Notification

×

Iklan

Iklan

Kuasa Hukum Dua Pemuda Yang Dituduh Mencuri Sapi dan Dianiaya Polisi Beberkan 5 Kejanggalan

Rabu, 10 Februari 2021 | 14.24.00 WIB

 

Foto: Abdullah, SH.,MH 

Indikatorntb.com - Edy Supriadin (24) warga Keluarahan Kandai 2, Kecamatan Woja Kabupaten Dompu dan Anhar Sahputra (20) alamat Desa Sore Bara, Kecamatan Dompu, Kabupaten Dompu yang dituduh mencuri Sapi dan mendapatkan perlakuan intimidasi disertai kekerasan dari dua oknum polisi Polres Dompu sepakat untuk bangkit dan melawan.


Untuk mendapatkan kepastian dan keadilan hukum atas peristiwa naas yang mereka alami, dua pemuda itu meminta bantuan hukum kepada Abdullah, SH.,MH sebagai kuasa hukumnya. Dengan harapan, kuasa hukum itu tidak mudah di intimidasi dan disogok.


Dengan pertimbangan hukum dan kemanusiaan yang matang, Abdullah, SH.,MH atau yang akrab disapa Doel tanpa keraguan dan ketakutan sedikitpun menerima kuasa dari kedua pemuda itu. Bagi Doel, dalam memberikan bantuan hukum kepada kliennya, komitmen bersama harus tetap dijunjung tinggi sekalipun langit itu runtuh.


"Menurut saya ini tidak boleh dibiarkan, ini soal penegakan hukum dan peri kemanusiaan," ujar Doel.


Oleh karenanya, menurut Doel, setiap warga negara harus diperlakukan sama di mata hukum dengan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah. Namun, bagi Doel apa yang dialami oleh kedua pemuda itu merupakan tindakan yang sama sekali tidak manusiawi, tidak beradab bahkan membunuh kepastian dan keadilan hukum bagi setiap warga negara, khususnya masyarakat di Kabupaten Dompu.


Akibatnya, di Kabupaten Dompu wajah hukum dan penegaknya menjadi buram, kusam bahkan membunuh sejuta harapan masyarakat terhadap tegaknya supremasi hukum. 


"Jangan karena ulah dua Oknum Polisi ini, wajah hukum dan aparat penegak hukum menjadi buram, harapan masyarakat pupus melihat peristiwa ini," ungkapnya.


Berdasarkan keterangan korban dan beberapa saksi serta hasil investigasi dilapangan, Doel menemukan beberapa kejanggalan yang dilakukan oleh dua Oknum Polisi Polres Dompu terhadap kedua pemuda yang dituduh mencuri Sapi itu.


Dituduh Mencuri Sapi Tanpa Dasar


Tanpa didasari dengan bukti permulaan yang cukup, tanpa dasar yang jelas, tidak rasional, terkesan subyektif bahkan memaksakan kehendak, oknum polisi berinisial S dan A bersama dua orsng temannya yang mengaku tim Buser dari Polres Dompu menuduh Edy dan Anhar mencuri Sapi.


Kedua Oknum Polisi itu bersama dua teman lainnya mendatangi Edy dan Anhar ditempat kerjanya lalu membawa kedua pemuda itu secara terpisah, Anhar dibawa menggunakan sepeda motor sedangkan Edy diangkut menggunakan mobil. Sejumlah saksi melihat peristiwa mencengankan itu, bahkan ada yang menduga kejadian itu sebagai adegan "Penculikan" seperti di film-film. Kedua pemuda itu terpaksa ikut dengan pasrah.


"Edy lagi mau makan, belum sempat makan langsung dibawa pakai mobil, sedangkan Anhar dibawa pakai motor," terang Doel meniru keterangan saksi yang tidak mau disebutkan namanya.


Ditangkap Tanpa Surat Tugas dan Surat Perintah Penangkapan


Doel menganggap itu sebagai tindakan seorang penyidik yang sedang melaksanakan tugas, yaitu melakukan penangkapan terhadap seorang yang diduga melakukan tindak pidana.


Namun, tindakan itu sama sekali tidak berdasar dan tidak sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Menurut Doel, harusnya kedua oknum Polisi bersama dua orang temannya sebelum membawa kedua pemuda itu, terlebih dahulu menjelaskan duduk perkara dengan menunjukan surat perintah tugas dan surat perintah penangkapan. Prosedur itu tertuang jelas dalam ketentuan Pasal 18 ayat 1 KUHAP.


"Surat perintah penangkapan mencantumkan identitas tersangka dan menyebutkan alasan  penangkapan dan uraian singkat perkara kejahatan yang dipersangkakan serta tempat ia diperiksa," tuturnya.


Surat penangkapan itu tidak hanya ditunjukan kepada kedua pemuda itu, tetapi juga tembusannya harus ditunjukan kepada masing-masing keluarganya.


Doel menjelaskan, bahwa penangkapan tanpa surat perintah dapat dilakukan dalam hal tertangkap tangan, dengan ketentuan bahwa penangkap harus segera menyerahkan tertangkap beserta barang bukti yang ada kepada penyidik atau penyidik pembantu terdekat.


"Coba baca ketentuan pasal Pasal 18 ayat 2 KUHAP, disana jelas prosedurnya," bebernya.


Doel mengaku bingung juga dengan tindakan oknum-oknum polisi itu. Kedua pemuda dituduh tanpa status hukum, bukan tersangka tapi diperlakukan sebagai tersangka.


Pemeriksaan Ilegal Disertai Intimidasi


Berdasarkan dugaan yang tidak berdasar dan penangkapan yang tidak sesuai dengan prosedur itu, kedua pemuda itu diperiksa. Tapi dengan cara yang seharusnya tidak boleh dilakukan, yaitu intimidasi disertai kekerasan. Kedua pemuda itu dipaksa untuk mengakui atas apa yang telah dituduhkan. 


Awalnya tidak ada seorang keluarga pun yang tahu, kapan dan dimana kedua pemuda itu diperiksa. Mereka tahu dua hari kemudian, bahwa kedua pemuda itu diamankan di Polres Dompu. 


Dalam proses yang katanya pemeriksaan pada hari Sabtu 06 Februari 2021 malam itu hingga Minggu tanggal 7 Februari 2021 malam, kedua pemuda itu sama sekali tidak mendapatkan hak-hak hukumnya, dilarang menghubungi keluarga bahkan tidak diberi minum dan makan.


"Mereka diperiksa dengan cara-cara tidak manusiawi. Dalam pemeriksaan itu, mereka bukan ditanya, tapi dipaksa mengakui perbuatan yang tidak mereka lakukan sembari dipukul," jelas Doel.


Babak Belur Karena Diduga Dianiaya


Hari Minggu tanggal 7 Februari 2021 malam, Anhar dan Edy dibebaskan tanpa kejelasan seperti kejadian penangkapan malam itu. Yang mereka tahu yang membebaskan mereka adalah bos di tempat mereka kerja. 


Pembebasan itu dilakukan setelah mereka mengalami peristiwa yang tidak bisa mereka lupakan, yaitu diperiksa dengan cara dipaksa untuk mengakui perbuatan yang dituduhkan oleh Polisi, tidak hanya mulut yang bicara, tetapi tangan dan pantat pistol juga ikut bicara. 


Mereka dipukul, akibatnya Anhar mengalami luka di bagian punggungnya akibat dihantam pantat Pistol. Sementara Edy dengan jempol diborgol, tergeletak dihadapan Anhar lemas setelah dipukul sejak di mobil. Tubuhnya lebam.


"Edy dipukul sejak dari mobil, hingga dirungan saat pemeriksaan. Sementara Anhar dipukul setelah sampai di ruangan pemeriksaan," terang Doel.


Ditahan Tanpa Status dan Surat Perintah Penahanan


Terhitung sejak ditahan pada hari Sabtu tanggal 6 Februari 2021 malam, hingga hari Minggu tanggal 7 Februari 2021 malam dibebaskan. Edy dan Anhar ditangkap, diperiksa dan ditahan tanpa status hukum apapun. Tidak ada surat perintah penangkapan dan surat perintah penahanan.


Menurut Doel, jika hasil pemeriksaan memenuhi unsur Pidana maka Edy dan Anhar akan ditetapkan sebagai tersangka, jika tidak akan dipulangkan. Namun yang terjadi bukan ditetapkan sebagai tersangka, tidak juga dipulangkan hingga Senin pagi. Tidak jelas. 


"Mereka ini statusnya bukan siapa-siapa, bukan dipanggil sebagai saksi bukan juga tersangka, tp sebagai orang yang diduga tanpa dasar," tegas Doel.


Bahkan, dalam kesimpulannya, Doel menganggap Polisi salah sasaran, salah tangkap yang mengakibatkan rusaknya nama, citra dan psikologi korban, bahkan menimbulkan luka fisik.


"Ini jelas salah tangkap," tambahnya


Tidak main-main, selain melaporkan kedua oknum polisi itu kepada Propam Polres Dompu, Doel juga akan melaporkam kedua oknum polisi tersebut kepada polres Dompu atas dugaan tindak pidana penganiayaan.


"Kita sudah melaporkan mereka ke Propam, kami juga akan melaporkan mereka atas dugaan tindak pidana penganiayaan," tutupnya.


Furkan/IN

×
Berita Terbaru Update