidaknya memberi batasan bahwa tidak semua gerakan teroris selalu berafiliasi dengan penguasa atau dinas intelegen. Bagi saya itu meremehkan, dan menganggap calon jihadis meminta bayaran itu menyedihkan, para jihadis tidak seperti itu apalagi menukar nya dengan recehan, sebab para jihadis umumnya bergerak sendiri atas nama hati dan Tuhan yang di imani. Mereka tak akan mengotori niat suci dengan impian duniawi.

Jihadis adalah kebanggaan. Pasukan Allah yang merelakan seluruh jiwa dan raga bahkan harta untuk menegakkan kalimat Allah. Harta, istri dan anak hanyalah fitnah, Allah bakal beri ganti yang lebih baik dari semua perhiasan dan kesenangan dunia. Allah Maha Besar, selain Allah itu kecil. Allah Yang Maha Wujud dan mutlak, selain Allah adalah fana, absurd dan tiada berguna.

Para jihadis rindu pada perjumpaan dengan Rabbnya, ruhnya bergelantungan di leher burung-burung surga berbulu hijau emas, berkuku lentik dengan kicau indah karena pujian kepada Allah. Para mujahid tak pernah mati, puluhan bidadari surga menunggu, jenazahnya tak perlu dikafan juga tak perlu dimandikan, ia bakal bangkit dengan darah mewangi dan pakaian dari sutra dan emas bertabur zamrud.

Melewati shirath dengan kuda putih, pelananya lebih baik ketimbang seluruh dunia dan seisinya. Istananya sejauh mata memandang, di aliri sungai madu, sungai susu, sungai air tawar dan sungai khamr yang tidak memabukkan, gelas dan piala-piala dari talam emas, ya'qud dan marjan.

Inilah surga yang dijanjikan dan dirindukan para jihadis, termasuk saya 25 tahun yang lalu. Kami berebut dan berkompetesi menjadi 'pengantin' yang diberi sempat membaui surga duluan. Allahuyarham Abdullah Sungkar dan Tony Ardhy adalah panutan para jihadis saat itu. Kami hanya mahasiswa biasa menunggu antre. Tergabung dalam 'usrah-usrah' dibawah mentor yang berhak memilih dan me-nyeleksi siapa diantara kami yang berhak menjadi pengantin duluan. Sayangnya saya tak pernah menjadi 'pengantin' karena keburu nikah. Sampai saat ini kami juga tak tahu siapa mentor yang mendoktrin, kami hanya tahu ada jalan menuju surga dengan cara lebih cepat.

Dengan teologi macam begini bisa dibayangkan apa yang bakal bisa lakukan. Syuriah, Afghan, Palestina hanya tempat dan tak cukup bisa menerangkan kenapa para jihadis ingin segera mati meregang nyawa atas nama jihad. Medan tempur bisa diciptakan dimana pun dan kapanpun jadi tak harus head to head sebab siapapun bisa tiba-tiba menjadi 'musuh Allah' yang di halalkan darahnya menurut yang di maui.

Saat itu 30 tahun yang lalu kami Membayang pundak berhimpit hingga menyatu di babus shalah, Kami terus berdoa sepanjang siang dan malam. Kebanggaan tumbuh karena hanya kami yang dipilih, bukan mereka yang hanya shalat dan puasa tapi tak tahu jalan menuju surga. Dengan model kematian yang direncanakan: waktu, tempat dan bom jenis apa yang dirakit para jihadis bisa tersenyum sebelumnya, meminta maaf bahkan memberikan apapun yang dipunya bahkan mengaji dan shalat sebelum berangkat. Prosesi yang indah untuk menuju mati.

Kami bangga menjadi yang terpilih. Kami tak takut pada siapapun. Kami juga tak takut meninggalkan apapun. Dunia hanya persinggahan dan kami bisa memilih dengan jalan apa menuju surga. Inilah jalan lurus menuju surga tanpa mengantre.

30 tahun kenangan saat mahasiswa

Penulis : @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
×
Berita Terbaru Update