Notification

×

Iklan

Iklan

Jangan Biarkan Jokowi Sendirian

Sabtu, 28 April 2018 | 15.14.00 WIB
Foto : Presiden Jokowi saat menghadiri Halaqah Nasional Alim Ulama Majelis Dzikir Hubbul Wathon di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (13/7) malam. Sumber : Setkab RI
Indikatorntb.com - Jika ulama menjauh dari penguasa, maka jangan salahkan bila pintu-pintu kekuasaan dihuni para penjahat, pencoleng, bandit dan para pecundang.

Bagi para wali songo istana kekuasaan bukan sesuatu yang harus ditabukan apalagi di musuhi tapi dipahami sebagai kesatuan utuh politik-dakwah. Pemahaman seperti inilah yang membuat dakwah wali songo sangat berhasil. Bukan hanya aspek sosio-kulturalnya tapi juga kuat pada aspek legitimasi politik. Sebab para wali tidak menempatkan diri sebagai oposisi atau lawan dari negara.

Para wali terutama Wali Songo juga tidak mengambil jarak dengan para raja dan sultan penguasa. Tapi berada di lingkar bahkan pusat episentrum kekuasaan. Aktif mengambil kebijakan dan memberi jalan keluar terhadap persoalan ke ummatan dan kebangsaan.

Tidak jarang para wali berperan sebagai kelompok presure, berdiskusi dan berdebat dengan para kelompok elite kekuasaan. Kadang berhasil kadang juga kalah. Sebut saja bagaimana proses peralihan dari kekuasaan Hindhu Majapahit kepada kekuasaan Islam Demak adalah bukti nyata peran ke cerdikan para wali dalam memainkan politik kekuasaan yang santun bahkan nyaris tanpa perlawanan.

Bagi para wali songo kekuasaan adalah ladang dakwah sebagai media ber amr ma'ruf nahy munkar. Bukan sesuatu yang harus dinafikkan apalagi mengambil posisi berhadapan. Menjadi lawan atas nama nahy munkar.

Pun dengan Kyai Dahlan, beliau tidak mengambil posisi berhadapan dengan Sri Sultan, tetap bersahabat dan berteman dalam kebaikan untuk kemaslahatan orang banyak. Dalam banyak kejadian Kyai Dahlan selalu mendapat support untuk merancang gerakan pembaharuan yang dilakukan, sebuah kerja keras yang tak bisa dikerjakan sendirian.

Sejak mula Persyarikatan yang dirancang Kyai Dahlan ini bukan gerakan oposan atau melawan kompeni dengan kekerasan apalagi mengangkat senjata atas nama jihad. Maka kita tak akan pernah menjumpai Kyai Dahlan memanggul senjata atau clurit untuk menumpas kompeni. Prof Nakmura menegaskan bahwa Kyai Dahlan lebih konsern pada gerakan pemikiran.

Artinya perlawanan terhadap kompeni tidak dilakukan head to head, gerakan fisik saling berhadapan tapi beliau menawarkan pola perlawanan baru berupa gerakan perubahan pembaharuan yang kemudian kerap disebut tajdid. Menurut Kyai Dahlan kekalahan umat Islam di berbagai belahan dunia lebih karena pola pikir jumud. Anti perubahan dan stagnan. Seperti yang disampaikan gurunya Syaikh Muhamad Abduh: Al Islamu mahjubun bil muslimin. Tesis inilah yang diperjuangkan Kyai Dahlan pada gerakan yang digagasnya ini.

Dengan pola pikir semacam itu maka bentuk perlawanan MUHAMADIYAH terhadap kompeni adalah pada pola pikir yang modern dan maju. Islam Berkemajuan itulah yang dikedepankan dalam setiap perlawanan bukan perlawanan fisik head to head.

Muhammadiyah tak perlu larut dengan tren pemikiran oposan dan serba politis yang mulai marak. Termasuk lahirhya aliran-aliran baru yang kecil tapi beringas. Sebab perlawanan yang bernuansa oposan bukan berasal dari watak dasar Muhammadiyah.

Pola pikir : Islam Kemadjoen harus menjadi mainstream arus pikir besar di Muhammadiyah, bukan pola pikir LSM apalagi ormas oposan yang terus melawan. Muhammadiyah adalah Gerakan moderat (Al wasath) dan terbuka terhadap perubahan.

Penulis : @nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar
×
Berita Terbaru Update