| Foto: Screenshoot suasana kericuhan |
Indikatorntb.com - Aksi demonstrasi Puluhan anggota Kesatuan Masyarakat Dompu (KMD) yang berlangsung di depan halaman kantor Bupati Dompu berlangsung ricuh. Sembilan (9) orang massa aksi dipukul dan mengalami luka, Senin (18/10/21).
Pelaku pemukulan diduga berasal dari oknum kepolisian, preman bahkan bawahan Bupati Dompu.
"Ada dugaan dari Kepolisian dan bawahan Bupati dan preman," kata Ahmad, SE Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) kepada media ini.
Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Son Marhaen itu mengecam tindakan premanisme yang dialami oleh massa aksi dan meminta kepada Kapolres Dompu agar segera bertindak dengan menangkap oknum-oknum pelaku pemukulan.
"Saya mengecam tindakan antek-anteknya Bupati Dompu dan meminta dengan tegas kepada Kapolres Dompu segera tangkap oknum-oknum pemukulan terhadap massa aksi," tegasnya.
Kata Son, selaku Korlap, aksi demonstrasi yang mereka lakukan di depan kantor Bupati Dompu dalam rangka menyampaikan aspirasi kepada pemerintahan AKJ-Syah sekaligus menagih janji politik setelah 100 hari kerja.
"Kehadiran Kami di kantor rakyat Dompu atau kantor Bupati Dompu Guna menyampaikan beberapa tuntutan atas janji-janji politiknya 100 hari kerja dan Satu Semester kepemimpinan AKJ-Syah," paparnya.
Segera hadirkan air bersih, stop pelebaran lahan, mendesak Bupati Dompu segera membangun balai latihan kerja untuk mengisi regenerasi pengangguran, segera tetapkan harga pertanian sebelum panen, segera canangkan solusi untuk penerangan lampu jalan, segera realisasikan ambulan, mobil pemadam kebakaran, wujudkan 1000 UMKM, Transparansi Government budget dan kinerja pemerintah daerah, segera bangun Universitas di Kabupaten Dompu untuk meningkatkan SDM adalah tuntutan massa aksi.
Selain mengecam aksi premanisme yang dialami oleh massa aksi dan mendesak Kapolres Dompu menangkap para pelaku pemukulan, Son Marhaen bersama massa aksi juga mengancam akan melaku aksi besar-besaran lagi jika para pelaku pemukulan tidak segera ditangkap.
Furkan/IN