Notification

×

Iklan

Iklan

Ada yang Salah Dengan Karakter Anak Era Milenial

Kamis, 26 April 2018 | 21.35.00 WIB
Foto : Penulis (Berkacamata)
Ini budi. Sebelum berangkat sekolah Budi selalu sarapan pagi

Indikatorntb.com - Guru adalah ruh negeri, yang tugasnya menciptakan generasi-generasi yang progresif untuk menjaga dan meneruskan masa depan negara. Ki Hajar Dewantoro dengan pepatah bijaknya “ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” jika kita artikan bahwasannya sangatlah cantik, yaitu seorang pendidik/guru harus memberikan contoh yang baik untuk murid-muridnya atau masyarakat, seorang pendidik harus semangat membangun karakter, jati diri seorang murid, dan seorang guru sebagai motifasi penyemangat seorang murid atau masyarakat.

Zaman yang sudah berbeda, sistem pendidikan bukan lagi mempermasalahkan “budi”. Berbeda halnya tahun 70-90an, pada saat itu guru adalah seorang yang berwibawa, seorang yang dihormati. Guru di era itu benar-benar membangun karakter peserta didik, yang mana adalah selalu menekankan bahwa pendidikn moral adalah penting. Maka tidak heran jika, pejabat-pejabat sekarang yang dulu masa kecilnya masih di ajarkan tentang kepribadian yang benar, beranggapan bahwa ada perbedaan, dan tidak menekankan pada sistem yang rumit. Sehingga sekarang menjadi orang-orang yang besar.
Guru pada zaman itu, tak pernah mengeluh akan profesinya sebagai pendidik, meski tanpa gaji yang belum cukup untuk makan satu bulan. Namun tingkat keberhasilan untuk menjadikan generasi-generasi penerus bangsa pun tidak diragukan.

Berbeda halnya dengan zaman yang dinamai era milenial ini, pendidikan bukan lagi berlomba-lomba menciptakan generasi-generasi yang hebat, pendidik bukan lagi mengajar seperti apa yang harus di ajarkan kepada murid, namun untuk menjadi pendidik saja, harus memenuhi syarat administratif dari pemerintah. Sehingga seorang pendidik/guru di sibukkan dengan urusan-urusan administratif itu. Sehingga apa yang dilakukan seorang guru bukanlah fitrahnya lagi. Maka tak heran, di zaman ini banyak peserta didik yang tak memiliki moral kepribadian yang baik, budi pekerti menjadi hal yang langka di dalam dunia pendidikan.

Seperti beberapa  kasus-kasus belakangan ini, yang sempat menjadi trending topik di sosial media, seorang guru masuk tahanan gara-gara mencubit murid, seorang guru di laporkan gara-gara menjewer telinga murid, yang masih hangat seorang guru muda di bunuh muridnya sendiri. Kasus-kasus ini menggambarkan bahwa seorang guru sudah kehilangan kewibawaannya sebagai seorang pendidik, dan patut dikatakan bahwa generasi penerus bangsa ini krisis akan moral.
Permasalahan lain dalam dunia pendidikan yang juga patit kita perhatikan ialah, kalangan  masyarakat banyak yang bercita-cita menjadi seorang guru, namun jika di perhatikan lebih lanjut, bukan karena kewibawaan seorang guru saja yang diingikan, melainkan seorang guru digaji sangat besar oleh pemerintah apa lagi sudah bersetatus Pegawai Negeri.

Jika kita kritisi bahwasannya, syarat menjadi seorang guru harus menempuh pendidikan perguruan tinggi, maka secara otomatis kita membahas terkait Mahasiswa masa kini. Bagaimana dengan mahasiswa saat ini khususnya kepada Fakultas Pendidikan, tentunya banyak dari kalangan mahasiswa yang juga apatis terkait hal-hal fitrahnya seorang pendidik, dalam perkuliahannya pun hanya hadir untuk mengisi anbsensi kampus, tanpa mengasah keilmuannya dalam mata kuliah yang ditempuhnya. Hal ini lah yang membuat generasi pendidik tidak lagi mempunyai pandangan yang luas untuk menerapkan ilmu yang di dapan sesui dengan karakter pesertadidiknya, melainkan kuliah hanyalah formalitas untuk menempuh keinginan menjadi seorang guru dengan gajinya.

Lalu bagaimana dengan generasi penerus seperti itu? Permasalahan ini tidak bisa diangap sepele karena permasalahan kecil ini akan berdampak besar terhadap kelangsungan masa depan negeri ini. Lantas bagaimana menanggulangi hal ini? Tidak bisa dipungkiri bahwasannya berbagai cara yang sudah di lakukan bahkan sudah di terapkan pun masih belum cukup merubah karakter pribadi peserta didik, kesalahan ini sudah lama, maka hal ini akan sulit untuk di perbaiki. 

Pendidikan moral sudah di ajarkan sejak anak berusia dini, tinggkat Sekolah Dasar di ajarkan sopan santun. Namun dalam berjalannya ke usia remaja, karakter yang sudah dibentukpun masih saja berubah dan tak sesui dengan sikap seorang murid. Apakah akibat globalisasi modern ataukah ada yang salah dalam perjalanan sistem pendidikan di masa kini?. Hal ini perlu di selidiki lebih lanjut agar maslah ini tidak berkembang dan menjadi bom yang mematikan untuk menghancurkan karakter negeri ini, terutama kepada orang tua dari anak, harus memperhatikan betul perlakuan anaknya mulai dari sikap dan sifatnya. Karena pelajaran mengenai karakter yang paling penting adalah dari lingkungan keluarga.

Penulis : Irfan efendi
×
Berita Terbaru Update